Pulang

Mendadak ponsel dalam genggaman tangan saya bergetar dan mata saya terbelalak kaget. Tumben kamu menelpon selarut ini, disaat saya masih bermanja-manja dengan malam. Kamu bertanya, saya ada dimana. Saya bilang saya masih berdiri di luar, mengobrol dengan beberapa teman. Entah kenapa tiba-tiba kamu memutuskan pembicaraan kita dan membiarkan kepala saya dipenuhi tanda tanya.

Beberapa menit kemudian, malam seperti bisu saat kita berhadapan dengan jarak yang ingin sekali kita singkirkan. Hembusan angin seolah berbisik permisi, saya hampir tidak tahu harus berbuat apa. Barangkali engkau juga. Tak pernah saya bayangkan kita bertemu disini setelah perpisahan itu. Perpisahan yang barangkali terlalu menyakitkan buatmu. Lalu saya memecah keheningan ini dengan menubruk perutmu.

Selanjutnya kita duduk bersisian, berjarak, saling memandang, dan membiarkan mata kita berbicara. Saya telah berubah secara penampilan dan barangkali kamu setuju dengan pendapat saya bahwa saya terlihat menarik. Segala sesuatu yang sifatnya impulsif dan berlebihan agaknya tertahan. Baik saya ataupun kamu, kita tahu diri untuk saling membatasi. Entahlah, tiba-tiba malam itu saya merasa kamu sama seperti sebelumnya, selalu menawarkan tempat untuk pulang disaat saya lelah terbang. Selalu begitu sejak dulu. Hampir empat tahun seperti itu.

Dua kali saya merasa terbang begitu jauh dari rumah, dan kamu selalu jadi rumah saya untuk pulang. Apa artinya ini? Saya tidak tahu dan tidak ingin menduga-duga. Malam ini sungguh sempurna. Dan saya ingin bertanya ‘kenapa kamu tidak pernah mengurung saya dalam sangkar itu dan tetap membiarkan saya jadi burung parkit yang selalu terbang..’

Padahal saya rindu rumah sejak dulu dan pintumu selalu terbuka, namun saya hanya singgah, tidak pernah tinggal. Apakah rumahmu masih hangat, penuh buku, penuh canda, juga penuh aroma masakan seperti dulu? Rumah kecil idaman saya dimana saya bisa bergaya di sudut-sudut ruangan tanpa harus merasa malu. Saya ingin pulang. Terbang sendirian melintasi jagad raya ini terlalu melelahkan..

Semarang, 02 November 2008
Pukul 22.30, diatas jalanan yang tergenang air hujan
Curahan hati seekor parkit untuk fajar

Advertisements

One thought on “Pulang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s