It Was A Damn Cold Night

Ia tak pernah memanggilku ‘sayang’ lagi.
Ia tak pernah membalas ucapan ‘I love you’ dengan ‘love you too’.
Ia tak peduli padaku lagi.
Dan ia mematahkan semuanya malam itu.

Malam itu ia biarkan aku membeku, mendekap lutut di sudut kamar, marah, dan menangis sendirian. No friends. Berharap aku tak akan pernah melihat pagi lagi, juga melihatnya. Tak ada yang salah karena memang tak ada yang salah. Dia dan aku hanya berbeda tujuan. Perjalanan hidup memberinya sebuah persepsi yang selalu sama. Luka. Dan ia tak bisa mempersepsikan aku sebagai sesuatu yang berbeda dari biasanya.

Dulu, berkali-kali dia bilang bahwa suatu hari aku akan meninggalkannya juga seperti orang-orang yang pernah melintas dalam hidupnya. Percuma bila aku berkata bahwa aku tak akan pernah meninggalkannya, toh kita semua akan mati. Begitu juga aku.

Lelakiku yang pesimistis.
Ia yang memandang hidup sebagai sebuah penderitaan seperti para filsuf yang mati terbunuh oleh kegilaannya sendiri. Barangkali dia Nietzsche yang mati dua kali; mati akibat kelumpuhan mental dan mati secara ragawi, atau dia penjelmaan Hegel yang penuh depresi kemudian sekarat akibat kolera?

Malam yang selembut roh itu membuat dadaku sakit seperti kena serangan jantung. Sakit yang lebih sakit dari sebelumnya. Sakit tak terdefinisi. Humpf..! Angin malam yang bisu menyapu, menggilas segala sakit, dan menjadikannya tambah sakit. No friends. Lagi-lagi aku berharap esok aku tak mampu menatap matahari pagi yang sangat kusukai. Matahari yang menyelamatkan aku dari mimpi buruk, meraihku dari kegelapan, dan menyentuhku dengan hangatnya. Argh! Kenapa aku membuat diriku sendiri sakit. Ya, tak ada yang sakit bila ia tak membiarkan dirinya sendiri disakiti.

Why is everything so confusing?
Aku tak ingin gila.
Tidak sekarang.
Tuhan, selamatkan aku.

Dan ia datang layaknya peri yang baik hati. Ia tak pandai menghibur, tapi ia menenangkan aku. Ia bilang barangkali lelakiku memang butuh waktu seperti apa yang beberapa menit lalu dia tulis dalam sms. Siapa dia? Entah. Ia menghentikan tangisku yang sederas air terjun. Ia meyakinkan aku esok akan ada kabar baik (barangkali ia juga berdoa untukku).

Paginya.
Tak ada foto-foto terpasang.
Wallpaper kembali gelap seperti sebelumnya.
New message arrived.
Ia memanggilku sayang dan mengucapkan selamat pagi (terdengar sangat menyakitkan).

Aku melihat matahari. Masih selalu optimis karena ia adalah matahari untukku. Lelaki yang menyelamatkan aku dari mimpi buruk, meraihku dari kegelapan, dan menyentuhku dengan hangatnya. Penguasa jagad raya. Aku lupa semalam aku menangis. Aku lupa semuanya. Rupanya tidur adalah obat paling mujarab.

Kuhabiskan hari untuk menyusup diantara buku-buku di sebuah ruangan yang sangat nyaman dimana ada rak tinggi diatas meja hingga memudahkan kita mengambil tumpukan buku-buku yang tersusun rapi itu dan dua pot kecil yang ditumbuhi dedaunan tak familiar. Darmanto Djatman Corner. No friends. Mencoba tak mengeluh pada siapapun karena memang tak ada yang harus dikeluhkan. Tak ada sebab-akibat. Semua yang terjadi hanya runtutan kejadian karena kausalitas hanyalah cara manusia untuk memahami dunianya, begitu kata Kant.

Senja datang.
Anjrit!
New message arrived.
‘met buka puasa, de..’
‘iya, makasih’
sending…
message sent.

Malam kembali dingin. Ingin kuhabiskan dengan tidak memikirkannya sedikitpun karena mendadak aku jatuh cinta pada proyekku yang hampir selesai. Aku ingin pergi jauh setelah ini. Tidak melihatnya untuk beberapa saat. Membiarkan dia terus berpikir dan menemukan ketenangan tanpa pernah terusik olehku.

Aku rindu dia.
Tak terkatakan.
Aku sayang dia.
Tak terkatakan.
Aku cinta dia.
Tak akan pernah terkatakan.
Karena…
(mungkin saja) Dia tak merindukan aku.
(mungkin saja) Dia tak menyayangiku lagi.
Dan (mungkin saja) tak pernah ada cinta untukku.

Aku membeku dalam pelukan malam yang sangat dingin. Tersenyum. Berharap tak bernafas untuk selamanya. Kukirim sebuah pesan.

‘it’s a damn cold night. Selamat tidur. Semoga awan hitam ini segera pergi. i hate to tell the truth. I miss u’
dan sebuah pesan masuk.
‘night.. so do i =)’

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s