Hari Ini Kita Berkenalan

•July 1, 2009 • 3 Comments

Malam itu, di bawah sinar lampu kota yang temaram dan kabur oleh rintik hujan saya dan kamu bertemu. Pertemuan dua orang asing yang benar-benar asing. Diawali dengan senyuman dan diakhiri dengan lambaian tangan.

‘sebaiknya kita masuk kesana’ katamu. Bibirmu yang indah itu pucat dan hampir beku.
‘ya,’ kata saya.
Kita berlari-lari kecil menyebrangi jalanan yang sesak kendaraan, kemudian masuk coffee shop yang diapit toko buku dan butik sepatu yang sedang menawarkan diskon besar-besaran. Kamu berjalan didepan saya, memilih meja paling pojok dekat kaca yang membuat kita tampak seperti ikan dalam akuarium.
‘tunggu! Biar aku menebak apa yang hendak kamu pesan’ katamu.
Saya tertawa renyah dengan mata menyipit tak percaya. Ah, tak mungkin kamu tahu apa yang saya pikirkan, batin saya dalam hati.

‘teh cammomile’ katanya dan seketika membuat saya ternganga.
Lalu kamu tertawa kecil, tampak bangga karena kamu berhasil membuat saya terheran-heran.
‘dari mana kamu tahu?’ tanyaku.
‘matamu yang berkata’ katanya.

Akhirnya saya memesan apa yang telah kamu tebak, sedang kamu memesan segelas Kopi Aceh tanpa gula. Sembari menunggu pesanan, saya keluarkan sekotak coklat yang tadi sore saya beli di toko roti dekat kantor. Sebenarnya kotak coklat itu hendak saya berikan pada seorang teman, namun urung. Saya sedang ingin menikmati sekotak coklat ini bersama kamu.

‘kenapa malam ini kita berdua duduk di satu melingkari meja yang sama?’ tanyamu sambil mengambil sebutir coklat sebesar tai kambing.
‘karena aku mau, dan kamu juga mau’ kata saya.
‘lalu apakah hari ini kita akan berkenalan?’ kamu bertanya lagi.
‘kurasa tidak’ kata saya mantap.
Kamu sepertinya setuju dengan pendapat saya yang terdengar sedikit ganjil.  Tapi sungguh saya tidak ingin mengenalmu lebih jauh. Barangkali karena saya tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Sayup-sayup suara Corrine Bailey Rae menyusup. Kamu dan saya sama-sama memandang keluar. Hujan masih merintik lembut dan saya yakin akan lama.

Beberapa tahun kemudian,
Malam ini, kali kedua saya masuk coffee shop ini. Saya duduk berdua dengan tas ransel saya yang berisi properti pribadi. Sejam yang lalu saya baru saja turun dari pesawat. Empat tahun ini saya mengelilingi sebagian dunia. Empat tahun ini saya tambatkan keasingan pada tiap tempat yang saya pijak. Namun kota ini selalu menarik-narik saya untuk pulang. Kota yang pernah menjadi tempat asing untuk saya. Kota yang pernah saya hakimi karena ketidakadilannya.

Waitres menghampiri, saya memesan teh cammomile tanpa membaca menu.

‘anda dapat surat dari orang itu’ waitres itu menyodori saya amplop sambil menunjuk sosok yang duduk di seberang meja.
Saya tak dapat melihat dengan jelas siapa sosok yang ditunjuk waitres itu karena lampu coffee shop ini begitu redup. Akhirnya saya buka amplop itu. Secarik kertas kecil berisi deretan kata itu berbunyi:

APAKAH HARI INI KITA AKAN BERKENALAN?

Saya tersenyum lebar.  Diluar tiba-tiba hujan turun rintik-rintik.

Silahkan dilanjutkan sendiri bila ingin mencari ending hehehe..
Untuk: seorang teman yang sedang galau hatinya.. Semoga cerita ini menghibur.. everybody loves you..

Kinan

•June 9, 2009 • 5 Comments

Kami bertemu lagi di sebuah pesta kebun usang yang penuh basabasi. Mendadak hujan deras mengguyur kami yang sedang menciumi aroma barbeque dan kulihat dia berlari-lari kecil mencari tempat berteduh sambil menutup kepalanya dengan clutch. Yogi di belakangnya dan mereka bergandengan tangan seperti pasangan pengantin baru. Serasi sekali dan tentu saja membuatku iri setengah mati.

Kinan tersenyum kecil ke arahku dan langsung melepaskan tangannya dari genggaman Yogi. Aku membalas dengan senyum hambar lalu menghilang dari tatapannya. Baru kemarin kulihat matanya merah karena menangis di tangga darurat, dan hari ini dia seperti bidadari jatuh cinta pada Jaka Tingkir. Wanita memang sulit dipahami.

“Tapi Yogi tidak punya cela. Seandainya kami putus, dia yang harus mengucapkan kata-kata itu” begitu katanya.
“Ya, aku tahu dan aku menunggu sampai Yogi punya cela” kataku.
Dan Kinan membisu. Matanya berkaca-kaca. Sungguh wanita memang aneh.

Pesta barbeque usai di dalam ruangan. Yogi Sang Pangeran bergitar unjuk kebolehan. Kinan sibuk mengobrol dengan teman kami namun tetap mengamati gerak gerikku seperti pengintai profesional. Kami berdua seperti sepasang penjahat yang bergerilya. Ah Kinan, kenapa harus ada Yogi diantara kita? Kenapa tak kamu biarkan semua orang-orang disini tahu bahwa kamu pernah berkata ‘aku sayang kamu’ padaku? Lagi-lagi, wanita memang aneh.

Beberapa bulan kemudian. Sandiwara Kinan terlaksana sempurna. Kinan dan Yogi putus, lalu kami melegalkan hubungan diatas luka hati Yogi. Dunia serasa milik berdua. Aku lupa siapa aku sebenarnya. Dia seperti sinar terang yang menyinari gelap duniaku. Ah, Kinan. Kubaca lagi file surat yang pernah kukirimkan pada Kinan.

Kinan..
Setiap hal dalam kehidupan memiliki setiap ketidakwajaran yg terlihat wajar. Teringat akan ucapanmu mengenai semua orang berhak untuk dapat kebahagiaan, sepatutnya aku akan mengejawantahkan hak kebahagiaan tersebut sebagai ungkapan syukur bahwa aku masih memiliki kehidupan, dan itu sudah kuamini laiknya kebahagiaan yang dimaksud. Aku bahagia, aku tidak bahagia, bagi mereka bahagia, bagi orang lain tidak, bagiku persetan dengan kebahagiaan. Sudah diberi nyawa sebagai manusia dan dilahirkan sebagai seorang Muslim saja sudah merupakan kebahagiaan yang tak terkira. Lalu apa? Apakah aku harus marah pada dunia? -Jika saja aku merasa tak bahagia dan terkadang aku masih beranggapan itu- Tapi segera saja kutepis dengan bentuk syukurku tadi, walaupun itu terasa hambar dan papa. Dalam sunyi aku menangis, dalam sunyi aku merinding, dalam sunyi aku semakin menikmati. Sepi. Sepi dan sepi. Lalu selalu saja aku mengumpat; ‘anjing’, dalam hati, dalam benak, terkadang malah secara lisan, bila menemukan momentum yang memungkinkan untuk menutupi kemarahanku yang sebenarnya.

Untuk itulah aku menyukai kesunyian, namun aku telah muak dengan sunyi, dengan sepi, itu semua termanipulasi dalam sosialisasi-sosialisasi usang yang kuciptakan dan coba kurenungi baik-baik. Kemudian aku mencoba menikmati keramaian, yang tenang, yang berirama dan terkadang bergejolak. Karena itulah aku mensyukuri kawan-kawan maupun musuh yang datang silih berganti, dan pernah juga mereka bertukar peran dan fungsi. Namun, mereka adalah harta-hartaku yang berharga. Bentuk manifestasi anugerah Tuhan yang dititipkan padaku. Namun, sejujurnya aku masih merasa mengkhianati Tuhan, aku malu pada-Nya, sekaligus sangat-sangat berterimakasih pada-Nya, dan aku bersyukur sampai saat ini aku tak pernah marah pada-Nya. Jangan sampai itu terjadi, karena aku akan menjadi makhluk paling menjijikkan, karena Iblis pun tak pernah berani marah pada-Nya.
Aku heran. Semenjak beberapa waktu berselang, aku menyadari kalau aku tak pernah benar-benar memiliki rasa cinta yang tulus. Walau demikian, aku masih memiliki rasa sayang yang layak. Kalau begitu, apakah bedanya ‘cinta’ dan ‘sayang’. Bahkan dalam bahasa Inggris pun kedua kata tersebut dijabarkan dalam definisi yang sama. Entah dengan bahasa kita. Tapi, aku memiliki pedoman tersendiri dalam memaknai kedua kata tersebut.

‘Cinta’ terhadap lawan jenis, aku pernah memproklamirkan bahwa aku sudah menemukan cinta. Pada akhirnya, aku menyadari bahwa itu semua hanyalah wacana semu dari perasaan yang selalu kontemporer. Lalu, aku menyadari bahwa untuk menemukan ‘cinta’ harus mengalami proses ‘kasih sayang’ yang berbelit-belit dan overdramatik. Harus mengalami proses take and give yang tulus dan membahagiakan. Untuk itu, bagiku saat ini rasa ‘cinta’ku yang kuanggap tulus baru terpaut pada 2 hal; Tuhan dan Ayahku. Untuk masa selanjutnya, mungkin rasa itu akan mencakup kepada anak dan istriku kelak.

‘Sayang’ perasaan ini begitu umum melanda setiap manusia tanpa mereka pernah menyadarinya. Rasa ini juga merupakan elemen kuat sekaligus akar dari ‘cinta’. Aku menyayangi kawan-kawanku, musuh-musuh, wanita-wanita itu dan [semoga] diriku sendiri. Bahkan ada ungkapan; ‘dekatkan musuhmu lebih dekat dari kawan dekatmu’. Hmm..Tapi aku tak sehebat itu. Bahkan mungkin saja musuh terbesarku adalah diriku sendiri. Rasa ini juga bertingkat-tingkat, sama halnya seperti tingkatan rasa ‘cinta’. Lebih tepatnya rasa ini dapat dikatakan selalu dinamis dan progresif, bertambah, berkurang, berulang-ulang sampai ke arah titik di mana dapat dikatakan mencapai ‘cinta’ atau ‘benci’  atau mungkin tetap menjadi rasa sayang yang ‘biasa’.

Aku terlalu lelah. Aku sangat merindukan rasa sayang yang menggebu-gebu seperti masa yang dulu. Tapi entah kenapa, kemarin dan saat ini atau mungkin selanjutnya tak pernah mencapai hasil yang bagiku akan membahagiakan orang lain. Aku seakan telah dikecewakan oleh berbagai pengalaman hidup yang sangat akumulatif dan cenderung memberi semacam peringatan untuk tidak terbuai oleh kefanaan ekstase cinta manusia. Cinta yang sejati hanya milik Tuhan. Tapi setidaknya wujud kecintaan kita kepada-Nya dapat diaplikasikan melalui proses pencarian cinta itu sendiri.

Inilah yang menjadi alasan-alasan utama tentang sikapku terhadap rasa cinta dan sayang. Aku telah menjadi orang yang sedingin embun dan membeku terbungkus selimut pagi. Tapi aku bukanlah orang yang menyesali hidup. Aku tak marah pada Tuhan. Aku mencintai-Nya seperti aku mencintai hidup, walaupun aku sedikit jenuh dengan kehidupan.

Selang beberapa waktu, aku dan Kinan berpisah. Perpisahan yang kulakukan sendiri. Perpisahan yang terpaksa kulakukan karena aku sendiri tidak pernah yakin bisa membahagiakan dia seperti dia membahagiakan aku. Berkali-kali kutasbihkan bahagia untuknya dalam pertengkaran kami yang terakhir. Dia meraung-gaung sampai tak bisa bernafas. Tak tega aku melihatnya, tapi aku harus menjadi jahat agar Kinan tahu aku tak pantas untuknya.

Hari ini, aku menerima undangan pernikahan Kinan. Aku menangis. Sekali lagi, buatku cinta hanyalah wacana semu dari perasaan yang selalu kontemporer.. Maafkan aku, Kinan.. Barangkali selamanya aku tidak bahagia kalau tidak melihatmu bahagia.. Terima kasih, kamu adalah wanita istimewa dalam hidupku.

Munky Smile

•May 2, 2009 • 6 Comments

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada jeng ini, karena beliaulah yang berbaik hati memberi saya monyet-monyet lucu bernama Munky Smile. Awalnya saya lihat gambar-gambar gerak itu di kulkas-nya si jeng hihi trus spontan saya memohon supaya si jeng mau membagi monyet-monyet itu pada saya dan si jeng dengan senang hati akan mengirimkannya via email. lumayan lama, karena si jeng juga sibuk sampai tidak sempat mengisi kulkasnya sendiri. Pada suatu hati si jeng pun mengirimkan file Munky Smile pada saya via email seperti janjinya. Waw, senang bukan kepalang dong. Download-buka-dan gagal hiks

Saya langsung kirim komplain pada si jeng. Alasannya saya tidak tahu bagaimana cara membukanya. Dan si jeng memberi tahu kalau caranya amat sangat mudah. Aduh-aduh-ini saya yang bego kayaknya. Biasalah, meski sudah lama pegang komputer tapi tetap saja tidak maju-maju ilmunya mikir Mau tanya lagi sungkan. Sudah minta, eh tanya melulu hehe Saya pendam hasrat bermain Munky Smile pemberian si jeng. Saya pikirkan pagi-siang-malam. Oh Mungky Smile. Kapan saya bisa memainkanmu..

Hari ini, ketika kebosanan melanda, iseng-iseng saya matikan laptop dan berpindah ke warnet. Entah kenapa, saya mulai curiga dengan laptop saya. Wah, hasrat ingin tahu saya semakin tinggi setinggi langit. Saya download file Mungky Smile dari warnet dan SUKSES pemirsa! koprol Tapi mendadak terjadi kesalahan prosedur saat saya hendak menggunakannya. Disini kesabaran dan akal saya mulai diuji. Saya tetap bersemangat! lalu saya panggil teman saya yang kebetulan operator warnet “Pan, Topan, bisa minta tolong nggak?”

Saya jelaskan pada teman saya itu, bla-bla-bla. Dan cling! nyembah Topan membuat semuanya jadi indah. Mata saya langsung bersinar-sinar. Akhirnya.. Lega..

Semarang, 3 Mei 2009
Terima kasih untuk Jeng Frozzy & Topan

Saturday

•May 2, 2009 • 4 Comments

Sabtu pagi yang cerah membuat saya tergelitik untuk mengajak Anggi ke swalayan. Kebetulan ada beberapa keperluan yang harus saya beli. Jadi berangkatlah kami menuju swalayan pagi-pagi mengingat ini hari Sabtu yang spesial karena merupakan awal bulan. Sudah bisa dipastikan bahwa gerombolan-gerombolan keluarga akan bermigrasi dari rumah menuju pertokoan tersebut. Maksud kami berangkat pagi supaya tidak terjebak antrian panjang di kasir. Lumayan, meski swalayan sudah penuh sesak, antrian kasir tidak begitu panjang. Saya dan Anggi langsung berburu barang yang kami butuhkan.

Saya sendiri tak banyak berbelanja, hanya 4 item barang yang saya beli; pembalut, cairan cuci tangan, susu, dan sikat gigi. Setelah mengambil barang-barang yang saya butuhkan, Anggi menyuruh saya menunggu saja di dekat kasir. Dia tidak mau kaki saya bengkak lagi karena banyak jalan. Ngomong-ngomong soal kaki saya, pasca pencabutan pen, kaki saya masih bengkak kalau dipakai jalan lama-lama. Usut punya usut, ternyata sudah sebulan kaki saya itu dimanja untuk tidak digerakkan. Jadi bengkak itu sendiri sebenarnya tidak begitu bermasalah. Kata orang-orang, nanti juga terbiasa dan tidak bengkak lagi. Saya menurut saja dan akhirnya menunggu di kasir lumayan lama.

Tengsin juga sebenarnya kalau mengamati dandanan saya. Seperti biasa, saya mengenakan baju kasual. Namun hari ini yang kelihatan aneh adalah bagian kaki saya yang tertutup sandal tidur berwarna kuning dengan kepala macan ditasnya. Tiap orang yang lewat (apalagi anak kecil) langsung melihat sandal yang cukup menarik perhatian itu, hihihi. Dan saya hanya cengar-cengir.

sandalsingaimut

sandalsingaimut

Segera kami meninggalkan tempat yang makin sesak itu. Ups, kami kehilangan kunci motor. Anggi kelabakan sendiri karena dialah yang bertanggung jawab atas keberadaan kunci motor saya. Disaat Anggi kebingungan, saya masih tenang-tenang saja sambil bertanya pada bapak tukang parkir yang berkacamata trendy bak Ian Kasela. Untunglah kunci saya terselamatkan. Ternyata Anggi meninggalkan kunci yang masih tergantung di tempatnya. Cukup sembrono sih, tapi semoga tidak terulang. Kami pun meninggalkan pelataran parkir untuk pulang.

Sebelum pulang, kami mampir ke sebuah tempat makan untuk menuntaskan rasa lapar disana. Kami memang belum sarapan dan pukul sebelas adalah waktu yang tepat untuk merangkum dua waktu makan sekaligus. Kami mampir di warung Sate Kambing Muda milik Pak Mandor. Alamatnya di Jalan Ngesrep Timur Tembalang Semarang. Ini kunjungan pertama kami setelah beberapa hari sebelumnya kami telah mengincar tempat ini untuk dijadikan lokasi kuliner. Kebetulan ini hari Sabtu, hari makan daging buat saya.

geber-pak-mandor

geber-pak-mandor

pak-mandor

pak-mandor

Anggi yang kehausan langsung kalap dengan meneguk sebotol teh. Saya sendiri memesan jeruk hangat. Oh iya, menu disana ada tiga macam; sate kambing, gulai dan tongseng. Kami sepakat memesan 2 porsi sate kambing yang ternyata begitu empuk dan lezat. Pak Mandor yang notabene pemilik tempat makan juga sangat ramah dan bersedia kami potret untuk kami pamerkan di internet, hihihi. Bagi yang jalan-jalan ke Semarang, sempatkanlah mampir ke warung makan Pak Mandor :D tempat ini bisa dijadikan alternatif kuliner yang cukup memuaskan.

anggi-n-sate

anggi-n-sate

menumis

menumis

Sabtu, 2 Mei 2009. Terimakasih untuk Anggi & Pak Mandor

Everybody Loves You

•April 21, 2009 • 6 Comments

“Aku bangsat!”

“Aku bajingan!”

“Aku tidak tahu diuntung!”

“Aku pria mata keranjang!”

“Aku pria mesum!”

Begitu katamu dengan mata memerah seperti menahan tangis. Kamu marah pada dirimu sendiri, namun orang lain yang sedang menyaksikan adegan ini barangkali mengira kamu sedang marah pada saya. Suaramu meninggi beberapa oktaf, meledak seperti bom begitu saja. Saya yang biasanya senyum-senyum bila melihatmu mendadak kehilangan selera untuk menyunggingkan bibir. Melihatmu seperti ini tak jauh beda dengan melihat raksasa lapar yang marah. Saya menunggu gemuruh itu perlahan pergi dari sekitar kita.

“Setidaknya itu versi mantan pacarku”

Itu kalimat pertama yang kamu ucapkan dengan pelan setelah ledakan yang membuat saya bergetar usai. Kamu palingkan wajah dari saya, entah apa yang kamu sembunyikan? Airmata kah? Kekecewaankah? Atau entahlah. “Kamu pria kesayangan buatku” Saya beranikan diri menyentuh lenganmu, namun tak juga kamu palingkan wajah ke arah saya. Tak ada lagi kata-kata yang bisa saya rangkai bila melihatmu seperti ini. Barangkali saya salah. Tidak seharusnya saya memintamu untuk ber-positive thinking saat kamu sendiri bahkan tidak tahu bagaimana melakukannya. Klise sekali kedengarannya, tetapi saya juga tidak ingin kamu percaya sebuah ‘versi’ yang dibangun mantan pacarmu.

“Aku tidak sebaik itu..”

Kamu berkata-kata lagi dengan terbata-bata. Masih ada sisa-sisa kemarahan pada nada suaramu. Sepenting itukah mantan pacarmu, sampai kamu sendiri harus merubah ‘versi’ tentang dirimu sendiri? Dia bahkan (barangkali) lupa pernah begitu tergila-gila padamu dulu. Dia juga (barangkali) lupa bahwa kamu pernah jadi energi terkuat dalam hidupnya. Energi positif yang kalian beri nama ‘cinta’.

“There is no truth, only versions”

Kamu tak harus percaya dengan apa yang diucapkan orang padamu, termasuk saya. Jangan biarkan ujung pistol itu menyentuh pelipismu yang akhirnya hanya membuatmu tidak bisa bergerak. Kamu akan tertembak karena kamu mau ditembak. Kamu merasa sakit karena kamu mau disakiti. Saya percaya hidup itu pilihan. Kita sebagai manusia memang dihukum untuk menjadi bebas. Shit.

“Everybody loves you..” kata saya. Dan tiba-tiba kamu memeluk saya erat sekali. Kita terisak berdua seperti sepasang sahabat yang hendak berpisah dalam waktu yang lama. Saya dan kamu barangkali lega.

“Maafkan aku..” katamu.

Saya mengangguk, kemudian buru-buru melihat jam yang melingkar pada pergelangan tangan. Pesawat saya akan terbang jam 1. Saatnya berpamitan.

“Tinggallah disini barang beberapa hari.. Aku ingin mengganti rokok dan alkohol..”

“Lain kali kutelpon” kata saya kemudian mendaratkan ciuman ringan di pipimu. “jaga diri baik-baik”

Saya akan selalu merindukanmu, Pria Kesayangan. Kata saya dalam hati.

Mengintip Sore Bersama

•April 18, 2009 • 1 Comment

Gereja Blenduk, Semarang

Gereja Blenduk, Semarang

Sore itu kami habiskan berdua saja untuk menyusuri jalanan yang sarat aktivitas namun sedikit lengang. Ribuan kendaraan berseliweran dengan aura gelisah dan tergesa-gesa. Gedung-gedung yang terpaksa dibangun karena kebutuhan, berdiri tegak dan sombong. Namun kami masih bisa menikmati sisa panas matahari yang ditarik sore. Hangat dan kering.

Sepertinya dua minggu berpisah terasa begitu lama untuk kami. Saya, tiap hari hampir selalu dijejali dengan jadwal yang tidak mungkin saya abaikan begitu saja. Jam 8 pagi sampai jam 7 malam bisa dipastikan saya tidak punya waktu kecuali hari Jumat, Sabtu dan Minggu. Sedang Bun, masih terfokus dengan kemalasannya yang produktif dan kreatif itu. Sore itu pun kami sengaja meluangkan waktu untuk hunting foto di kota yang saya tinggali. Sekedar menguji, apakah kebersamaan kami masih sama kadarnya dengan yang sebelumnya. Kami mengintip sore bersama.

Kota Lama, Semarang

Kota Lama, Semarang

Tak banyak tempat yang kami jadikan obyek bidikan kamera. Daerah Kota Lama dan sekitarnyalah yang berhasil mencuri perhatian kami. Untuk selanjutnya barangkali kami ingin mengkristalkan waktu di pantai atau tempat-tempat bersejarah lainnya. Senang rasanya hari itu. Kebersamaan kami masih sama seperti sebelumnya. Pulangnya, kami mampir untuk makan malam di tempat makan favorit kami Warung Penyet ISTI. Cheers..

Shoes, Bag & Us

•April 17, 2009 • 2 Comments

@ Widya Puraya, Undip Semarang

@ Widya Puraya, Undip Semarang

marieclaire & kets-lusuh

marieclaire & kets-lusuh

shoes, bag & us

shoes, bag & us

Beginilah saya dan Bun saat tak lagi dipisah milyaran jarak. Duduk berdua di rumput pada sore hari, melihat bocah-bocah bermain bola dan para mahasiswa menerbangkan tiruan roket yang terbuat dari botol plastik air mineral.

Moment seperti ini memang jarang terjadi karena kami tidak sekota. Akan terasa berat bila kami pikir itu berat, tetapi akan terasa ringan jika itu kami pikir ringan. Ya, untuk kami yang percaya pada kekuatan pikiran, tetap positif dan SEMANGAT!

Facebook vs Friendster

•April 16, 2009 • 2 Comments

8

Akhir-akhir ini, banyak orang terjangkit demam Facebook. Orang-orang yang dulunya tidak pernah malang melintang di dunia maya, mendadak jadi artis baru di dunia maya. Facebook sendiri merupakan jaringan yang menghubungkan kita dengan teman-teman lama yang menghilang. Hampir mirip dengan Friendster, namun tampilannya barangkali lebih seru dan banyak aplikasinya. Saya sendiri sudah lama punya Facebook, seorang sahabat yang mengenalkannya pada saya. Namun, kala itu Facebook sepi. Saya hanya punya 5 atau 6 teman. Mendadak Facebook berubah menjadi virus. Dalam waktu beberapa bulan saja, teman-teman lama saya bermunculan. Orang-orang yang saya kira tidak begitu tertarik dengan dunia maya ternyata memiliki rumah singgah di Facebook. Saya senang menemukan beberapa teman lama yang bertahun-tahun kehilangan kontak.

Ajang nostalgia ini pun tak dilewatkan kedua orang tua saya. hehehe.. Mereka minta dibuatkan Facebook agar bisa bertemu kembali dengan teman-teman lama mereka. Sayalah yang harus jadi tentor untuk membimbing mereka. Wah, lumayan susah ya mengajari orangtua belajar meski tidak ada batasan umur dalam belajar. Sampai akhirnya sayalah yang tiap hari jadi tukang cek Facebook di rumah. Wah, di rumah jadi sering ribut-ribut soal Facebook. Apalagi kalau sudah berbalas pesan dengan teman-teman masa muda mereka, tawa sudah tak mau lepas. Waw, barangkali nanti beberapa tahun kedepan akan ada teknologi baru lagi. Saya pun akan jadi seperti orangtua saya dimata anak-anak saya nantinya, hehehe.. Kira-kira teknologi apa ya yang tampaknya akan menjadi virus 20 tahun kedepan?

Kemarin kami bertiga ngobrol di kamar saya tentang bagaimana nasib Facebook mereka kalau saya kembali ke Semarang beberapa hari lagi. Ya, dalam sebulan ini saya memang sedang berada di rumah jadi sayalah yang didaulat mengurusi Facebook mereka. Tapi, beberapa hari lagi setelah kaki saya pulih, saya akan kembali ke Semarang untuk melanjutkan kegiatan-kegiatan yang sempat tertunda. Jalan tengahnya, saya tetap mengurus Facebook mereka dan mengabarkan semua berita di Facebook via handphone, hahaha.. Ada-ada saja memang..

Saya sendiri merasakan kalau Facebook ibarat sebuah kompleks perumahan dimana tiap-tiap orang punya rumah. Mereka berinteraksi lebih terbuka. Privasi minim sekali disini kecuali fasilitas message dibandingkan Friendster. Facebook yang diciptakan oleh seorang mahasiswa bernama Mark Zuckerberg ini cukup mampu mengalihkan perhatian kita. Friendster yang dulu booming-nya minta ampun saat ini terpaksa harus gigit jari. Bahkan ada teman saya yang bertanya ‘masihkah ada yang setia dengan Friendster?’. Kemudian saya kunjungi Friendster saya, benar sekali. Sepi. Seperti rumah tak berpenghuni. Tidak ada surat-surat. Saya merasa berada di sebuah kompleks perumahan dimana pintu-pintunya terkunci rapat. Bahkan ada yang sama sekali tidak terurus. Tak ada aktivitas. Tak ada canda tawa.

Bagaimana dengan anda? Hehehe..

Pati, 16 April 2009
Kamar, internet, tawa.

Setengah Gelas Air Putih

•April 13, 2009 • 3 Comments

Tidak ada samudera
Tidak ada lautan
Pun danau atau kolam
Aku hanya butuh setengah gelas air putih
Dan itu kamu.

Beberapa waktu lalu saya sering bilang pada Bun kalau saya merasa kesulitan menulis tentangnya. Menjadikannya inspirasi seperti sebelumnya. Tapi barangkali tidak untuk kali ini. Semoga dia membaca tulisan saya.

Saya sakit. Terdampar di rumah sakit beberapa hari dan akhirnya pulang kerumah. Saya tidak pernah menyangka musibah ini menimpa saya. Alhamdulillah, Tuhan memang jarang memberi saya sakit. Saya patut bersyukur untuk hal ini. Muda, sehat, memilih bahagia. Pun demikian musibah ini saya syukuri sebagai manusia yang menghamba.

Beberapa hari sebelum musibah yang membuat jari kaki saya patah, saya menelpon Bun—kekasih saya. Saya bilang bahwa saya punya rencana untuk pulang pada tanggal 9 April menjelang PEMILU. Namun betapa berat hati ini, saya amat rindu rumah. Saya pun rewel. Dan seperti biasa, kekasih saya itu hanya berujar ‘Sabar, Sayang..’

Sabar. Barangkali itu yang agaknya perlu ditekankan disini. Sabar adalah bahwa semua akan datang pada waktunya. Tidak perlu diburu-buru datangnya. Namun rupanya saya tidak sabar. Dan beberapa hari kemudian saya dijemput musibah itu. Untuk pertama kalinya (dan semoga tidak terulang lagi untuk sesuatu yang merepotkan banyak orang) saya terdampar di rumah sakit. Setelah mendapat perawatan saya diijinkan pulang ke rumah dengan jari kaki terbungkus perban.

Saya pulang. Untuk waktu yang amat lama. Sekitar 4 minggu. Saya bertemu keluarga, saya jadi pasien di rumah sendiri dengan ibu sebagai perawat. Ayah saya bertugas sebagai motivator. Adik saya menyegarkan rumah dengan humornya. Dan tentunya Bun selalu datang ke rumah dengan membawa senyum (juga es krim kesukaan saya).

‘Kamu pulang lebih awal..’ katanya.
‘Iya.. Sebelum tanggal 9 April’ sambung saya.
Sejak saya sakit, saya tahu betapa berartinya Bun buat saya, sama berartinya dengan keluarga dan sahabat saya. Bun tahu betul saya menderita kebosanan berkepanjangan berada di rumah tanpa kegiatan. Ya, untuk saya yang hampir tidak berhenti  bergerak kecuali tidur malam, menjadi pengangguran di rumah bukanlah hal yang menyenangkan. Dan Bun selalu datang dengan membawa beberapa kegiatan ringan. Kami masih bisa makan es krim berdua, dia memotret saya, dan mengedit foto. Semuanya penuh canda tawa. Semuanya menyembuhkan.

Dan saya selalu tidak suka bila jam dinding sudah menunjuk pukul 22.00, karena Bun harus pulang. Betapa egoisnya saya. Ah, Bun..  Dia memang bukan samudera yang maha luas.. Samudera yang kamu kagumi, dan bisa menenggelamkan dirimu, yang sebenarnya tidak kamu butuhkan. Bun hanya setengah gelas air putih yang akan dibutuhkan semua orang, begitu sederhana. Untuk bersamanya, kamu tak perlu tenggelam dan mati muda tak berarti. Kamu hanya akan sedikit merasakan dehidrasi, hehehe.. I love you, Bun..

Pati, 13 April 2009
Kamar tidur, internet, tawa.

Reuni Gerimis dan Senja

•March 9, 2009 • 6 Comments

Sekejap badai datang..
Mengoyak kedamaian..
Segala musnah lalu..
Gerimis.. langitpun menangis
Kekasih.. andai saja kau mengerti..
Harusnya kita mampu lewati itu semua..
Dan bukan menyerah untuk berpisah.. (Gerimis-by KLa Project)


Saya duduk di kursi ini sendirian. Beberapa teman-temanmu berseliweran seperti menuntaskan rasa penasaran pada saya. Beberapa diantara mereka memberanikan diri berbasa-basi atau sekedar tersenyum. Saya menatapi mereka, melempar senyum, juga menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Ah, entah sampai kapan saya duduk di kursi ini. Sedang saya sendiri tidak pernah tahu perihal apa yang membuat saya duduk di kursi ini selain tujuan yang tidak direncanakan.

Saya tidak berharap kamu datang dan bertemu saya. Tapi hujan tidak segera berhenti. Dan sepertinya mustahil kalau kamu pulang dalam keadaan hujan deras seperti ini. Jadi, saya putuskan untuk menyimpan cemas dan merencanakan untuk segera pulang begitu gerimis hadir. Dugaan saya salah.

Semua hal yang mengingatkan saya padamu selalu membuat gelisah; bau parfum, suara motor, jenis motor, juga suara. Stimulus-stimulus itu bisa merontokkan ribuan keringat dingin dan mempercepat detak jantung. Saya pikir, saya memang sudah tidak waras saat saya berusaha menguasai diri untuk tetap tenang begitu suara motormu masuk garasi.

Kamu tampak kaget. Ini untuk kedua kalinya kita bertemu setelah perpisahan keparat yang kamu lakukan sendiri. Saya mulai menguasai diri. Kamu hanya bertanya “Udah lama?”. Lalu saya ikuti kamu ke kamarmu yang ternyata sudah pindah. Kenapa kamu pindah? Sudahlah. Itu tidak penting lagi. Dan, saya masih saja kamu suguhi lukisan pemberian mantan pacarmu itu. Ya, kamu bahkan sudah tidak men-display barang-barang saya.

Membeku kita dalam ruangan itu. Saya duduk di belakangmu, memandangi punggungmu yang masih sama. Lelah. Tiba-tiba kamu kembalikan buku saya yang pernah kamu pinjam dan berniat saya hibahkan padamu. Datang kesini rupanya sebuah kebodohan besar, namun tidak saya sesali. Saya jadi makin sakit dengan perlakuanmu itu. Kita benar-benar bukan seperti dua orang yang pernah saling jatuh cinta. Rasanya periode kisah kita seperti hasil dari impulsivitas belaka. Ya, tentunya impulsivitasmu, bukan saya yang ternyata benar-benar digerogoti cinta.

Benar-benar hening. Percakapan-percakapan kecil itu bahkan mungkin tidak akan saya ingat nantinya. Rasanya ingin menangis, tapi saya tahu kamu tidak pernah suka saya menangis. Jadi, untuk kali ini saya ingin membuatmu menyukai saya. Tidak ingin membuatmu murka.

Beberapa menit kemudian,
Saya pamitan dan kamu mengantar saya sampai gerbang. Masih saja bisu menyelimuti kita. Dan hanya senyum getir yang saya dapati saat saya hendak beranjak pergi. Barangkali itu pertemuan kita yang terakhir dalam episode sedih.

Hujan mulai reda. Namun gerimis berniat menutup hari. Saya pulang. Pipi saya basah, entah oleh airmata atau gerimis. Saya tidak mau tahu.

Semarang, 9 Maret 2009
reuni senja bersama gerimis