The Story Of Stupid Girl

Dia tetes embun pagi yang selalu datang untuk mengakhiri malam dan membuka pagi. Lenyap begitu saja tertelan sengatan sinar mentari tanpa meninggalkan jejak. Seperti itu juga ia selalu datang dalam hari-hariku beberapa tahun yang lalu. Dia memberiku secuil asa namun tak mengijinkan aku menggenggamnya. Barangkali memahami dia lebih sulit daripada memahami sebongkah bola kristal yang kehilangan penyangga.

Melewati hampir 12 musim yang terus berganti bukan masalah yang mudah. Aku hanya kapal yang bergoyang diatas air yang penuh gelombang. Sesekali aku berharap dapat mencapai dermaga untuk sekedar melepas dahaga yang singgah terlalu lama. Namun, semakin berusaha, rasanya semua jadi tampak tidak mungkin. Aku tak pernah sampai pada tujuan yang sebenarnya. Dermaga hanya jadi sebuah fatamorgana. Ribuan kali aku mengurungkan niat untuk melabuhkan diri juga hati. Sampai mati pun aku rela menunggu dermaga yang kuimpikan. Hanya disana aku ingin berlabuh.

Hanya dia yang mampu membuatku seperti ini. Hanya dia yang mampu membuatku bertahan dalam rasa sakit setelah itu. Semuanya selalu tampak indah bila bersamanya. Kata-katanya adalah gembok untuk mengunci bibirku hingga yang kurasakan hanya hembusan angin yang membuat rambutku kocar-kacir. Bersembunyi di belakang punggungnya membuatku nyaman. Melihatnya dari kejauhan cukuplah bagiku untuk merasakan bahagia. Itukah cinta yang bertahun-tahun memenjarakan hatiku? Membuatku menjadi seorang gadis bodoh?

Dia adalah pria yang pernah mengatakan bahwa aku perempuan terbaik dalam hidupnya. Dia adalah pria yang sering menulis panggilan namaku bila tak ada yang ingin ia bicarakan, kemudian mengucapkan selamat tidur. Dia pernah membuatku sangat bahagia dan tak pernah berharap ingin jatuh cinta lagi. Satu-satunya kata yang terlambat kuucapkan adalah, ‘aku sangat menyayangimu’

Aku tak sempat melakukan apa-apa. Aku hanya gadis bodoh yang terbius pesona tanpa punya niat untuk memperjuangkan cinta. Aku hanya gadis bodoh yang ditertawakan banyak orang karena memikili cinta yang tak berlogika. Begitu naif. Cinta tak berwujud dan meyakininya sebagai sebuah esensi saja sampai seorang ia datang menawarkan bentuk cinta yang lain untuknya.

Aku tak lagi perempuan terbaik untuknya. Dia tak lagi memanggilku dengan mesra. Ia membiarkan aku bertanya-tanya kemana dia pergi. Dan dia membiarkan aku tak pernah tahu apapun. Lagi-lagi dia membuat aku jadi gadis bodoh. Gadis bodoh yang dikasihani banyak orang karena terlalu naifnya. Dunia menertawakan aku dan aku ikut tertawa karena semua tampak lucu dan baik-baik saja. Itulah aku, si gadis bodoh. Sampai malam itu menerkamku.

Malam itu…
Dia mengatakan padaku kalau perempuan itu memikatnya sejak pertama mereka bertemu. Dia amat mencintai perempuan itu secinta-cintanya. Dan demi perempuan itu dia membuatku jadi serpihan-serpihan kristal. Dia melarangku menitikkan airmata. Dia tak memberiku kesempatan untuk membela diri. Dia bilang aku keras kepala. Dia melarangku menulis. Dia ingin aku melupakan seribu kisah kami. Dia ingin aku melupakannya. Dia ingin aku memendam luka. Dia ingin aku mencintai orang lain. Dia bahkan ingin mempertemukan aku dengan perempuan itu. Dia memohon kepadaku untuk merestui mereka. Dia ingin aku diam agar tak ada perempuan lain yang merasa menyakiti aku karena mencintainya. Dan dia marah padaku… Itu kemarahan pertama juga terakhir yang pernah kulihat.

Malam itu juga…
Sebelum ia meninggalkan halaman rumahku, inilah yang kuucapkan, ‘aku tak ingin mengenalmu lagi’

Aku masih mencintai pagi meski tak ingin kulihat embun pagi. Dia membawa seluruh hatiku untuknya tanpa sisa. Ia merusak semua konstruksi. La Nausee, begitu kata Sartre. Rasa mual yang berkepanjangan. Aku adalah gadis bodoh yang mati rasa. Aku masih tersenyum. Aku masih tertawa, tanpa tahu apa yang sebenarnya kutertawakan. Aku benar-benar tak pernah tahu keadaan macam apa yang kuberi senyuman. Barangkali aku gila. Lama aku mencoba menatap jejak-jejak langkah kita tanpa harapan.. Memahami betapa indahnya hari tanpa keinginan untuk kembali menoleh kebelakang.

Sejak kurang lebih 3 bulan yang lalu…
Dan terima kasih atas doamu…
Aku menemukannya. Satu-satunya pria yang bisa mengalahkanmu. Satu-satunya pria yang tak pernah bisa kau tandingi. Satu-satunya pria yang membuatku jatuh cinta lagi setelah sekian lama aku lupa bagaimana rasanya jatuh cinta. Satu-satunya pria yang meluluhkan aku. Satu-satunya pria yang membuatmu tak cukup layak untuk menjadikan aku sebagai gadis bodoh.

Selamat tinggal si gadis bodoh, selamat datang cerita untuk dunia…

Untuk dia yang pernah menorehkan bahagia juga luka…

Advertisements

One thought on “The Story Of Stupid Girl

  1. Gadis bodoh dan La Nausee.
    Konsep Eksistensialisme yang menarik.
    Tapi gadis bodoh tetap akan bodoh, karena La Nausee akan datang kembali setiap pria bodoh pergi dari hidup gadis bodoh.
    Ini bukan soal pria bodoh versus pria bodoh lainnya.
    Atau memang ini eksistensi dari La Nausee seorang gadis bodoh, hidup dalam dunia yang penuh pria bodoh yang datang dan pergi.
    Tapi gadis bodoh tidak bodoh.
    Cuma agak Blo’on dikit. hahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha……..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s