Simple Love

Langit siang ini cerah, secerah warna biru pastel dalam lukisan anak TK yang dipasang di tembok kelas. Awan putihnya bak gundukan es krim rasa vanila yang biasa kumakan saat hatiku gundah. Burung-burung terbang melintas dengan semangat menuju Utara. Barangkali mencari kota abadi. Disini aku membeku. Di atas kasur, dekat jendela yang memamerkan pemandangan siang hari.

Masih jam setengah tiga. Terlalu dini untuk menghapus tangis yang sedari tadi membasahi pipiku. Alunan instrumental menusuk-nusuk hatiku. Parfum beraroma musk yang kusemprotkan pagi tadi masih dapat kubaui dengan jelas. Kini, yang ada dalam benakku hanya tanya, kenapa?

Aku memikirkannya. Setiap inci tubuhnya. Setiap detik waktu bersamanya. Setiap kisah kami. Bagaimana aku bisa jatuh cinta pada orang yang tak pernah tahu bagaimana cara mencintai tanpa membuatku menangis. Hari-hari bersamanya indentik dengan hari-hari bersama orang lain sebelumnya yang pernah mencuri hatiku bertahun-tahun. Tak jauh beda dan tak kalah sakitnya. Apakah aku ditakdirkan punya cinta yang masokis?

Ia. Barangkali manusia paling kuat dengan segala kompensasi dalam hidup. Ia seorang pria tampan dengan sejuta talenta. Aku menemukannya sebagai sebuah pribadi yang sangat sempurna. Kukagumi ia seperti aku mengagumi Taj Mahal—salah satu tujuh keajaiban dunia. Ia terus menarikku dalam lingkaran yang seharusnya tidak pernah aku masuki. Tapi, adakah wanita yang tidak terjerat? Aku yakin semua wanita akan masuk dalam jebakan yang ia pasang, seperti laba-laba memasung santapannya pada jaring yang penuh magnet itu. Ia Samudera.

Masa lalu mengurungnya. Ia sendiri terjebak dalam rasa sakit yang tak kunjung sembuh. Kehidupannya pedih dalam sebuah topeng yang sempurna. Ia benci orang-orang. Ia selalu merasa kesepian. Ia dilanda ketakutan abadi. Ia rapuh, serapuh bangunan tak berpondasi. Inilah sisi tersembunyi yang tak pernah diketahui orang lain.

Sebuah dunia baru ia bangun mati-matian. Ia adalah fatamorgana. Ia hidup dalam mimpi, dalam dunia yang tak pernah bisa kusinggahi hingga aku terlalu sulit untuk memahaminya. Tak ada media menuju kesana. Tak ada cara, juga jalan. Ia adalah seorang pria dalam sebuah kotak kaca.

Samudera. Ia bilang ia aneh. Aneh dalam hal apa? Bukankah dalam ilmu psikologi ada individual differences? Dia punya hidup sendiri, begitu juga yang lain termasuk aku. Aneh bisa jadi punya padanan kata ‘tidak normal’. Sedang normal sendiri ada karena adanya ketidaknormalan, jadi tidakkah semua itu sesuatu yang wajar?

Kuseka butiran airmata terakhir yang memeleh saat instrumen Is That You berakhir. Dadaku sakit sekali, Samudera. Kalau saja dia tahu aku berusaha menikmati hubungan ini meski ketakutan menerorku habis-habisan. Aku tak ingin masa lalunya mengalahkan aku. Tak cukup besar bagiku. Masa lalu itu hanya berupa kerikil-kerikil tajam yang bersemayam pada sebuah kolam ikan. Aku menggeser pantatku ke kiri, berusaha memeluk lutut, menyandarkan sisi kapalaku pada tembok, dan tetap menatap langit yang belum berubah warna. Aku ingin bertahan untuknya.

Ia sering menangis di tengah malam saat malaikat meniupkan mimpi pada anak-anak kecil yang terlelap. Aku? Aku berusaha jadi tong sampah yang sangat lebar. Aku adalah ruang berkatarsis. Malam itu sangat mengerikan buatnya. Ia dilanda kesepian yang tak berkesudahan. Suara kesunyian berlari-lari mengejarnya, kegelapan memasang perangkap, dan kisah sedih menghajarnya sampai ia babak belur. Apa dayaku? Aku hanya ingin merengkuhnya dalam pelukanku, namun kami hanya bercakap lewat media. Jarak membunuh kami. Anjrit.

Angin sore datang menyambut. Sekarang pukul empat. Aku masih menyandarkan kepala pada tembok, mengawasi handphone yang bertengger di jendela berburu sinyal, dan memikirkannya untuk ribuan kali. Bagaimana pria itu bisa memenjarakan hatiku? Sedang ia memenjarakan hatinya pada masa lalu yang begitu sakit. Masa lalu yang membuatnya tak ingin jadi makhluk yang setia. Masa lalu yang akhirnya menyakitiku. Orang yang dia pikir sangat disayanginya ini.

Dia bisa menjadi hangat suatu saat, dan berubah jadi dingin dalam beberapa detik. Hatinya dihanguskan kemarahan. Terlalu banyak pribadi dalam dirinya. Aku mencoba memahaminya.

“Sayang…”

Begitu dia sering memanggilku dengan suara yang sangat khas. Percampuran antara kemanjaan dan kebekuan hati. Aku terbiasa dengan itu dan akan selalu merindukannya.

“Sayang kamu…”

Begitu dia sering bilang bahwa dia merindukanku. Sekali waktu dia mengucapkannya lebih dari dua kali dengan berurutan. ‘Sayang kamu…’ entahlah. Siapa yang sayang aku. Sejak pertama mengucapkan itu, kata ‘aku’ didepan kata ‘sayang’ raib ditelan misteri. Tak apa buatku, itu hanya formalitas. Tak harus lengkap. Tak harus sama seperti dalam film-film yang mengobral airmata.

Samudera, bisakah aku lebih berarti buatmu dari saat ini? Bisakah kutawarkan pundakku untukmu bersandar tanpa kau harus merasa jahat padaku? Bisakah kita keluar dari lingkaran setan ini? Aku tak ingin menyerah, Samudera. Jangan biarkan aku berhenti di tengah gurun pasir yang tak berair itu.

Waktu berajak, senja datang menjemput malam. Angin sore masih ingin kunikmati sendirian saja. Menangis membuatku lapar. Sayang, aku tidak menyimpan secuil makanan. Maka aku kembali memikirkannya. Sms yang kukirim beberapa jam lalu belum ia balas. Apakah ia juga sedang menangis sepertiku? Apakah dia bersiap untuk mengatakan maaf padaku untuk yang kesekian kalinya dan melakukannya lagi di masa yang akan datang? Samudera, bunuhlah aku. Bangsat kamu!

*

Sebatang rokok ia hisap tanpa perasaan. Secangkir kopi ia teguk dengan kantuk yang tak kunjung pergi. Ia mati rasa. Sedalam apakah luka itu hingga membuatnya kehilangan kewarasan? Perjalanan ini membuat aku lelah, namun masih terlalu pagi untuk menyerah pada musuh yang tak kasat mata itu.

Aku, barangkali tak lebih dari badut yang selalu tersenyum tiap saat. Aku tak mampu seberharga kekasihnya di masa lalu. Waktu membuatku kalah dan mati-matian aku berdamai dengan masa lalunya yang sekelam arang. Lagi-lagi aku berpikir untuk menyerah. Tapi selalu saja aku berkata pada diriku sendiri, ini terlalu pagi untuk dikalahkan musuh yang tak kasat mata.

“Pit, Sipit! Bangun!”

Aku berusaha mengumpulkan nyawa. Berusaha menyatukan mimpi yang lari tunggang langgang. Kekasihnya di masa lalu hampir tiap malam hadir dalam mimpiku. Barangkali hadir juga dalam mimpinya. Bangsat! Aku memaki diriku sendiri yang tak mampu mengunci pintu alam bawah sadarku hingga membiarkan molekul debu masuk ke sana.

“Kamu nitip bubur ayam ato nggak?” tanya salah satu teman kos.

“Nggak, diet nih” kataku.

Sembari mengatur nafas, aku duduk bersila di atas kasur dengan selimut yang menutupi kedua kakiku. Kemarin aku melihat kelelahan di matanya. Beban itu terlalu berat bila ia pikul sendirian. Tak seharusnya dia memerankan tokoh yang sulit itu, tokoh yang tidak ia sukai. Tokoh yang tak pernah ia inginkan perannya. Ingin sekali aku memeluknya dan mengatakan padanya ‘peranku sebagai badut juga berat kok, jadi kamu nggak sendirian’

Kemarin aku juga melihatnya tertidur. Ia seperti bayi mungil yang butuh perlindungan dan kasih sayang. Ia tampan saat tertidur, barangkali setampan ayahnya waktu muda dulu. Laki-laki yang sangat ia banggakan itu. Laki-laki yang menjadikannya inspirasi dan satu-satunya orang yang ingin dia bahagiakan. Oh Samuderaku…

“Pit, Sipit! Ada surat tuh buatmu”

Aku melompat dari tempat tidur segesit kuda. Surat.

*

Dear Sipit,

…aku ingin menyayangimu dengan lebih sederhana. Tidak muluk-muluk. Tidak pula ingin menjadi orang yang setia pada orang-orang yang aku sayangi seperti dulu…

Apa maksudmu?

Kenapa kau menyakiti aku?

Untuk kedua kalinya kau menunjukkan padaku bahwa cinta itu sakit. Kini, barangkali tak ada yang kutakutkan untuk sebuah kehilangan. Barangkali kita tak perlu merangkai mimpi lagi. Kita tak perlu berlindung dalam status in a relationship. Samudera, cintamu itu membunuhku.

Kini aku tak percaya cinta lagi…

*

Langit siang ini masih secerah warna biru pastel dalam lukisan anak TK yang dipajang di tembok kelas. Awan putih berubah jadi arum manis, lebih kasar dan tak selembut es krim vanila. Tak ada burung-burung melintas. Aku membeku di atas bangku kayu yang terletak di bawah pohon beringin. Aku tak peduli sekelilingku, aku enggan beranjak dari posisi ini. Aku tak suka bergerak.

Aku hanya tertarik pada langit biru. Disana aku menemukan cinta, cinta yang tak pernah pergi.

“Sayang…”

Tiba-tiba suara itu mengusikku. Mendadak kepalaku sakit sekali dan aku mengamuk dahsyat. Beberapa pria berbaju putih membawaku ke dalam sebuah ruangan. Mereka mengikat kedua kakiku, juga kedua tanganku pada besi tempat tidur yang sedingin es batu. Dalam hitungan detik aku berada di negeri antah berantah.

Sorenya, seseorang membawaku jalan-jalan dengan kursi roda. Aku tidak mengenalnya. Aku tidak pernah melihat ia sebelumnya. Apakah dia telah berreinkarnasi dari masa lalu hingga aku tak mengenalinya? Kami duduk di bangku panjang di bawah pohon beringin. Dia tidak melihat langit sore seperti aku. Dia sibuk berdoa. Barangkali takut aku mengamuk lagi.

“Sipit, aku sudah lebih baik dari dulu” katanya.

Tapi siapa Sipit? Tak lama kemudian dia pergi meninggalkan bangku panjang. Airmata itu menetes tanpa kuminta.

Langit masih secerah warna biru pastel dalam lukisan anak TK yang dipajang di tembok kelas. Awan menjadi selembut es krim vanila. Seekor burung melintas. Dan aku masih tetap membeku di bangku panjang itu. Cinta memang sakit.

Advertisements

3 thoughts on “Simple Love

  1. HHmmm dek catastrova ini tolong dibenahi yah ejaan katanya. Itu judul kurang simetris, seharusnya membentuk piramida terbalik. Jangan lupa pemenggalan-pemenggalan kalimatnya diteliti kembali yah. Oke sekarang saya kasih tanda tangan dulu tapi jangan lupa besok sudah harus selesai revisinya yah. Nah sekarang dek catastrova silakan keluar biar temen-temennya yang juga mau mengajukan surat permohonan BLT bisa masuk, gantian ya ma temennya.

    Tertanda

    Pak Kadus ra tau Adus
    Mas Adjis Van de Boer

  2. Sakit dan cinta ?
    Sakit itu cinta.
    Cinta itu sakit.
    Apa itu sakit?
    Apa itu cinta?
    Apa cinta itu sakit?
    Apa sakit itu cinta?
    Apa sakit itu wujud dari cinta?
    Apa cinta itu wujud dari sakit?
    Apakah cinta dan sakit itu realitas yang tidak bisa dipisahkan?
    Cinta itu sakit yang disertai cinta yang menyakiti yang mewujud dalam bentuk sakit cinta yang sesakit-sakitnya, sesakit cintanya orang yang sakit cinta????????????

  3. Human simply can’t create love, if there is no love to begin with, don’t ever try to create one.

    Human simply can’t afford love, if there is so much of love to begin with, don’t try to run away.

    “hahahahahha oh Tuhan!! aku lupa aku pernah nulis ini.. ya ampun, berasa gimana gtu pas baca lagi 😀 “

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s