Anggun

Grey CoffeeShop.
Dia sedang menunggu seseorang di meja paling ujung deretanku, dekat akuarium—sambil membolak-balik majalah fashion. Masih seperti dulu. Tak memesan apapun kecuali jus jeruk segar dengan daun mint yang mengapung. Dia masih kalem. Anggun.
Aku ingin duduk di depannya.
Urung.
Aku menahan diriku untuk tidak menjadi cerobong asap dalam tempat senyaman ini. Kotak rokok yang sedari tadi kumainkan akhirnya kumasukkan lagi ke dalam saku celanaku. Sekarang dia sedang menelpon. Berbicara dengan ringan dan tertawa kecil. Dia masih seperti dulu. Selalu membuat orang diseberang tak ingin menutup telpon. Sambil menelpon ia menyedot jus jeruknya sedikit—kemudian mengelap bibirnya dengan tissu. Obrolan berlanjut selama kurang lebih lima menit.
Aku ingin menyapanya.
Urung.
Apakah dia masih memakai Midsummer Woman yang membuatku mabuk kepayang saat duduk didekatnya? Ah, aku sangat merindukan parfum itu. Aku tak sempat mencium lehernya karena aku membiarkan dia pergi begitu saja dari hidupku. Apakah dia masih mengisi hari-harinya dengan jadwal-jadwal padat seperti dulu kemudian menghabiskan hari Sabtu  dengan menonton film atau belajar memasak dan shopping seharian di hari Minggu?
Aku suka gaya hidupnya dan ingin bercengkrama lagi.
Urung.
Hari ini dia memakai blazer hitam yang dipadu dengan celana warna putih susu. Rambutnya yang pendek dibiarkan terjatuh dengan indahnya. Tebalnya riasan tak membuat ia jadi menor. Masih tetap elegan. Dia duduk dengan menyilangkan kaki—menerima telpon untuk kedua kalinya. Jus jeruknya tinggal sepertiga tinggi gelas—diaduknya dengan pelan sambil berbicara renyah. Aku terpaksa menguping meski tak mengerti apa yang ia bicarakan dalam bahasa Itali.
Aku ingin minta maaf.
Urung.
Lima belas menit kemudian kuputuskan untuk bangkit dari duduk dan hendak menghampirinya namun seorang pria berjas dengan kacamata hitam datang menghampirinya lebih dulu. Aku terpaku. Membisu. Anggun tersenyum kemudian mereka berpelukan sebentar. Siapa dia?
Aku kembali duduk dengan tenang. Kuamati mereka berdua. Terpaksa menguping lagi. Pria itu jarang tersenyum, tampak seram dengan jambang yang tumbuh liar, apalagi dengan kacamata hitamnya dan ia berbicara seperlunya saja. Apakah dia seorang polisi? Tak mungkin.

‘Pesawat berangkat jam berapa?’
‘Jam satu, Mas’
‘Lusa kita ketemu di tempat biasa. Jaga diri baik-baik’
‘Iya’

Percakapan yang teramat dingin. Bagaimana bisa Anggun berbicara sedingin itu? Dia seperti punya dua kepribadian. Ah, entahlah. Anggun. Anggun. Aku merindukannya. Tapi siapa pria itu? Kepalaku dipenuhi tanda tanya.

‘Yusuf?’
‘Anggun’

Sial.
Aku benci situasi seperti ini. Anggun mengamit lengan pria itu.
‘Ini suamiku. Kenalin Mas, ini Yusuf’
‘Patria’
‘Yusuf’
Suami Anggun???
Speechless.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s