Hujan

Aku.
Dedaunan itu jatuh dengan gemulai seperti tak ingin benar-benar terlepas dari ranting. Seperti ingin mengucapkan salam perpisahan atau sekedar menitipkan pelukan ringan. Perlahan gerimis pun merinai ditemani berisik angin yang mendendangkan lagu pilu. Bumi dipijaknya dalam keadaan basah kuyup dan kesepian. Perpisahan dengan ranting rupanya menyisakan kesendirian tak berkesudahan. Barangkali memang sudah waktunya berpisah dengan ranting yang tak mampu lagi menahan. Disini, aku yang duduk di sofa biru hanya menghela nafas panjang untuk mengusir sesak gemuruh dalam dada. Gerimis itu akhirnya menjelma jadi hujan yang turun dengan sangat kasar.

Entah kenapa hujan selalu membuatku gelisah. Hujan selalu mengingatkan aku pada antiklimaks. Tahap paling mengecewakan sekaligus sebuah penyelesaian.
“Aku suka hujan” katanya. “lihat itu!”
Mataku mengikuti arah telunjuknya. Apanya yang istimewa?
“Kamu tahu kenapa aku suka hujan?” Dia bertanya lagi. Aku menggeleng sambil mengamati wajahnya dari samping. “Hujan mengaburkan segala suara. Hujan membuat orang lain tidak tahu kamu sedang menangis. Hujan menguatkan kita” katanya.

Aku mengulum senyum dan dia masih berceloteh tentang hujan. Kupandangi tetes-tetes hujan dibawah lampu jalan yang mulai melemah. Iya, dia benar. Bahkan hujan juga menciptakan keindahan dengan membuat lampu jalan sedikit meremang.
“Yuk!”
“Kemana?” tanyaku.
“Kesana” katanya.
“Hujan belum reda benar” kataku.
“Ayolah!”

Saat kami berdua turun ke jalanan, hujan mendadak menjadi deras. Dia berseri-seri sambil mengoceh lagi. Dia benar, hujan mengaburkan semua suara termasuk suaranya. Kutepuk-tepuk bahunya.
“Aku besok pergi” kataku.
“Apa? Aku tidak dengar” katanya terdengar lirih.
“Aku besok pergi” kataku lagi.
“Hah? Nanti sajalah” katanya.
“Aku mencintaimu” kataku.

Kembali dia berseri-seri sambil menengadahkan kedua tangan. Sesak sekali dadaku. Bertahun-tahun aku menahan kalimat itu keluar dari bibirku dan saat kalimat itu meluncur, sedikitpun dia tidak mendengar. Mataku basah airmata dan air hujan. Perpisahan ini begitu sepi.

Dia.
“Aku besok pergi” katanya.
“Apa? Aku tidak dengar” kataku terdengar lirih.
“Aku besok pergi” katanya lagi.
“Hah? Nanti sajalah” kataku.
“Aku mencintaimu” katanya.

Aku mendengar semuanya meski kubilang padanya hujan mengaburkan semua suara. Dan pagi ini aku melihatnya keluar sambil menenteng tas ransel berwarna hitam. Langkahnya tampak berat. Berkali-kali dia memandangi jendela kamarku yang masih tertutup. Ah, kalau saja dia tahu aku tidak tidur semalaman karena tidak ingin membiarkannya pergi sendirian tanpa ada yang menyaksikannya.
“Aku juga mencintaimu” kataku.
Semoga angin menyampaikan pesanku padanya. Lalu airmataku berjatuhan seperti hujan semalam.

Semarang, 25 Oktober 2008
Sabtu malam, bersama hujan yang merinai.

Advertisements

2 thoughts on “Hujan

  1. Aku benci hujan.
    Hujan membuat segala rencanaku hari ini tertunda.
    Sebel banget lampu jadi mati.
    Oh god there is still much to do.
    Anyway.
    Brshhhh…..I……brshhhh……..Love……..brshhhh……….you….brshhhh….too….brshhhh…. babe…..brshhhh……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s