Beri Aku Sebuah Akhir

Kenapa kamu meninggalkan saya? Pertanyaan itu barangkali pertanyaan sederhana yang sulit sekali dijawab. Setahun saya mencari jawabannya. Padamu, pada ilalang, pada pepohonan, pada teman, pada orang asing, pada kota antah berantah yang saya singgahi, dan pada Tuhan. Pernahkah kamu tahu bagaimana rasanya? Bahkan untuk melupakanmu barang sedetik saja, saya harus meninggalkan kamar dan berbaur dengan situasi asing yang tidak saya mengerti. Pernahkah kamu peduli pada wanita yang kau jatuhkan dari sekumpulan awan-awan kelabu yang berarak? Tidak. Kurasa kamu tidak pernah benar-benar peduli seperti kamu tidak pernah benar-benar mencintai saya.

Seorang sahabat berkata, ‘dia tidak pantas untuk orang sebaik kamu, lupakan dia, dia keparat’. Lalu saya bertanya, ‘kenapa? kenapa dia tidak pantas untuk saya?’. Setelah itu tidak ada alasan. Sepertinya banyak yang sengaja disembunyikan untuk menjaga perasaan saya. Barangkali ia terlalu sayang sahabatnya ini, sahabat yang baru dikenalnya beberapa bulan. Lelah bertanya, saya pun berkelana. Saya mulai bepergian menikmati keindahan alam, bertemu banyak orang, dan masih terus bertanya ‘kenapa kamu meninggalkan saya? Apakah saya bukan kekasih yang baik?’

Bertemulah saya dengan sahabatmu yang jauh berada di seberang sana. Komunikasipun terbatas via benda mungil sarat fasilitas itu. Berkali-kali ia menitipkan pesan ‘cari pacar lagi aja’. Kalau bisa mengumpat, saya akan mengumpat. Tapi tidak untuknya. Untukmu. Kamu membuat saya dikasihani banyak orang. Sahabatmu bilang ‘dengerin lagunya Chrisye-Cinta Yang Lain’. Saya masih belum paham maksudnya. Lalu saya abaikan. Saya lanjutkan pengembaraan saya. Tiap tempat yang saya datangi, saya tanyai meski tak terjawab.

Dan di suatu sore saya bertemu seseorang. Seseorang yang tidak pernah saya sangka sebelumnya. Seseorang yang memberitahu tentang sebuah kenyataan pahit. Jawaban atas pertanyaan saya ‘kenapa kamu meninggalkan saya?’

Saya baca tulisanmu. Saya resapi dalam-dalam. Dada saya begitu sesak, sesak yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya. Airmata saya tertahan untuk tidak jatuh di tempat umum. Saya tetap membaca tulisan itu sampai tamat meski kata demi kata menyayati hati saya. Saya membayar ongkos, pulang dengan berlari sekencang-kencangnya, dan menangis sesenggukan di kamar mandi. Saya guyur kepala dengan air. Saya menangis tanpa suara saking pedihnya. Tuhan, ampuni saya. Saya tidak kuat menahan sakitnya.

Apakah kebetulan? Kalau saya dan dia sama-sama suka warna hijau?

Apakah kebetulan? Kalau kamu pernah berkata pada kami bahwa mata kami sama-sama indah?

Apakah kebetulan? Kalau ada seseorang yang berkata kalau kami mirip?

Katakan pada saya! Apakah kamu mencari dirinya dalam diri saya? Ataukah hanya kebetulan? Lalu apakah kamu meninggalkan saya karena itu? Karena kamu tidak menemukannya dalam diri saya? Ataukah karena terlalu banyak dirinya yang terangkum dalam diri saya? Kamu masih sangat mencintainya.. Kamu masih sangat memujanya.. Kamu masih menyimpannya serapi kamu menyimpan segala sesuatu yang mengingatkan kisah kalian.

Kamu tahu saya bukan orang yang mudah dan kamulah yang memulai semua ini. Lalu kenapa saya yang harus mencari akhir? Kenapa harus saya? Ribuan kali saya memohon ‘beri saya sebuah akhir..’. Hanya bisu yang datang. Inikah caramu menjadikan saya seorang masokis?

Advertisements

One thought on “Beri Aku Sebuah Akhir

  1. You’re big big girl in a big big world.
    It’s not big big thing, If he leaved you.
    But I do do thing and I do do feel it’s not the end of the world.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s