Cerita Tentang Punggung

Apa yang kamu pikirkan saat melihat punggung? Tanya Anda. Barangkali Anda sedang gemas pada saya gara-gara hari ini saya hanya memandangi punggung Anda sebentar saja sebelum masuk lift. Lalu saya menjawab. Nyaman. Kemudian Anda pun berkata bahwa saya benar-benar pecinta tubuh. Saya pun tertawa geli. Entah kenapa, hari ini terus merangsang saya untuk tersenyum. Percakapan-percakapan kita sungguh tidak biasa.

Setelah itu kita membahas tentang makan siang yang tertunda. Tentang Anda yang belum sarapan juga makan siang. Tentang ajakan makan siang. Dan tentang hari apa saja kita dapat makan siang. Oh, tersanjung sekali saya. Rasanya, ajakan ini sungguh berlebihan mengingat saya bukan mahasiswa yang cukup layak duduk satu meja dengan Anda.

Dan hari ini sudah banyak informasi yang Anda dapat dari saya. Anda memberondong saya dengan pertanyaan-pertanyaan ringan seputar diri saya. Alamat rumah, pekerjaan, alamat kos, jadwal kuliah, dan entahlah. Saya baru sadar setelah percakapan kita berakhir bahwa saya tidak tahu apa-apa tentang Anda. Bahwa kesukaan saya pada Anda masih saja seputar punggung. Punggung yang angkuh dan dingin itu. Anda benar, saya memang pecinta tubuh. Kembali saya tertawa geli.

Ada banyak hal tentang punggung yang barangkali tidak akan pernah habis bila kita bicarakan sambil makan siang di kantin. Pembicaraan tentang punggung akan mempertemukan kita lagi pada makan siang berikutnya, begitu seterusnya. Dan lalu apa? Tidak ada. Semua akan kembali pada kekosongan.

Saya menyukai punggung sejak dulu. Punggung siapa saja, termasuk punggung Anda. Punggung adalah tempat istirahat untuk saya dimana saya tidak harus bertatap muka dengan seseorang. Saya tidak harus memahaminya dan begitu sebaliknya, karena memahami adalah bagian paling melelahkan dalam hidup dan lelah itu telah mencapai dasar kecewa. Memandangi punggung tidak membutuhkan banyak energi, begitu mengasyikkan. Kita tetap jadi orang asing yang tidak saling kenal. Sekali lagi, mereka atau Anda tidak harus memahami saya.

Punggung juga mengingatkan saya pada perpisahan yang begitu sepi. Perpisahan yang harus saya lakukan sendiri. Bahkan saat saya butuh dimengerti hanya dengan pelukan ringan, hanya punggung yang saya dapatkan. Punggung menyelamatkan segala suasana dan tidak harus melihat berliter-liter airmata yang saya keluarkan. Lambang ketidakpedulian.

Pungggung juga mengingatkan saya pada seorang anak kecil yang tertidur pulas di punggung ayah atau ibunya. Punggung begitu melindungi mereka, terutama dari angin saat berkendara sepeda motor. Anak kecil yang tidak harus memahami orangtuanya. Punggung bukan hanya lambang ketidakpedulian tapi juga lambang kasih sayang. Bagaimanapun juga punggung selalu punya cerita. Itulah sedikit cerita tentang punggung dari saya. Selamat beraktivitas.

Semarang, 28 Oktober 2008
Sebelum berangkat ke kampus. Have a nice day!

Advertisements

5 thoughts on “Cerita Tentang Punggung

  1. punggung juga mnyimpan banyak kenangan prim, paling ngga buat aku 🙂
    seandainya dia bisa ngomong pasti aku bakalan sedih dan tersenyum bergantian setiap menit
    ah punggungku,memang tepat kau diciptakan di belakang.jika tidak pasti aku tidak akan pernah mau berjalan maju..

  2. nice post..
    meski dingin..
    namun punggung itu slalu membuatmu terpesona
    dengan kedinginannya yang mampu menyalakan geloramu
    kaupun membara menyala gila karenanya
    teroes berjoeang tanteku yang gila
    sampae kau tau punggung itu
    punggung itu sebenarnya kosong

    eh coba bayangkan apa jadinya jika manusia tanpa punggung?
    ah..mungkin manusia takkan pernah diberi tanggung jawab dan beban
    lha meh mikul nggo opo jal nek ga enex punggung…
    hehehe

    sing jelas :
    Dunia ini punggung sandiwara
    na na na….

  3. Gua termasuk orang yang menyukai punggung…bagi gua punggung itu memperlihat keseksian seseorang….

    “makasiii jeng hehehe iya, menunjukkan keseksian org 😀 “

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s