Rumah

Bangun terlalu pagi, beritual sebagaimana mestinya, membuat secangkir susu coklat panas, menyapa embun pagi, bersekolah, bekerja paruh waktu, minum pappermint tea bersama teman-teman, pulang dalam keadaan puas, mandi air hangat, dan merebahkan diri di tempat tidur. Itulah bercak-bercak kesendirian yang saya bangun setahun terakhir ini. Tidak ada yang menyedihkan buat saya. Saya bangga jadi perempuan yang dianggap kebanyakan laki-laki ‘terlalu’ mandiri. Saya tidak harus menyusahkan orang lain, dan saya punya otonomi atas diri saya sendiri.

Namun kenyataan itu sedang bersiap mendapat serangan dari lingkungan sosial yang melabeli dari saya sebagai seorang ‘perempuan’. Perempuan yang notabene masih dianggap tidak wajar kalau terlalu mandiri dan dianggap bisa membahayakan laki-laki karena terlalu kuat. Saya rasa pandangan itu salah. Setidaknya saya bukan perempuan yang menjebak para laki-laki untuk segera menikahi saya, memelihara saya, dan melahirkan anak-anak yang kemudian saya jadikan kambing hitam untuk menuntut suami saya lebih perhatian. Lingkungan sosial sedang tidak bersahabat pada saya. Terutama tugas-tugas perkembangan yang dijadikan ayah sebagai senjata untuk membombardir saya—anaknya yang dikhawatirkan akan jadi perawan tua ini.

Dan laki-laki dihadapan saya ini sedang mendakwah pada saya sekaligus meracuni otak saya. Laki-laki yang barangkali berharap saya adalah jodohnya. Belahan jiwa. Sigaraning nyowo. Laki-laki yang menjadikan perempuan sebagai berlian dalam rumah. Lalu saya hanya manggut-manggut, berusaha memahami dengan secuil senyum tidak ikhlas.

Saya memang lelah dan ingin menemukan ‘rumah’. Namun rumah yang saya maksud bukan ‘rumah’ dalam artian sebenarnya. Rumah adalah keselarasan yang menghasilkan bunyi-bunyian indah, ruang bereksperesi dan bertumbuh kembang bersama. Rumah adalah tempat untuk pulang dan merebah dimana saya tidak harus menjadi orang lain. Rumah bukan tempat menghamba, bukan tempat yang menyerupai penjara dengan dinding-dindingnya yang lembab di malam hari. Rumah bukan sesuatu yang dibangun dengan pondasi kekhawatiran dan tergesa-gesa.

Dan rumah adalah engkau yang jadi cermin untuk diri saya..

Advertisements

5 thoughts on “Rumah

  1. I miss it but I want to run from it.
    It’s fake but that’s I came from.
    That’s why I full of bullshit.
    Making world of my own.
    Fake world so I can live comfort without this unpleasant feeling

  2. inih dari lagu yg represent saya sekali nih…

    I need a place
    That’s hidden in the deep
    Where lonely angels sing you to your sleep
    Though all the world is broken

    I need a place
    Where I can make my bed
    A lover’s lap where I can lay my head
    Cos now the room is spinning
    The day’s beginning

    hehehe… exceed expectation, i found it in him…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s