Malaikat Patah Hati

Saya malaikat.

Begitu kata orang-orang yang pernah melintas di tempat ini. Sayangnya saya tak bersayap karena saya bukan burung. Saya juga tidak langsing karena saya bukan model. Saya malaikat. Malaikat yang sering patah hati karena mencintai dan dicintai manusia. Begitulah.

Malaikat diciptakan dari cahaya. Ia adalah pesuruh dan selalu mengabdi. Perbuatannya selalu baik tanpa punya tendensi apapun. Tidak seperti manusia yang egois. Malaikat begitu altruis. Ia tidak butuh apa-apa selain (barangkali) kepuasan dan kebahagian atas apa yang ia lakukan. Ia telah membebaskan diri dari segala macam pengharapan yang menimbulkan sakit hati dan kekecewaan. Saya malaikat. Begitu kata orang-orang.

Saya harusnya tidak pernah cinta pada manusia yang penuh daya pikat itu. Saya melanggar perjanjian. Tapi saya tetap malaikat. Begitu kata orang-orang yang melewati tempat ini. Saya patah hati karena seorang manusia. Manusia yang akhirnya menyerah pada keadaan. Manusia yang penuh dendam kesumat pada dunia. Manusia egois. Manusia yang merasa tidak mampu membuat malaikat yang begitu baik bahagia. Ya, manusia memang sialan. Terkutuklah ia selamanya karena telah membuat malaikat menangis. Tak pernahlah ia akan merasakan bahagia. Selamanya. Itu kutukan.

Malaikat tetap menjalankan tugas untuk menolong tiap orang yang lewat negeri antah berantah ini pasca patah hati. Malaikat selalu ingin membuat orang-orang tersenyum juga tertawa. Begitulah malaikat, karena kebahagiaannya adalah ketika melihat manusia bahagia. Dan pada suatu hari bertemulah malaikat dengan seorang pejalan kaki yang hendak menuju Timur. Kami habiskan hari bersama, melintasi angkasa raya dengan wajah penuh tawa.

“Hei coba tebak apa yang ada di dalam sini?” tanya malaikat sambil menunjuk tasnya.

“Gerobak bakso” kata pejalan kaki.

Malaikat tertawa cekikikan. Pasti dia terlihat tampak manis (hahahaha… mulai ngelantur ceritanya). Pejalan kaki tampan itu membuat malaikat makin bersinar.

“Hei, you’re truly an angel”

“Hah?”
Ketahuan! Tidak! Tidak! Saya bukan malaikat. Sungguh saya bukan malaikat. Untuk kali ini jangan, Tuhan. Saya ingin dicintai dan mencintai manusia. Sekali saja. Kenapa semua manusia sama? Kenapa mereka memanggil saya malaikat? Saya bukan malaikat. Saya tak bersayap dan tidak bisa terbang. Saya bukan malaikat. Tolong dengarkan saya, wahai pejalan kaki. Tapi, pejalan kaki itu berjalan ke Timur, makin jauh. Entah kapan saya bisa melihat rupanya lagi

Advertisements

One thought on “Malaikat Patah Hati

  1. Hahaha…… Malaikat patah hati atau malaikat kegatelan cowok nih.
    jagan jadi malaikat-malaikat girang lho. Hehehe…… 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s