Acara Makan Siang

Tak ada kata yang mampu saya eja tentang Anda sebelumnya. Kita hanya berpapasan seperti dua orang asing di negeri antah berantah. Sama sekali tak ada tatap mata bermakna dan senyum itu hanya saya kulum sendiri. Entah pada siapa saya harus berbagi. Barangkali pada punggung Anda yang tampak begitu lelah karena terlalu lama berdiri tegak. Punggung yang juga begitu angkuh. Sekali lagi, masih tak ada kata yang mampu saya eja tentang Anda sebelumnya. Ketertarikan yang sifatnya ketubuhan, begitu menurut Anda. Lalu saya membela diri karena hanya itu yang mampu saya tangkap. Saya tidak mungkin mengatakan bahwa kotak didepan saya berisi bunga kalau saya belum membukanya meski orang-orang yakin kotak itu berisi bunga. Segala kata yang mewakili Anda yang pernah saya dengar sebelumnya berlalu bersama angin. Saya enggan menahannya sebagai prasangka.

Pada suatu hari kita pernah berada pada satu ruangan untuk mengikuti seminar. Saya lupa seminar apa karena kehadiran saya hanya untuk mendengar seperti apa suara Anda. Dan hari itu saya mendengar Anda bertutur dengan sangat santun tentang sebuah paham yang Anda anut namun tidak saya pahami. Ah, Anda tampak seperti mutiara dalam sebuah kotak kaca yang tak tersentuh. Setelah seminar itu, tak ada yang berubah. Saya masih tidak mengenal Anda dalam arti non-ketubuhan. Kita masih berada pada sebuah gedung bertingkat 5 yang sama, tepatnya di lantai 4. Kita masih sering berpapasan seperti sebelumnya. Berkali-kali saya mencoba menangkap tatapan Anda dan melempar senyum, namun barangkali senyum itu urung muncul karena saya terlalu sibuk dengan detak jantung saya yang mengguncang.

Dan hari itu, kita duduk di satu meja makan kantin kampus. Kita membentuk sudut 90 derajat. Sebelumnya kita dikenalkan oleh seorang teman yang sama-sama kita kenal. Saya menyentuh telapak tangan Anda juga akhirnya namun untuk menyebutkan nama rasanya mulut ini tak lagi mampu membuka. Saya terkunci dalam ketakjuban. Makanan di depan saya tiba-tiba menurunkan selera makan saya yang awalnya setinggi tiang listrik. Mendadak saya hanya ingin mendengar Anda berbicara dengan teman saya. Cukup buat saya hanya jadi pendengar tanpa ikut andil.

Untuk selanjutnya kita mengobrol lewat media. Percakapan itu akhirnya jadi menu makan siang saya sebelum kembali bekerja. Kita membicarakan agama, Tuhan, juga seks. Kita bercakap dengan santun dan tidak menjagokan emosi sebagai penyelamat. Anda benar-benar mengobati rindu saya akan percakapan tentang esensi hidup yang sesungguhnya. Sayang sekali, anak-anak itu sudah menunggu saya. Secepatnya, saya harus kembali bekerja. Dan entah kenapa saya mengamini kata-kata Anda tentang pertemuan kita selanjutnya. “sampai ketemu di meja makan, atau ditempat… apalah itu”. Salam untuk Derrida, kata saya dalam hati.

Semarang, 23 Oktober 2008
Saat istirahat makan siang.

Advertisements

One thought on “Acara Makan Siang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s