Sweetest Goodbye

Hasil scan otak yang terbungkus rapi dalam amplop coklat itu masih kupegangi dengan canggung. Ada wilayah abu-abu disana. Lumayan besar. Dan aku masih tak percaya dengan vonis yang baru saja kudengar sejam yang lalu. Kini aku punya teman. Benda asing yang ingin membunuhku itu menempel seperti parasit dalam kepalaku.

‘aku masih ingin hidup, Re’
‘kamu akan baik-baik saja’
‘jangan menghibur. Aku tahu hidupku nggak lama lagi’
‘kamu ngomong apa sih? Hidup di tangan Tuhan’

Rere benar. Semua ditangan Tuhan. Hidup. Mati. Jodoh. Semua ada di tangan Tuhan. Aku senyum kecut. Dunia ini mempermainkan aku atau aku yang begitu bodohnya sampai-sampai membiarkan hidupku dipermainkan?

Akhirnya aku melewati sebulan ini dengan obat dan rasa sakit yang dahsyat. Rere tak pernah pergi dari sisiku. Dia yang membuatkan aku sarapan tiap pagi. Kentang rebus dan susu. Kemudian pukul setengah delapan dia akan mendorong kursi rodaku menyusuri jalanan perumahan agar aku bisa merasakan hangatnya sinar matahari pagi yang mengingatkanku pada seseorang. Setelah itu dia akan pergi bekerja. Rere bekerja setengah hari di sebuah toko buku sebagai kasir. Selama ia pergi, aku hanya menulis sambil berjaga-jaga bila rasa sakit datang menyerang. Siangnya dia membawakan aku sayur-sayuran organik dari supermarket, membuatkan aku sepiring ca kangkung atau salad kemudian di meja makan kami akan mengobrol seputar buku-buku baru di toko bukunya.

Di sore hari, kadang-kadang ia mendorong kursi rodaku menyusuri taman perumahan atau melihat pertandingan sepak bola di lapangan dekat rumah kami. Setelah itu dia membawaku pulang dan membiarkan aku duduk sendirian di dekat jendela kaca besar sambil memandangi matahari yang beranjak pergi. Rere memasak makan malam buatku dan menyiapkan obat-obatan yang harus kutelan paksa. Setelah semua selesai ia membawaku masuk ke dalam kamar dan bersiap untuk berangkat ke LizzCoffeeShop—tempat kerjanya di malam hari. Rere tak punya waktu cukup untuk tidur karena pukul satu dia baru sampai di rumah. Aku sering melihat kantung mata menghitam, namun ia tak pernah berhenti tersenyum bila melihatku.

Selama Rere pergi, aku kembali menulis. Entah apa yang selama ini kutulis. Puisi. Cerpen. Novel. Skenario. Surat. Atau apa, aku tak pernah peduli. Sejak parasit ini datang dalam hidupku, aku tak lagi produktif dan rela dipecat kantorku dengan alasan pemulihan kondisi kesehatan. Rerelah yang menanggung seluruh hidupku termasuk menebus obat-obatan mahal itu. Rere… Bagaimana aku membayar semua ini?

‘hei, belum tidur?’
‘belum’
‘mikirin apa, ha?’

Rere merebahkan tubuhnya di kasur empuk kami sambil memainkan ponselnya.

‘makasih ya, Re’
‘kamu ngomong apa sih?’
‘aku takut besok pagi nggak sempat mengucapkan terima kasih’

Rere tertawa, kemudian menyuruhku tidur karena dia sudah mengantuk. Tak lama, ia sudah lelap tanpa berganti baju dan melepas kaos kaki. Pukul dua mendadak aku mual-mual. Kepalaku sangat sakit. Aku menggeser kursi rodaku keluar dari kamar menuju kamar mandi. Sakit sekali. Aku akan mati, batinku. Tuhan, jangan ambil aku dulu, pintaku dalam hati.

‘po? Popo?’

Aku dengar suara Rere memanggil-manggil. Namun makin lama makin terdengar lirih. Apakah aku tuli? Pandanganku mengabur total. Seluruh tubuhku basah. Dan aku tak ingat apa-apa lagi.
***
2 month later.
BookStore.
Seorang pria mendekati meja yang dipenuhi buku-buku baru. Sepertinya ia hanya iseng, tak bermaksud membeli sebuah buku. Beberapa kali ia mengambil sebuah buku, membaca resensi di belakang, kemudian mengembalikannya lagi. Tapi, mendadak matanya menangkap sebuah nama. Popo.

‘Garet’
‘oh, Rere?’
‘hei, apa kabar kamu?’
‘baik. kamu sendiri?’
‘yah beginilah, pegawai kecil’ (tertawa renyah)
‘popo apa kabar? Ini bukunya kan?’

Rere membisu. Mendadak matanya berkaca. Kemana pria ini saat Popo berjuang atas dirinya sendiri? Kemana pria ini saat Popo merindukan surat-suratnya? Garet yang malang, gumam Rere.

‘ada titipan buatmu dari Popo’
‘oh ya?’ (matanya berbinar)
‘tunggu ya. kuambil dulu’
‘oke’

Rere menangis di kamar mandi.
‘po, aku menemukannya tanpa sengaja di toko buku. Pria yang sangat kamu rindukan itu. pria yang nggak pernah tahu betapa kamu mencintainya. pria yang pernah jadi matahari dalam hidupmu’
rere mengeluarkan sebuah CD dari tasnya.
***
Garet’s room.
Begitu CD dimasukkan, semua terbaca.
Popo menyapanya ‘hei, sayang’. Popo sedang duduk di kursi roda, menghadap meja makan, dan memasukkan kentang rebus ke mulutnya dengan paksa. ‘kamu dimana?’ tanya popo dengan mulut penuh. Kemudian ia tersenyum dengan tatapan jenaka.
%$#^&*&^%$
animasi sebuah taman bunga yang dilanjutkan dengan lautan membuat Garet merinding. Kupu-kupu warna kuning beterbangan diatas bunga-bunga tulip, melintas di sepanjang taman, dan menemukan lautan luas dengan air yang sangat jernih. Ikan-ikan seperti berada dalam akuarium. Kupu-kupu pun singgah pada sebuah pulau. Berputar-putar di atas sebuah botol yang didalamnya terdapat sebuah surat. Garet menekan tanda ‘klik’ pada botol.
%$#@^&^%*$
Sayang, barangkali saat kamu baca surat ini, kamu tak akan pernah melihatku lagi. Lihatlah ini (sebuah scan otak melintas), ada parasit menempel. Hem, memangnya aku inang? Menyebalkan.
Sayang, kapan pulang? Waktuku tak banyak. Aku ingin menghabiskannya denganmu. Aku ingin kamu bersamaku. Sayang, inilah janjiku dulu. Aku tak akan membiarkanmu mati lebih dulu karena aku tak akan sanggup kehilanganmu.
Sayang, aku menyayangimu.. sangat bahagia bersamamu… pulanglah… jaga diri baik-baik.
^%$#@$#@%^
selembar foto popo yang menancap pada pasir. Sedang tersenyum dengan mata berbinar.

Garet membisu. Meraih ponsel untuk menelpon Rere.
‘apakah popo…’
‘dua bulan yang lalu’
Klik! (sambungan terputus)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s