Small Thing…

Titik-titik air merapuh, jatuh ke bumi, dan membuat tanah jadi lembek. Aku duduk di bawah gazebo, sendirian saja, dengan segelas jus jeruk dan sepiring gado-gado. Hari ini penat. Dan tetes-tetes air hujan tak jua membawa gelisahku pergi. Hari ini aku dapat email dari Laila. Seminggu lagi dia operasi, rahimnya diangkat. Musuh kecilnya itu makin lama makin tak bisa diatasi dan operasi jadi jalan satu-satunya. Alternatif lain tak bisa diandalkan dan Laila terlalu lama menunggu. Ia terlalu sabar. Terlalu kuat. Tapi sesungguhnya rapuh. Perempuan mana yang masih merasa lengkap tanpa rahim?

Laila. Dia sahabatku satu-satunya. Orang yang paling mengerti bagaimana aku ini. Teman yang tak pernah pergi saat aku bahagia juga sedih. Seseorang yang selalu tahu apa yang aku rasakan sebelum aku mengatakannya. Pundak yang kusandari saat aku lelah menyangga kepala. Laila. Aku sering menyebutnya soulmate. Tak ada yang seperti dia.

Laila. Bagaimana aku bisa membiarkan diriku sendiri bersenang-senang sedang ia dalam penantian keputusan akan kehidupannya di masa yang akan datang? Dia bilang, hidupnya tak mampu mencipta rencana. Buatnya cinta jadi bertambah rumit. Dan satu-satunya hal yang bisa ia lakukan hanya menikmati hari dan bersyukur begitu malam datang. Hidup yang teramat sederhana namun ternyata itulah esensi dari hidup. Laila, aku merindukannya.

Sekarang kami terpisah ratusan kilo. Harusnya saat ini aku duduk berhadapan dengannya, mendengarkan semua keluh kesahnya, dan berusaha membuatnya sedikit melupakan musuh kecilnya itu dengan sebuah kelakar. Ia suka leluconku.

“Tolong bil-nya” kataku pada seorang pelayan yang kebetulan lewat.

Tak lama pelayan tadi menyodoriku selebar kertas. Dua puluh ribu. Mahal sekali, batinku. Namun kukeluarkan selembar uang dua puluh ribu dari dompet dan kusodorkan pada pelayan tadi. Hujan mereda. Langit kembali terang namun matahari tak juga muncul. Sekilas kusambut hadirnya pelangi. Udara dingin membuatku merapatkan jaket dan bersedekap sambil berjalan menuju jalan raya. Beberapa angkot penuh sesak. Aku malas menghentikannya dan menolak mentah-mentah ajakan kernet yang terdedengar seperti rayuan. Dua kali aku bergeser begitu kernet-kernet itu menyentuh punggungku. Kesempatan dalam kesempitan. Seperti tak pernah melihat perempuan cantik saja, umpatku.
Kulirik jam tanganku. Masih pukul empat.

Dari kejauhan sebuah bus melaju dengan santai. Lengang. Hanya ada beberapa orang yang duduk berpencar-pencar. Aku naik begitu bus itu berhenti. Perjalanan sampai ke rumah memakan waktu satu jam. Lumayan untuk tidur sebentar. Sayang kantuk tak juga datang. Dari balik kaca bus akhirnya kupusatkan perhatian pada kegiatan di sepanjang trotoar. Ada seorang penjual nasi goreng mendorong gerobak dengan santai. Beberapa orang turun dari mobil di depan toko sepatu. Barangkali mereka mengantar anak-anak mereka membeli sepatu. Aku jadi ingat kalau ini tahun ajaran baru. Di sebuah halte, bus ini berhenti, namun tak mengangkut penumpang. Sepasang muda mudi berseragam putih abu-abu tampak asyik ngobrol dan tidak tertarik menaiki bus ini.
Tak lama kemudian, sebuah sms masuk. Dari ibunya Gitasalah satu muridku di SLB.

Ibu guru, apa tadi Gita buat onar di kelas?

Aku tersenyum dan menulis balasan untuk wanita berwajah oriental itu. Hari ini Gita sangat patuh meski aku masih harus membentaknya untuk membuatnya terfokus. Dia dapat nilai 100 dalam pelajaran Bahasa Indonesia, dan mengikuti bina diri dengan baik. Setelah membalas sms, aku melamun dengan tatapan kosong. Aku ingat murid-murid istimewaku. Anak-anak luar biasa yang membuatku selalu bisa bersyukur dengan apa yang ada dalam diriku sendiri. Hidup sangat sederhana buat mereka. Beberapa dari anak-anak itu terlalu sibuk dengan dirinya sendiri dan tak peduli dengan segala ketotolan dunia. Mereka tak mampu mengungkapkan keinginan karena bahasa menjadi teramat sulit, huruf jadi asing, dan hanya senyuman yang ada. Tak ada kebencian disana. Ambisi dan keserakahan hampir minim dijumpai. Yang ada hanya naluri. Kebebasan. Juga liar.

“Turun mana, Mbak? “tanya kernet.

Aku tersentak kaget.

“Pom bensin aja, Mas”

Aku beranjak dari duduk, bersiap-siap turun.

“Pom bensin, pom bensin” kernet itu berteriak lantang. Lebih lantang dari pemimpin upacara di hari Senin.

Aku turun dari bus. Udara dingin menyambutku lagi. Kali ini aku berlari-lari kecil menyusuri jalan tikus yang menghubungkan jalan raya dengan rumahku tanpa harus lewat pos satpam. Sampai di rumah, aku dikejutkan sebuah buket bunga mawar yang tergeletak di lantai dekat pintu. Ada titik-titik air di sana. Sepertinya buket ini baru saja diletakkan. Disampingnya ada kotak dengan pita mungil diatasnya. Aku memungutinya dan membawanya masuk.
Kue blackforest kesukaanku. Aku mencomot sebuah cerry dan melahapnya seketika.

Dear Annelis,
Aku mencintai hidup, tapi jenuh dengan kehidupan… hanya sedikit kawan yang mau berbagi umpatan pada dunia denganku. Aku punya banyak kemarahan pada hal-hal yang tidak beres pada dunia. Bagaimana aku mengendalikannya?

Apa aku salah bergaul? Apa aku salah membaca buku? Aku kadang-kadang tidak suka dengan hal-hal yang lazim dilakukan orang.

Sayang, makasih… aku benar-benar nyaman bersamamu dan aku menikmati hubungan ini meski aku masih tak tahu bagaimana membuatmu lebih bahagia. Aku tak ingin menyakitimu lagi, Annelis. Aku rindu matamu…
Annelis, aku kesepian…

Kulipat surat dari pacarku itu. Aku berjalan ke kamar untuk berganti baju dan menghidupkan kran kamar mandi. Setelah itu aku duduk di depan komputer, menulis email untuk pacarku.

Dear pacarku,
Kemarahan pada dunia hanya akan membuatmu jadi debu. Kenapa harus membenci dunia yang ada sebelum kita ada? Kita hanya pemain film, Sayang…

Sayang, kamu terlalu pandai untuk orang-orang awam. Resiko menjadi kaum minoritas tidak sama dengan menjatuhkan setitik darah pada susu yang putih. Sayang, belajarlah bersyukur. Hanya dengan itu segala kebencian akan tergilas. Kamu punya banyak hal bisa disyukuri tanpa harus menyimpan kemarahan pada hal lain. Sayang, kamu bukan orang yang menderita kanker, kamu bukan orang tua yang punya anak dengan keterbelakangan mental, kamu juga bukan orang yang cacat… Sayang, kamu punya ayah yang bangga padamu, kamu punya otak brilian yang tak dimiliki orang lain, kamu punya beberapa teman yang mau berbagi, dan kamu punya kehidupan yang jauh lebih baik dari seorang anak jalanan.

Sayang, kamu tak perlu membuat aku lebih bahagia. Aku sangat bahagia bersamamu. Ini cukup buatku dan aku tak mau memiliki kebahagiaan yang berlebih. Kita hanya manusia yang sering lupa bila diberi banyak kebahagiaan.

Sayang, bila sesekali aku sakit hati dan tidak mengatakannya itu bukan apa-apa, aku hanya tak ingin orang yang aku sayangi bersedih karena merasa menyakitiku. Aku juga rindu… makasih blackforest dan buket mawarnya… sejak kapan kamu romantis, Sayang? Hehehe…

Selesai menulis aku pergi ke kamar mandi, membenamkan tubuh dalam bathtub yang penuh air hangat dan membuat busa sabun. Kucium aroma Lavender. Kucium keheningan. Aku rindu pacarku yang penuh dengan idealisme itu. Pria yang membawaku mengembara dalam lautan aksara. Tiba-tiba ingatan membawaku pada suatu ketika dimana kami menghabiskan waktu bersama sambil mencoba melawan dinginnya udara kota Jogja di malam hari. Makan malam dibawah langit malam, menyusuri jalanan tanpa punya tujuan, ngobrol tanpa topik jelas, mengunjungi teman baiknya, dan berusaha menikmati tiap detik waktu dengan saling bertatap mata

andai ia tahu, dia bukan satu-satunya orang didunia yang merasa disakiti. bentuk rasa sakit atau penderitaan kurasa bermacam-macam. banyak orang yang menderita dan tak sempat merasakan rasa sakit atau kemarahan. ada banyak alasan untuk bahagia asal kita bisa mensyukuri setiap nikmat yang Tuhan berikan. hal-hal kecil yang terkadang terlewat untuk disyukuri. ya, hal-hal kecil…

aku makin membenamkan kepala, menyatu dengan air sabuh yang wangi itu. dan satu yang ada di kepalaku. aku ingin bertanya sebuah hal padanya “bila hari ini adalah hari terakhirmu di dunia, sayang… apa yang akan kamu lakukan?”

untuk kekasihku…
dan terima kasih untuk sahabatku…

Advertisements

One thought on “Small Thing…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s