Lubang Pada Gigi

Setiap hari dalam hidup saya, lima menit saya gunakan untuk menggali sisa-sisa makanan yang terjebak pada lubang gigi dengan tusuk gigi. Gigi geraham saya sebelah kanan, nomer dua dari belakang, berlubang. Lubang yang cukup besar karena menurut perkiraan saya, empat atau lima semut dapat bersembunyi disana. Lubangnya tidak simetris serupa setengah lingkaran, tapi lebih mirip lubang-lubang kecil batu karang. Saya kuatir masih ada yang tersisa disana.

Setelah itu saya lanjutkan ritual dengan menyikat gigi dua kali. Saya pastikan bulu-bulu halus sikat menyapu semua yang masih tersisa biar tidak mencipta lubang yang lebih besar atau karang gigi. Begitu nyaman. Entah apa, seperti ada yang hilang. Segar setelah berkumur, saya menengok lubang pada gigi saya lewat kaca. Saya gali lagi dengan tusuk gigi. Saya pastikan sudah bersih.

Begitulah sampai saya menemukan sebuah tulisan di komputer seseorang.

Matamu selalu berbinar ketika melihat tusuk gigi. Entah di swalayan, entah di warung makan, entah di kosanku, dimanapun, sama saja. Tusuk gigi membuatmu mengabaikan aku. Kamu begitu asyik dengan lubang pada gigimu. Lubang yang membuatmu tenang barang lima sampai sepuluh menit. Lubang yang membuatmu berhenti mengingatnya. Lubang yang begitu ironis.

Lalu suatu hari kamu berkata padaku, kamu ingin mencabutnya demi kesehatan. Kamu berniat pakai kawat gigi, tapi sepertinya kamu berpikir dua kali. Kamu teramat mencintai gigi itu karena gigi itu adalah kendaraan untuk meninggalkan ingatan-ingatan sedih yang tiap hari mengganggu pikiranmu barang lima menit saja. Kalau gigi itu diambil, kamu pasti begitu tersiksa.

Apa yang bisa aku lakukan untukmu? Bertahun-tahun aku disini, melihatmu tertawa juga menangis. Aku yang selalu merasa sakit bila melihatmu menangis untuk keparat itu. Aku yang tak tahu harus mengatakan apa setiap kali kamu menelponku tengah malam dan berkata sambil menangis ‘sakit sekali, aku ingin mati, bang’. Aku yang tak tahu bagaimana caranya mengatakan ‘aku sangat menyayangimu’. Kalau saja kamu tahu apa yang aku rasakan selama bertahun-tahun.

Hari ini aku beli sekotak tusuk gigi buatmu, sekaligus tempatnya yang bergambar mickey mouse. Aku sengaja menaruhnya di dekat kaca kamarku biar kamu bisa mengambilnya tiap datang ke kosku. Biar kamu tak perlu mengambil tusuk gigi terlalu banyak di rumah makan. Itu tusuk gigi paling bagus. Kedua ujungnya runcing seperti tombak. Higienis. Halus. Dan bermutu tinggi. Aku ingin tusuk gigi yang masuk dalam lubang selalu bersih. Sebelum gigi itu dicabut, aku ingin menyediakan banyak kendaraan untukmu agar kamu bisa bepergian dari ingatan-ingatan sedih itu. Ingatan yang selalu membuatmu menangis tiap malam. Ingatan yang membuatmu sakit. Sakit yang terlalu parah. Kamu sakit jiwa. Aku takut kamu tidak kembali. Aku takut kamu pergi terlalu jauh.

Saya akhiri membaca. Tiba-tiba sebuah motor datang. Saya duduk sambil memandangi tusuk gigi di tangan.
“Hey, apa kabar lubangnya?”
Saya tersenyum.
“Anter aku pulang. Aku ngantuk” kata saya.
“Halah. Tumben kamu ngantuk. Biasanya juga kelayaban”
“Aku pengen pulang, Bang” kata saya memaksa.
Akhirnya dia mengantar saya pulang dengan motornya. Tak ada yang kami bicarakan selama perjalanan. Saya pandangi punggungnya yang selalu melindungi saya dari angin malam. Air mata saya menetes. Terlalu banyak yang dia lakukan untuk saya selama ini. Dia adalah abang terbaik yang pernah saya miliki. Ingin sekali saya memeluknya tapi tidak saya lakukan. Mungkin benar yang ia tulis tentang saya, saya sakit jiwa.
“Aku pengen cepet-cepet pakai kawat gigi” kata saya sambil meringis. Dia mengacak kepala saya sambil geleng-geleng kepala. “makasih ya, bang”
Dia mengangguk lalu berlalu.

Saya sesenggukan di kamar. Apa benar saya sakit jiwa?

Advertisements

One thought on “Lubang Pada Gigi

  1. Hm….
    Sakit ya ?
    Mungkin itu cara untuk kita manusia untuk merasakan hidup di dunia.
    Orang yang nggak pernah merasakan sakit mungkin akan kehilangan kemanusiaannya, karena dia nggak bisa merasakan sakit orang lain, seperti layaknya dia yang tersakiti.
    Sama halnya orang yang berpikiran sempit dan tidak jujur pada dirinya sendiri, ujung hidupnya mengarah pada dua hal: menyakiti orang lain dan diri sendiri.
    Tapi pertanyaannya siapa menyakiti siapa dalam cerita ini, si abang atau pemilik lubang gigi? Lubang gigi atau tusuk gigi ? Hihihi….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s