Here With You

‘Cuek itu penyakit keturunan, tapi pada bebek’
Aku tertawa lepas setelah seharian cemberut tak jelas.
‘Tapi sayangnya cowok bukan bebek. Jadi kalo ada cowok cuek itu berarti ada sesuatu yang sedang bergumam pada pikirannya’

Laki-laki yang sedang berbicara padaku itu memang sangat ahli membuat orang tertawa. Aku biasa memanggilnya ‘abang’. Secara umur, dia memang tidak lebih tua dariku. Setahun lebih muda dariku. Kami seangkatan. Dan ia ‘master’ dalam kebijakan. Kami ngobrol di koridor lantai dua, di bangku panjang yang kokoh, sambil menikmati desau angin yang menggelitik.

‘Bukankah dia tipe-mu?’
‘Iya’
‘Jadi untuk apa mengeluh?’
‘Sekedar berkatarsis’
‘Oh’ (rokok dihisap sedalam dasar samudera)

Kami duduk berjauhan. Aku diujung kanan, dia di ujung kiri. Namun berhadapan sambil saling memeluk lutut. Dia biarkan aku mengembara bersama kicau burung juga berisik dedaunan yang bergesekan. (sial! Tambah melo) Kabut tipis pelan-pelan menghilang di balik resah.

‘Aku yang aneh, mungkin’
‘Individual differences’
‘Oh iya ya?’
‘Masih berlaku?’
‘Tentu’
‘Diperhatiin ga suka, dicuekin malah protes’
‘Dia hanya lelaki yang berusaha menantang malam. Seperti aku’

Yeah! Memang. Siapa yang egois?

‘Siapa yang egois, Bang?’
‘Aku’
‘Aku?’
‘Iya’

Iya. Semua ‘aku’ adalah egois. Aku tersenyum pada langit yang dikelilingi awan putih. Diujung sana ada anak laki-laki yang menarik ulur layang-layang sambil melawan terik panas matahari. Aku menghela nafas. Mematikan percikan-percikan keegoisan dalam diri sendiri.

‘Aku egois pada dunia’
‘Aku juga, Bang’

No message.
Hari ini masih sepi seperti sebelumnya. Dunia tetap sama. Matahari bergulir dari Timur menuju Barat. Titik-titik embun dipagi hari. Gemerlap bintang membunuh kesepian. Tetes-tetes hujan tengah malam. Juga insomnia. Aku bangkit dari dudukku, kemudian duduk mendekatinya.

‘Aku pengen minum kopi’
‘Sejak kapan kamu ngopi?’
‘Entah’
‘Biasanya juga cendol warna-warni’
‘Suka dadakan’
‘Depresi tingkat rendah’
‘Kata siapa?’
‘Aku’

Aku tertawa kecil melihatnya menatapku penuh selidik kemudian menghempas rokok pada tempat sampah yang hampa. Ditariknya pergelangan tanganku menuruni tangga. Kami menuju kantin bambu di belakang kampus yang tak pernah sepi.

‘Mencari jawaban kegelisahan’ (menguap kemudian bertopang dagu sambil menatap hijau dedaunan)
‘Berlari dari yang tak bisa dipahami, lebih tepatnya’

Ia tertawa kemudian meneguk kopinya dengan gaya yang sangat elegan. Aku meniru tapi tampaknya tak membuahkan sukses. Kepanasan.

‘Kok ga kepanasan sih?’ (protes sambil mengelus bibir atas yang tersengat panas)
‘Konsentrasi. Lepaskan semua. Nikmati’

Sial. Bagaimana ia tidak merasakan panasnya?? Lagi-lagi mengingatkan aku pada ia yang ada di seberang kota. Aku rindu bertelepati. Aku rindu saat-saat aku selalu tahu apa yang ia rasakan dan ia pikirkan. Kenapa aku tak sesensitif dulu? Apakah aku egois? Iya. Aku egois. Aku memikirkan diriku sendiri. Ternyata aku tak memikirkannya. Aku sibuk mencari hakku. Dan bukannya memberi apa yang seharusnya kuberi. Aku terjebak dalam take & give hubungan percintaan dunia.

Tak ada semusim.
Kuharap kami tiba pada suatu masa yang biasa.
Kabut tipis.
Udara sejuk pagi hari.
Hangat sinar matahari.
Semerbak wangi mawar yang merekah.
Aku ingin kami kembali (egois lagi)

Seperti keindahan pelangi yang tak pernah menyentuh bumi. Begitu pula ia. Bagaimana memahaminya?

‘Bang, pesenin aku es jeruk’
‘Mbak, es jeruk satu ya. Nggak pake lama lho…’

Aku tersenyum. No message or anything…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s