Tentang Embun dan Malam

Embun. Begitulah aku memanggilnya. Ia mengingatkanku pada tetes-tetes embun pagi yang berjatuhan dengan lirih. Ia sebening itu. Sesejuk itu sampai aku tidak ingin melewatkan kehadirannya barang beberapa detik saja. Embun. Sekali lagi, begitulah aku memanggilnya.

“Apa kabar anak-anak itu?” Embun terpaksa harus berbagi kursi denganku.
“Baik, Mbun. Tapi aku sedang ingin menikmati hujan, aku tidak ingin membicarakan mereka” kataku.

Embun tersenyum simpul dan melipat kedua tangannya. Ia biarkan aku menatap hujan yang makin lebat itu. Sedang ia sendiri larut dalam tatapan kosong. Kami yang sama-sama suka berdiam diri tampak seperti dua arca yang berdiri tegak di depan rumah untuk menakut-nakuti anak kecil. Begini saja sudah cukup buatku. Duduk dengannya, memandangi hujan, mengagumi tubuh-tubuh yang kebetulan lewat, dan menyantap makan malam yang kami pesan dari penjual nasi goreng di seberang jalan.

Tak ada yang menarik dari pertemuan kami yang selalu terjadi di malam hari itu. Embun selalu mengusir jauh-jauh letihku, ia tempatku berbagi kesepian juga bimbang. Bersamanya, tak perlulah jadi begitu bijak seperti harapan dunia. Tak ada yang perlu dicemaskan akan kehilangannya atau tidak.

“Kamu sungguh mengingatkan aku pada Malam” kataku. “Malam yang begitu dingin dan bisu, namun tidak sejernih dirimu”

Embun bisu. Ia barangkali sibuk merangkai-rangkai kata untuk menimpaliku, namun tidak ada secuilpun kata yang keluar akhirnya. Berlanjutlah aku bercerita tentang Malam yang pernah menghangatkan hidupku. Malam yang penuh amarah juga dendam akan hidup. Malam yang selalu sakit dan upayaku untuk menyembuhkannya. Malam yang kusayangi seperti aku menyayangi diriku sendiri. Malam yang akhirnya pergi dan membuatku kehilangan diriku sendiri.

“Apa kamu juga merasa begitu bila bertemu Aku yang lain?” tanyaku.
“Iya. Aku sama seperti Malammu”

Hujan belum juga henti. Aku hanyut dalam pesonanya yang bertubrukan dengan bumi. Jalanan mendadak penuh genangan air, seperti menampung airmata. Kulihat Embun juga hanyut. Sekilas, dari samping ia tampak jauh lebih dewasa dari usianya. Barangkali karena beban hidup juga. Tapi, tak kupandangi ia terlalu lama. Biar tak ada yang tahu kalau dia begitu memukau.

Tak lama Embun pun mulai mengoceh tentang apa saja yang ia rasakan. Aku suka mendengarnya. Ia seperti mendongeng padaku agar aku bisa terlelap. Sesekali tawanya pecah. Tawa yang jarang sekali kulihat karena ia lebih sering tampil dingin. Ah. Apakah Malam juga sedang bercerita disana? Duduk berdua dengan perempuan seperti aku? Lalu berbagi gelisah seperti aku dan Embun?

“Mbun, aku ingin pulang” gumamku. “pada Malam..”
Barangkali Embun tidak mendengarnya karena suaraku yang amat pelan itu dikalahkan irama hujan. Dan kubiarkan diriku ini ditikam rindu yang begitu ngilu. Rindu pada Malam.

Semarang, 04 November 2008
Bersama Embun yang mendata ingatan tentang Malam

Advertisements

2 thoughts on “Tentang Embun dan Malam

  1. Embun selalu hadir ketika malam yang beku berlalu, kehadirannya mungkin takkan pernah selamanya, karena embun sadar ia takkan pernah mampu menahan hangatnya dekapan sang pangeran mentari. dalam sekejap embun akan pergi tuk meneruskan kisah hidupnya, mengikuti belaian angin yang akan membawanya kesuatu tempat dimana ia akan kembali turun entah sebagai setitik hujan ataukah kembali menjadi embun. namun yang pasti embun selalu berdo’a agar Tuhannya menjadikan kehadirannya selalu menjawab harapan bagi mereka yang selalu menantikan, bukan untuk melukai atau mengurung mereka dalam genangan kesedihan..
    embun tetaplah embun….ia akan selalu mencari samudera tempatnya lebih mengenal dirinya yang sendiri dan berlabuh bersama sesama untuk beberapa waktu. meski untuk itu ia harus melewati banyak persinggahan. embun akan membiarkan dirinya larut dalam titik hujan, meresap di kegelapan sumur, melewati kerongkongan yang haus akan kesegarannya, mengikuti lika-liku jeroan, bahkan ia rela dicampakkan sebagai sesuatu yang hina. karna ia tau, bahwa menyayanginya lebih lama hanya akan menimbulkan sakit yang sia-sia dan bisa-bisa jadi batu ginjal!. dan biarlah ia sirna terbawa arus.
    begitulah embun…dalam derai tawanya selalu terselip sisa luka dan air mata, dalam tawanya ia menyembunykan sakit akibat racun yang takan pernah ada penawarnya dan dalam kebekuannya ia selalu meminta agar Tuhannya selalu menyayangi siapapun yang ia sayangi dan siapapun yang membencinya. begitu percayanya embun pada Tuhannya. karena bagi embun memang Dialah yang lebih tau akan semua hal, Yang Mengetahui bahwa sangat rapuhnya embun; dan karena Tuhan yang Maha Segalanya takkan pernah mengecewakannya..

    “semoga kau temukan kembali malam-mu yang akan selalu menyelimutimu dengan kehangatannya”
    entahlah…………. mungkin malam senin malam selasa malam rabu atau mungkin malamun saja
    😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s