Si Pawang Keyboard

keyboard

I’m coming.
Sesungguhnya saya pulang untuk menontonmu beraksi di atas panggung sederhana itu. Saya ingin menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana jemarimu dengan lihai memainkan tuts keyboard dan menyihir semua penonton menjadi patung. Bahkan angin pun membeku karena terpaku melihatmu. Panggung itu saya pastikan lebih memukau dari pertunjukan sulap. Penuh daya tarik seperti magnet. Kamu. Sesungguhnya saya pulang untuk menontonmu beraksi di atas panggung sederhana itu…

Malam itu saya hanya sempat menyapa ‘Hai’ saat kamu terburu-buru pulang untuk membersihkan tubuh dari sisa keringat. Tepat setengah delapan saya ada di panggung setelah saya prediksikan punya waktu setengah jam untuk bercakap-cakap denganmu. Namun tidak berjalan sebagaimana mestinya, sedang pukul delapan kamu harus melakukan gladi bersih untuk pertunjukan esok paginya. Pertunjukan yang sesungguhnya ingin saya lihat.

Esoknya saya tidak datang. Dan saya punya alasan kenapa tidak datang. Suatu hari nanti entah dari mulut saya sendiri atau tidak, kamu akan tahu kenapa saya tidak datang. Saya kira, keberadaan atau ketidakberadaan saya disana bukanlah hal penting. Saya hanyalah satu dari banyak pengagum jemarimu yang lincah itu. Namun ketidakberadaan saya rupanya dua kali kamu ingatkan dengan bentuk kalimat yang menyatakan ‘sayang sekali’. Pertama lewat comment. Kedua lewat sms. Saya menyesal tidak melihatmu memainkan keyboard itu. Sedang—sekali lagi—kepulangan saya sesungguhnya untuk memenuhi undanganmu.

‘tidak jadi menonton..’
Bayangkan kamu menulisnya dua kali dalam sehari (seperti minum obat) dan kepala saya langsung pusing saat membacanya. Tiba-tiba saya jadi melontarkan pertanyaan klise ‘Kenapa waktu tidak bisa berputar?’ sambil memegangi kepala saya. Untungnya, sms beruntun yang datang berikutnya tidak menambah kepala saya makin pusing. Tiba-tiba saja kita hanyut pada pembicaraan tentang Emilliana Torrini yang membuat saya mabuk kepayang dan membuatmu terbengong-bengong. Saya terus bergumam ‘why should we take it easy yeah..’.

Semarang, 1 Desember 2008
Sambil download lagunya Emiliana Torrini

Advertisements

One thought on “Si Pawang Keyboard

  1. hai…sayang sekali ya..??
    padahal keberadaan seseorang disisi kita lebih menguatkan karena berdua lebih baik daripada seorang diri…
    sayang sekali, tidak jadi menelepon eh..menonton.
    jadi pulang pati, liat temen2 ku show..??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s