Mengukir Kisah Lama

Untuk mengukir kisah ini kembali pada sebidang kayu baru, tanpa mengulang kesalahan penulisan yang selalu saya lakukan membutuhkan waktu yang panjang. Manusia dan sudut pandangnya bahkan membuat dirinya sendiri tampak egois. Lalu saya beranjak dari tempat duduk, menggeser langkah, mendatangi tiap sudut, berdiam sesaat disana, kemudian mendata tiap ingatan. Sekali lagi, mengukir kisah ini kembali pada sebidang kayu baru, tanpa mengulang kesalahan penulisan yang selalu saya lakukan membutuhkan waktu yang panjang. Banyak sekali yang harus tertanggal dari dalam diri. Egois. Sakit hati. Dendam. Sumpah serapah. Dan ‘cinta berlebihan’ itu sendiri.

Saya mencintaimu. Ribuan kali akan saya katakan ‘saya mencintaimu’. Namun cinta itu seperti air, selalu berubah bentuk mengikuti tempatnya. Bila terlalu banyak dituang, akan tumpah. Dan bila terlalu sedikit lama-lama makin susut dimakan hawa panas. Saya terlalu banyak menuangkan air kedalam cawan kecil milikmu hingga akhirnya banyak yang terbuang karena kamu tidak membutuhkan air sebanyak itu. Saya tanggalkan egois dalam diri. Dan tak lagi saya tanyakan ‘Kenapa kamu menyakiti saya? Kenapa kamu melakukan semua ini pada saya’. Kamu tidak pernah menyakiti saya. Saya sendiri yang terlalu banyak menuang air.

Saya mencintaimu. Ribuan kali akan saya katakan ‘saya mencintaimu’. Namun perpisahan sendiri sudah ada jauh sebelum kita tahu kapan perpisahan itu akan datang. Perpisahan kita terjadi bahkan disaat kita berdua merasa masih saling menyayangi. Saya menghabiskan malam dalam kesepian, barangkali dirimu juga. Namun apa arti bersama bila hanya semu? Saya tidak memaksa kamu memahami semua ini bahwa rasa itu masih sama. Dan tak lagi saya tanyakan ‘Kenapa kamu meninggakan saya?’

Tak takut lagi saya bahwa kenyataannya tak pernah ada cinta untuk saya lagi. Apa yang telah kamu ukir sebelum ini, apa yang pernah kita ciptakan, cukup bagi saya untuk bertahan hidup. Semua tak pernah berbohong, semua yang telah kamu ukir dalam selembar kertas, halaman dunia maya, juga buku itu. Saya masih bisa merasakan hangatnya hatimu dan tak perlu bertanya ‘apakah saya tak pantas disayangi?’.

Saya mencintaimu. Ribuan kali saya katakan ‘saya mencintamu’. Ijinkan saya berada didekatmu saat kamu mati.. Biarkan saya jadi cinta dalam hidupmu.

Advertisements

3 thoughts on “Mengukir Kisah Lama

  1. cerpenmu membuatku teringat kuliah filsafat manusia yang membingungkan. Filasafat yang tercermin di cerpenmu tekanannya eksitensialis atau fenomenologis ya? Yang penting bagimu di cerpen ini mana? Apakah mencintai dan dicintai? atau Mengerti arti cinta sebenarnya? Mungkinkah kita mencinta atau dicintai tanpa tahu arti cinta? Mengingat kamu tipe filsuf yang menuangkan karya dalam bentuk puisi atau cerpen, aku minta jawaban dalam bentuk cerpen atau puisi. aku tunggu yang filsuf nyentrik. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s