Memborong Kekecewaan

Dia selalu datang padaku untuk membagi cerita tentang pria itu. Pria yang membuat malam-malamnya jadi tidak tenang. Pria yang tidak pernah menawarkan status apapun padanya namun jadi penghuni tetap kamar kosnya yang berada di lantai dua itu. Pria yang menjadikannya tampak seperti perempuan tidak baik dimata beberapa orang. Pria yang kalau kalap bisa berubah jadi setan. Pria yang dengan spontan menyentuh tiap inci kulit putihnya. Dan pria yang menghancurkan hatinya jadi kepingan-kepingan kecil tak beraturan.
Namun malam ini dia memintaku datang.

Kamu dimana? Kesini.. aku ingin cerita. Aku butuh kamu..

Aku yang sibuk dengan dunia maya pun terusik. Tidak biasanya dia memintaku datang. Tidak biasanya dia begitu karena setahuku dia perempuan paling tangguh bahkan disaat situasi yang dirasa orang-orang sulit.

Nanti ya, aku masih di warnet. Sebentar lagi..

Begitu balasku agar dia menunggu. Buru-buru aku berpamitan dengan teman-teman mayaku. Setelah itu, barulah aku meluncur ke tempatnya bekerja. Sebuah coffee shop. Kebetulan hari ini dia sedang tidak bertugas.

Dia sudah menungguku dengan mata sembabnya akibat menangis. Pakaian serba hitam membalut tubuhnya dan membuat suasana menjadi arena perkabungan yang sempurna. Aku memesan pappermint tea hangat untuk mengusir dingin. Sekali lagi kurapatkan jaketku sambil menunggunya bercerita. Namun tak ada sedikitpun kata keluar dari bibirnya. Matanya kosong, tak bercahaya seperti biasanya saat dia menceritakan pria itu.

“Merokok?” tanyaku sambil menyodorkan sekotak rokok yang masih utuh.
Buru-buru dia membukanya, mengeluarkan sebatang, lalu menyulutnya dengan api. Aku menemaninya merokok sambil membiarkan angin malam menari-nari lincah. Hampir pukul sebelas malam.

“Aku melihatnya” katanya.
“Dimana?” tanyaku.
“Disana” Dia menunjuk sebuah rumah makan yang berada di depan coffee shop ini. “dengan perempuan itu”
Aku menghela nafas panjang. Dia mulai terisak kembali sambil terus merokok sampai kuambil rokok itu dari jepitan jemarinya.

“Kamu benar” katanya. “Semua yang kamu katakan benar. Aku menyesal mengabaikanmu”
Aku ikut menangis, tapi dalam hati. Pria itu juga menyakitiku rupanya, karena dia menyakiti sahabatku. Keparat. Lalu apalagi setelah ini? Apakah sahabatku juga akan melewati fase-fase terjal itu? Ah, berat sekali pasti rasanya.

Segala upaya ingin kulakukan untuk membuatnya tertawa. Setidaknya untuk malam ini. Dan bergabunglah kami dengan teman-teman mengelilingi meja, melahap kue chiffon dan berbagi olok-olokan sampai larut. Sampai embun melapisi meja dan mendinginkan minuman.

Saatnya aku berpamitan. Kami berdua berpelukan sangat erat sampai sesak dadaku. Diciumnya kedua pipiku bergantian lalu kami berpelukan lagi seperti saling menguatkan.
“Terima kasih banyak..” bisiknya.
“Hu uh” Mataku mulai basah.

Lalu aku pulang. Sepanjang perjalanan menuju tempat persinggahan aku terus memikirkannya. Takutkah dia menatap pagi? Seperti aku dulu. Rasanya seperti memborong ribuan kekecewaan dan menyetornya pada lubang tak berdasar.

Selamat tidur, sahabatku.

Semarang, 24 Oktober 2008
Untuk: Chonky.. Percayalah, hati bukan tempat untuk menyimpan cinta.

Advertisements

One thought on “Memborong Kekecewaan

  1. selamat bobok juga. sweet dream….
    Untuk: Chonky..Percayalah, dompet adalah tempat untuk meyimpan cinta.
    Hi….Hi….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s