Surat dari Ibu-bagian 1

Pada suatu hari setelah peringatan 40 hari meninggalnya ibu, aku menemukan sebuah kotak di lemari pakaian ibu. Pada kotak jelas tertulis bahwa benda warna hitam itu dipersembahkan untukku. Tapi kenapa ibu membiarkannya usang dalam lemari. Ah ibu memang sulit kupahami. Rasa penasaran tak jua pupus. Disisi lain, rasa was-was menari-nari lincah seperti segerombol kunang-kunang. Kubuka juga akhirnya.

Sebendel amplop, berlembar foto-foto yang mengabur, dan beberapa pernak-pernik lain. Melegakan. Setidaknya kotak itu bukan berisi pisau penuh darah yang habis digunakan ibu untuk membunuh atau semacamnya. Melegakan. Dan setidaknya kotak itu bukan berisi perhiasan mahal atau tiket pulang pergi keliling dunia. Melegakan. Melegakan. Kembali kunang-kunang menari diatas kepala. Foto-foto itu semacam bukti bahwa sebuah cerita pernah diselipkan pada buku waktu. Inikah wajah ibu waktu seusia aku? Cantik sekali beliau dan terkesan manja. Aku tersenyum bangga lalu sebutir airmata jatuh. Ibu meninggal dengan tenang setelah minta dibacakan Surat Yasin. Malam itu sehabis solat Maghrib, ibu bilang beliau sangat mengantuk dan meminta ayah membaca Surat Yasin untuknya lalu minta dibangunkan saat solat Isya’. Tapi saat aku membangunkannya, ibu sudah raib dibawa malaikat.

Foto-foto itu jelas foto ibu. Namun siapa pria yang bersamanya. Bukan ayah. Rambut ayah tak selurus itu. Wajah ayah juga tidak sepribumi itu. Dan yang jelas ayah tidak merokok atau memakai kacamata. Pria itu bukan ayah. Aku meraih sebendel surat itu. Kubacai satu persatu dengan rasa ingin tahu yang tak mampu kubendung. Setiap surat tertulis dengan rapi dengan mesin ketik kuno. Pada amplop juga terbubuh seri 1-30 lengkap dengan tanggal pengiriman. Ibu begitu telaten, sama saat beliau merawat aku yang suka membuat onar ini. Surat-surat itu membuat aku iri. Apalagi pacarku tidak pernah seromantis itu padaku. Pacarku tidak pernah mengirimiku puisi-puisi juga memanggilku dengan panggilan sayang. Ah, siapa pria ini? Kenapa aku juga merasa bahagia membacanya? Kenapa aku seperti merasakan sebuah cinta yang aneh.

Kuaduk-aduk kotak itu, kutemukan beberapa keping CD berisi lagu-lagu. Kutemukan puluhan almanak yang dilingkari tiap angkanya. 37 almanak. 37 tahun ibu melakukannya. Aku menangis sejadinya. Siapa pria ini? Apakah dia pria selingkuhan ibu? Lalu aku menemukan sebuah surat bersampul biru yang ditulis ibu untukku tepat sehari sebelum ibu meninggal.

Defrina sayang,
Sampaikan pesan ibu pada pria yang ada dalam foto itu. Katakan padanya bahwa ibu ingin sekali berada disisinya saat dia mati dan menjadi cinta dalam hidupnya. Tapi, ibu ingin mati lebih dulu karena ibu tidak akan pernah sanggup melihatnya lebih dulu mati.

Jaga ayahmu baik-baik. Ibu sangat mencintainya.

Dibawah surat terbubuh alamat pria yang dimaksud ibu. Jauh sekali dari kota ini. Dan aku harus mengeluarkan ongkos ratusan ribu untuk menemuinya. Tapi demi ibu, apa yang tidak kulakukan? Paginya aku minta ijin pada ayah untuk pergi. Dan pergilah aku ke kota itu.

Aku sudah pernah mengunjungi kota ini sebelumnya. Bersama ibu dan ayah tentunya. Kota yang sangat bersahaja, dapat aku gambarkan seperti kakek tua yang selalu modern. Hiruk pikuknya masih sama seperti sebelumnya dan dengan taksi kucari alamat itu saat hari mulai meredup. Pengemudi taksi yang parfumnya wangi itu mengantarku sampai tujuan. Setelah membayar ongkos, aku turun. Mirip sekali aku seperti turis asing. Kaos oblong, celana pendek, tas ransel, sandal gunung, topi, dan kacamata hitam. Wajah blasteranku juga cukup melengkapi kesempurnaan sosok turis asing.

Kucocokkan alamat yang diberikan ibu dengan alamat yang tertulis pada kotak surat yang bertengger gagah di pagar rumah mungil ini. Nyaman sekali rasanya tinggal disini. Rumah mungil dengan halaman yang cukup luas untuk bunga-bunga dan sebuah pohon rambutan. Tapi aku mengurungkan niat. Kutinggalkan halaman rumah itu, dan duduk di sebuah pos ronda yang terletak tepat di depan rumah itu. Penghuni rumah itu pasti kaget kalau tiba-tiba aku datang dan menyampaikan maksud. Bisa-bisa mobil ambulans dari rumah sakit jiwa datang menjemput. Tak lama ayah menelpon dan menanyakan apakah aku sudah sampai. Kami bercakap cukup lama dan tiba-tiba pintu rumah itu terbuka. Seorang pria berambut putih dengan jas warna hitam keluar sambil membawa cerutu. Dikuncinya pintu lalu ia berjalan hendak meninggalkan rumah. Aku senyumi pria itu sambil mengangguk meski handphone masih menempel di telingaku. Pria itu mengangguk tanpa senyum. Mata dibalik kacamatanya layu.

Bersambung ya…

Advertisements

4 thoughts on “Surat dari Ibu-bagian 1

  1. kirain dapat warisan G-string ato sebidang tanah 30cmx30cm say waxixiixixi

    Duh aku ampe bayangkan dirimu pergi naik taksi, pake celana mini, rambut disanggul tinggi sambil sesekali senyum2 sendiri…. woooow pasti … gila waxixixiixi

    cerpen yang mempesona say… aku suka..ku tunggu kelanjutannya yah…

    o iya 1 permintaan hati dunk… make a story about me ^_*

  2. Jeung prima,apakah cerbung ini pernah ada bag 2 ya?TQ

    “haduh, maaf blm pernah ada.. 😀 semoga ada.. makasii ya udah mampir terus”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s