Merindu Malam

Fajar

Barangkali seperti namanya yang indah, ia adalah fajar. Pembuka hari yang ditandai dengan kokok ayam bersahutan dan ilalang yang berpeluh embun. Fajar membangunkan aku dari mimpi panjang, meraih jemari letikku dari ruang gelap yang dinamakan malam, dan menyelamatkan aku dari pekat yang identik dengan sekarat. Ia tunjukkan padaku langit pagi dengan awan-awan putih yang telah dicuri, semburat senyum mentari yang masih malu-malu, dan sejuknya udara yang dihirup alam. Fajar adalah penyelamat hari. Fajar adalah tempat paling indah untuk mengadu bila siang menjadi gelisah dan malam penuh dendam.

Fajar menceritakan padaku tentang dunia yang begitu indah dan damai. Ia lantunkan lagu-lagu yang mendayu dan membuatku membisu. Kami berdansa untuk mengusir galau yang makin lama makin membatu. Adakah yang lebih indah dari fajar? Dan fajar selalu dikalahkan siang. Ia datang hanya sebentar kemudian menghilang oleh kebisingan.
Fajar hadir dalam hitungan menit atau detik barangkali. Waktu menelannya dan menggantinya dengan pagi yang meledak-ledak. Pagi yang menjanjikan harapan dengan matahari selaku penyemangat. Aku terus berjalan meninggalkan fajar. Meninggalkan kedamainan dan dengan setia mengabdi pada hidup yang berputar secepat rotasi. Fajar kini hanya tampak seperti sesuatu yang tak lagi membekas dihati.

Ya, barangkali fajar harus rela termakan pagi yang penuh obsesi tanpa mampu berteriak lantang dan meminta keadilan karena ia yakin esok ia akan datang lagi. Ia selalu berharap aku terkesan padanya karena rupanya ia lah yang paling sempurna. Fajar akan selalu dirindu. Tak ada yang lebih setia dari fajar dan tak ada yang lebih hebat dari ia. Sembari meremas kertas-kertas yang tak berguna, aku menangis. Kuhancurkan ruangan yang tadinya tertata sangat rapi. Aku berteriak ‘ini tidak adil Tuhan’. Kenapa Tuhan ciptakan fajar begitu sebentar, kenapa fajar selalu terabaikan oleh ambisi, dan kenapa fajar tak pernah membawa secuil pun luka untukku.

Tuhan membisu. Ya, akan selalu begitu.
Tuhan hanya membisu karena ia tahu jawaban segala rahasia alam termasuk fajar, termasuk kenapa fajar datang dalam hitungan yang tak lama.

Siang

Siang datang membentang, membakar asa dengan harapan-harapan yang serakah, menggilas apa saja yang tampak wajar menjadi tidak wajar. Siang membuat orang-orang lupa diri karena ia dianggap baik hati. Siang yang gelisah. Ia tak pernah tenang dan tak pernah mengenal dirinya sendiri. Siang ibarat dendam dan pelampiasan.
Siang menunjukkan padaku wajah-wajah kelaparan. Lapar uang dan kehormatan. Ya, semua orang akan kelaparan di siang hari. Orang-orang berlari pontang-panting seperti babi buta. Arghhhhhhhhhh… siang, cepatlah pergi. Aku bosan dengan sesuatu yang tak pernah pada tempatnya. Sesuatu yang memancing amarah juga dendam sampai pada akhirnya mengendap pada dasar alam bawah sadar.

Aku terperangkap dalam ruang dimana aku harus menjadi orang lain. Siang menjadikan aku penipu ulung. Ia samarkan tiap helai keputusasaan dengan lembaran ambisi yang membara. Aku membenci siang seperti aku membenci buah alpukat yang mirip taik bayi itu.

Tunjukkan padaku, Wahai Siang. Adakah sesuatu yang setia? Adakah sesuatu yang tulus? Adalah sesuatu yang indah? Pelecehan emosi, pengkhianatan peran, dan kerja rodi yang lebih tepat disebut pelacuran. Bagaimana tidak disebut pelacuran bila hampir semua orang bertindak untuk menyenangkan orang lain untuk mendapat kesenangan dan mengingkari katahatinya sendiri. Siapa yang salah?

Siang masih membentang. Wajah ini berkali-kali ditampari oleh polusi hingga lebam menghitam. Tak baik untuk kesehatan karena berpotensi menampung kuman-kuman yang mengotori segala aspek kehidupan jiwa. Aku tersungkur karena terlalu cepat berlari. Aku meronta, memohon siang segera hengkang dari pandangan mata. Siang tertawa lantang membuktikan kemenangan. Aku benci siang sebenci-bencinya, bahkan lebih benci dari sekedar membenci alpukat.

Lenyaplah siang.
Lenyaplah karena senja akan datang untuk menyambut malam.
Malam yang menyiratkan keheningan.
Malam yang gagah.
Malam yang sebelumnya tak pernah kurindukan.

Malam

Malam datang dengan sejuta pesonanya. Ia pamerkan bintang padaku. Juga bulan yang kadang menyabit. Meski malam menutupi segala kejujuran dengan warna hitam, namun malam tak pernah searogan siang.
Ialah malam yang menyimpan banyak beban. Ialah malam yang menyembunyikan segala kegundahan, dendam, dan sakit hati dalam kemolekan pemandangan. Malam memang menipuku, tapi aku suka ditipu. Ialah malam yang kokoh dan angkuh karena ia mampu membuat keindahan diatas segala macam sakit hati. Aku mengagumi ia seperti aku mengagumi malam.

Malam kurindu tiap hari.
Ah, akhirnya kutulis surat pada malam. Surat yang tak pernah terkirim.
Malam, maafkan aku karena tak pernah memahami deritamu yang berkepanjangan itu. Kau terlalu sering membuaiku hingga aku pun manja dan jadi egois padamu… Kau terlalu baik padaku, Malam.
Aku ingin beristirahat barang sejenak karena siang yang keparat menguras banyak energi. Aku ingin lelap dalam mimpi-mimpi yang selalu kau janjikan padaku. Aku ingin bersandar pada pekatmu. Malam, apakah aku terlalu banyak meminta?

Surat untuk malam tergeletak begitu saja di bawah kolong tempat tidur yang selalu gelap.
Malam, ia memang tak jauh dari kesan seram. Ia sombong dan keras hati. Tapi berterimakasihlah pada malam yang membuat kita merebah. Malam membuatku tak lagi tidur menjelang pagi. Malam selalu datang berpuisi dan membisikkan kata rindu. Malam menghalau letihku juga tangisku.
Malam rela terjaga untukku. Ya, malam selalu terjaga dalam kegelisahannya sendiri tanpa aku mau peduli. Betapa kejamnya aku pada malam. Aku melukai malam. Ya, aku melukai malam. Aku membuatnya makin pekat, makin membatu, dan makin membisu.

Aku selalu merasa bersalah pada malam. Aku tak lagi bisa tidur lelap karena tatapan matanya yang penuh amarah. Malam marah padaku. Ia buatku jadi insomnia lagi. Kini malam bukanlah tempat yang nyaman lagi. Hariku jadi teramat panjang dan menjemukan.
Lagi-lagi kutulis surat pada malam.
Malam, ini malam ke-70 kau meninggalkan aku. Hari-hariku terasa begitu gelap meski siang telah membentang. Malam, aku sangat merindukanmu. Aku ingin bisa terlelap lagi seperti hari-hari yang telah berlalu. Aku ingin kau memelukku dengan gelapmu, dengan segala macam dendam yang tersimpan, dan dengan berbagai macam bentuk kebohongan yang melekat.

Meski kau tak sungguh-sungguh menyayangiku, aku tak pernah marah padamu karena terlalu banyak yang telah kau berikan padaku. Malam, sungguh aku merindu sampai gila dan aku senang dibuat gila begini olehmu. Oh malam… aku akan menunggu sampai aku mampu terlelap lagi seperti dulu.

Kuakhiri surat untuk malam.
Tak terkirim.
Tak berbalas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s