Sebuah Kendaraan

Mulai malam ini, saya tak punya lagi kendaraan yang membawa saya mengunjungi lahan luas penuh bebatuan dan ilalang. Kendaraan saya telah pensiun dan butuh banyak pertimbangan untuk akhirnya menjadikannya sebuah benda tak berguna. Hanya untuk dipandangi. Hanya untuk disentuh saja. Kendaraan saya itu, sebuah gigi geraham yang berlubang yang tidak perlu bensin untuk membawa saya jalan-jalan.

Ditengah jalan saya menangis. Mulai malam ini saya resmi mengingatmu lagi. Tentu saja ingatan yang sehat. Keputusan untuk menanggalkan gigi geraham berlubang itupun bukan diambil dalam waktu sehari dua hari saja. Tidak mudah memutuskan untuk berhenti melarikan diri. Dan saya ingin menjadi manusia sehat lagi. Saya tidak ingin merasa tersakiti lagi olehmu. Saya juga tidak ingin menyakiti diri sendiri.

Untuk sekali ini saya ingin mengenang gigi geraham yang berlubang itu. Barangkali pernah saya ceritakan sebelumnya tentang gigi geraham dengan lubang yang bisa dijadikan tempat bersembunyi semut-semut atau bersemayamnya sebutir kacang hijau. Lubang itu selalu membuat saya sibuk. Tusuk gigi yang selalu tersedia di meja adalah kunci untuk menggerakkannya. Setelah itu saya akan bepergian sejenak, meninggalkan gelisah disekitar saya.

Kendaraan itu membawa saya mengunjungi lahan luas yang penuh bebatuan dan ilalang. Disana saya hanya akan duduk terdiam, melamun, dan tertidur untuk bermimpi. saya tidak memikirkanmu barang sedetikpun. Hanya ada awan-awan putih yang berarak dari Timur ke Barat. Bila tangan saya lelah menopang kepala, saya akan pulang kembali ke rumah. Lalu saya ucapkan selamat tinggal pada kendaraan saya itu. esok hari kami pasti berjumpa lagi, disaat semua penghuni bumi telah terlelap tentunya. Begitulah, bahkan untuk melupakanmu barang beberapa detik saja, saya harus bepergian jauh dengan kendaraan saya.

Sekarang saya tak punya kendaraan lagi untuk bepergian. Dan saya tahu segala konsekuensi baiknya. Saya pasti akan lebih sehat dari kemarin. Saya tak perlu jalan-jalan lagi, karena saya tidak ingin melupakanmu. Saya ingin mengenangmu dengan sehat.

Semarang, 12 November 2008
Perjalanan pulang yang menyesakkan.

Advertisements

3 thoughts on “Sebuah Kendaraan

  1. saya juga sebenarnya ingin mencabut gigi saya yang berlubang. selalu keluar darah saat gosok gigi.
    tapi gigi kok disebut kendaraan to, kamu memang kreatif jeng.

  2. kalau ingin mengenangku dengan sehat, kenapa harus merasa kesakitan dan selalu berdarah ketika menggosok gigi??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s