Hate To Tell The Truth

You have four messages.
Gaby: ‘kemane aje, lu?’
Abang: (suara berisik, deru motor, suara orang bersin) ‘kalo masih suntuk, ke toko bukunya lain kali aja’
Avi: ‘hei hunny, bunny, sweety, baik-baik saja kah? Wish i was there’
(no name): ‘hei’

Aku mengeluarkan sebotol air mineral dari kulkas kemudian kuteguk tanpa ampun. Setelah kerongkonganku basah oleh aliran air dan rasa haus menghilang, aku melompat ke atas tempat tidur. Sekejap wangi melati menyeruak. Wangi yang kusemprotkan tadi pagi. Lagi-lagi kosong. Hampa. Tak ada yang dipikirkan karena terlalu banyak kata ‘dia’ dalam kepala. Tak sempat bercerita. Berusaha tak mengeluh pada siapapun. Diam. Kosong. Hampa.

New sms… From Avi.
(r u oke?)

Hate to tell the truth.
Termasuk pada sahabat baikku sendiri. Juga orang-orang yang menawarkan pundak untuk disandari. Aku bertopang dagu sambil memandangi undangan warna hitam yang dipenuhi foto pre-wedding itu. Dia menikah. Tepat di usia 21 tahunnya yang kata orang-orang adalah pintu gerbang kedewasaan. Dia pasti tahu.

New sms… From Abang.
(dia blm tentu mikirin itu)
***
Aku tiba-tiba ingat kemarin siang.
Abang adalah orang yang kuajak berbicara di kampus jahanam itu sembari menunggu Gaby keluar dari ruangan eksekusi dengan senyum lebar karena berhasil mempertahankan sebendel kertas. Aku suka ngobrol dengannya. Aku suka caranya mendengarku.
“Capek, Bang”
“Capek kenapa?”
“Capek mikir”
“Matilah kau”
“Oh iya ya? Kok tiba-tiba ngelupain kata-kata Descartes”
Abang tersenyum, kemudian menghisap rokoknya. Dia tak pernah melepaskan diri dari rokok sekalipun ia tahu rokok membuat umur jadi pendek. Ia pasti berdalih kalau rokok membuatnya panjang umur dan aku akan tertawa sambil melirik iri pada rokok yang diam membeku terbakar api itu.
“Aku mikirin dia, Bang”
“Tapi dia belum tentu mikirin apa yang kamu pikirin kan?”
“Iya. Tapi aku yakin dia pasti mikirin hal yang sama”
“Dari mana kamu tau?”
“Feeling aja”
Lagi-lagi Abang senyum. Dia menyulut rokok untuk kedua kalinya selama setengah jam bersamaku. Barangkali sekali hisap, rokok bisa menciptakan sejuta ide dan kreativitas. Abang mengingatkan aku padanya. Tipe-tipe pria idealis-utopis barangkali, bukan pemuja uang, dan tak punya cinta.
“Orang Pisces mati dalam masa lalu”
“Itu kamu”
“Iya, emang. Tapi aku cuman mati suri. Sekarang udah hidup lagi”
“Hidup dalam mimpi?”
“Entah”
“Kamu hanya sedang meracuni pikiranmu sendiri dengan logika-logika yang kamu buat. Ingat, dia bukan kamu”
Aku menyerah kalah. Tapi jujur, kata-kata Abang membuatku tampak konyol.
***
You have two messages.
Avi: ‘hunny, cerita dong. aku udah pulang ni’
Abang: ‘makan mie ayam aja yuk!’
Hmm, sahabatku maaf aku sedang tak ingin berbagi bahkan denganmu yang selama ini selalu ada untukku. Huff. Kubalas pesan Abang lewat sms. Aku bilang aku sedang tidak mood makan mie ayam. Aku ingin minum es cendol. Tapi, tak ada es cendol di malam hari.
Belum ada setengah jam, Abang sudah ada di depan pintu kamarku sambil cengar-cengir. Tangan kirinya menjepit rokok, tangan kanan memegang kunci motor bututnya.
“Makan yuk!”
Aku cemberut—memeluk guling.
“Oke. Kita cari cendol sekarang”
“Serius, Bang?”
“Iya”
Kutelusuri jalanan bersamanya sambil mencari-cari penjual es cendol. Abang dengan santainya mengendarai motor sambil merokok, sesekali bersiul, sesekali batuk-batuk, dan sesekali menunjuk sebuah tempat yang kami lalui. Aku membonceng dengan nyaman, tanpa berpegang pada pinggangnya, tanpa banyak komentar, dan dengan pikiran yang melayang entah kemana.
Barangkali apa yang dibilang Abang ada benarnya. Aku sedang meracuni pikiranku dengan logika-logika yang kubuat dari sudut pandangku sendiri. Mantan pacarnya menikah, dan aku ingin tahu apa yang ia rasankan. Barangkali aku hanya takut dia masih sering memikirkan mantan pacarnya. Argh! Kenapa juga aku ini? ARGGGGGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHH!!
“Tuh!”
“Es cendol!”
“Dasar!”
Abang menghisap rokoknya yang hampir habis dalam-dalam kemudian melempar ke tempat sampah sebelum kami duduk di trotoar. Kunikmati dinginnya udara malam yang menggoda sambil memasukkan es cendol dengan semangat. Mataku basah. Tapi aku ingin terus melahap.
“Pelan-pelan makannya”
“Iya, Bang” kataku dengan mulut penuh dan mata tergenang air.
Aku rindu dia.
Hubungan ini sangat berat kurasakan tapi kenapa aku selalu ingin bertahan. Hate to tell the truth. Cinta mati. Aku kesepian karena kasih sayangnya yang begitu dingin dan sepi. Mungkin benar kata perempuan itu, ‘dia adalah malam’. Seribu kali aku coba mengingkari. Dan seribu kali pula aku kecewa. Hate to tell the truth. Dia tetap malam.
Sayup-sayup kudengar Bintang Hidupku yang dinyanyikan BIP.

…apapun yang kau lakukan
baik dan buruk bagiku tetap indah
tak satupun alasan untuk melupakanmu,
meninggalkanmu…

No message. Sampai aku lelap

Advertisements

One thought on “Hate To Tell The Truth

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s