Maladaptive Denial

Angin tiba-tiba menghardik dedaunan yang berserakan di jalanan saat aku memasuki pekarangan rumah Nje. Rumah mungil di sudut jalan, depan pos ronda itu tampak kosong, tapi tak masalah buatku. Aku punya kunci duplikat. Nje memang memberiku kunci agar aku bisa keluar masuk rumahnya sesukaku. Kuletakkan belanjaanku di lantai kemudian mencari kunci untuk membuka pintu.

Rumah Nje masih rapi namun berhias debu yang bisa digunakan untuk menulis pesan. Entah sudah berapa lama ia tak pulang. Iseng-iseng aku menggambar hati pada kaca meja tamu yang telanjang. Kemudian menulis nama Nje disana. Apakah hari ini dia pulang? Aku ingin memasak untuknya. Ayam lada hitam atau ayam asam manis. Nje tak begitu suka yang aneh-aneh sebetulnya. Nasi goreng dengan telur dadar diatasnya saja ia sudah sangat senang. Tapi, hari ini istimewa.

Kupandangi ruangan ini. Aku dan Nje pernah duduk di sudut sofa itu. Nje duduk bersila sambil membaca buku. Sedang aku pasti disebelahnya untuk mengganggu. Aku tersenyum. Nje tak tahan godaan. Konsentrasinya membaca pasti buyar, kami akan berpelukan sebentar, kemudian dia meninggalkan aku sendirian dan masuk kamarnya. Setelah puas mengganggunya, aku akan pergi ke dapur, berlama-lama duduk di depan meja sambil meracik sesuatu.

‘halo’
(aku terbangun dari lamunan)
‘iya?’
‘apakah rumah ini dijual?’
(aku bengong)
‘tidak’

Pria setengah tua itu akhirnya meninggalkan rumah dengan suara motornya yang memekakkan telinga. Orang yang aneh, pikirku. Tak ada papan apapun yang terpasang disini. Nje juga tak pernah memberitahu aku kalau ia akan menjual rumah ini. Jangan-jangan ia salah satu kawanan perampok yang ditugasi sebagai spionase. Ah entahlah.

Kususuri tiap ruangan. Semua barang-barang Nje masih lengkap. Perpustakaan mininya masih utuh. Perangkat komputernya juga tertutup kain rapi agar tak berdebu. Kamarnya tak bergeser dari beberapa hari lalu saat aku datang kesini. Tak ada tanda-tanda Nje pulang. Kemudian aku mendekati mesin penjawab pesan.

‘halo, saya butuh rumah. Kira-kira harga berapa ya?’
‘ini ibu ina, apakah rumah anda sudah terjual? Saya berminat’
‘alamat rumah anda dimana ya? saya pengen lihat kondisinya’

Hah? Aku makin terbengong. Ada apa dengan mereka semua? Entahlah, aku berjalan menuju dapur untuk membongkar belanjaanku. Kuputuskan untuk membuat ayam asam manis dengan potongan nanas segar. Tapi, lagi-lagi aku terpaku memandangi ruangan ini. Nje tak pernah memasak apapun kecuali mendidihkan air untuk minum kopi. Dapur ini selalu bersih dan aku ingin selalu mengotorinya dengan bermacam percobaan resep masakan baru. Nje tak pernah marah untuk itu.

“Fir? Kau masak apa?” tanya Nje suatu hari.
“Ada aja!”
“Jangan bikin bau gosong lagi ya!” Nje memperingatkan.
“Beres.”
“Oh iya Fir, jangan lupa buatin kopi,”
“Hem.”
**
Seminggu kemudian.
Aku pergi ke rumah Nje lagi. Semalam ia bilang kalau hari ini ia akan pulang, jadi aku harus menyambutnya. Sangat antusias. Aku langsung melarikan mobil ke rumah Nje begitu pekerjaanku di kantor selesai. Sampai di rumah Nje, kudapati beberapa mobil berjajar di sepanjang jalan. Sial, batinku. Aku terpaksa turun dari mobil dan berjalan menuju rumah Nje.

Rumah Nje dipenuhi banyak orang. Aku makin bingung. Kemudian aku dengar orang bercakap-cakap sambil tertawa-tawa.

“Akhirnya mereka menikah dan tinggal serumah ya..”
“Iya. Rumah ini bagus. Mungil tapi sangat nyaman.”
“Murah pula.”

Hah? Aku makin tak mengerti apa yang terjadi. Kemudian aku masuk.

“Cari siapa, Mbak?”
“Cari Nje.”
“Oh maaf, Nje siapa ya? Rumah ini baru ditempati dua hari yang lalu oleh anak kami.”
Hening.
**
Nje xx.xx.xxxx-xx.xx.xxxx
“Rumahmu kenapa dijual, Nje?”
“Trus kamu tinggal dimana, Nje?”

Nje membisu. Ia tak pernah mau berbicara padaku lagi. Barangkali sekarang ia sedang duduk di bawah pohon kamboja itu sambil membaca buku atau merokok.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s