<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Sepotong Rindu Untuk Embun</title>
	<atom:link href="http://catastrovaprima.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://catastrovaprima.wordpress.com</link>
	<description>...mengkristalkan waktu bersamamu.</description>
	<lastBuildDate>Sun, 15 Jan 2012 00:45:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='catastrovaprima.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Sepotong Rindu Untuk Embun</title>
		<link>http://catastrovaprima.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://catastrovaprima.wordpress.com/osd.xml" title="Sepotong Rindu Untuk Embun" />
	<atom:link rel='hub' href='http://catastrovaprima.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Retribusi Terminal Terboyo Semarag</title>
		<link>http://catastrovaprima.wordpress.com/2012/01/08/retribusi-terminal-terboyo-semarag/</link>
		<comments>http://catastrovaprima.wordpress.com/2012/01/08/retribusi-terminal-terboyo-semarag/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Jan 2012 01:00:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>catastrovaprima</dc:creator>
				<category><![CDATA[entahlah]]></category>
		<category><![CDATA[warnawarni]]></category>
		<category><![CDATA[karcis]]></category>
		<category><![CDATA[korupsi]]></category>
		<category><![CDATA[Pemda Semarang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catastrovaprima.wordpress.com/?p=848</guid>
		<description><![CDATA[Pernahkah mendengar kata ‘retribusi’? Retribusi menurut UU No. 28 tahun 2009 adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan. Kalau kita ingat, setiap kita masuk terminal pasti ada petugas berseragam yang menarik uang retribusi. Berkaitan dengan retribusi, saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catastrovaprima.wordpress.com&amp;blog=4807601&amp;post=848&amp;subd=catastrovaprima&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Pernahkah mendengar kata ‘retribusi’? Retribusi menurut UU No. 28 tahun 2009 adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan. Kalau kita ingat, setiap kita masuk terminal pasti ada petugas berseragam yang menarik uang retribusi. Berkaitan dengan retribusi, saya punya pengalaman di Terminal Terboyo Semarang yang saya catat sejak lama.</p>
<p style="text-align:justify;">Pernahkah kita jeli dengan pungutan itu? Atau pedulikah kita dengan hal-hal kecil seperti apakah nominal yang kita keluarkan sama dengan yang tertera di karcis. Atau sambil lalu kita asal mengeluarkan uang, membayar, dan tidak memeriksa jumlah uang kembalian yang diberikan petugas? Bagi pengguna jasa transportasi seperti saya yang setiap minggu pasti menyambangi terminal, ada beberapa hal yang saya keluhkan tentang pelayanan Terminal Terboyo kepada pengguna.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya punya pengalaman yang kurang menyenangkan, seorang petugas memberikan kembalian yang tidak sesuai dengan nominal yang tertera pada karcis. Karcis retribusi mencantumkan nominal sebesar Rp. 150,- sebagai beban yang ditanggung oleh pengguna jasa. Suatu hari saya membayar dengan selembar uang seribuan dan petugas hanya memberikan kembalian sebesar Rp. 500,-. Awalnya bisa saya maklumi karena waktu itu banyak sekali orang yang turun bersamaan dengan saya. Saya pun diberi dua karcis yang sebetulnya membuat saya bertanya-tanya, “Kan, aku sendirian?! Kok karcisnya dua sih?”.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian, pada lain waktu kejadian yang sama terulang lagi sampai beberapa kali sampai suatu hari saya mencoba asertif karena dalam karcis tertera tulisan “Mintalah karcis sesuai dengan jumlah uang yang dibayarkan”. Saya tak segan bertanya kepada petugas, “Berapa sih Pak retribusinya? Kok kembaliannya cuman segini? Karcisnya juga dua, saya kan sendirian”. Mau tak mau petugas pun menambah uang kembalian saya tanpa banyak bicara. Setelah saya pikir-pikir (dalam rangka berdamai dengan diri saya sendiri dan petugas) pada akhirnya saya selalu membawa koin Rp. 200,- setiap masuk terminal. Ya, kita tahu lah, pecahan Rp. 50,- kan memang langka atau malah sudah ditarik dari pasaran.</p>
<p style="text-align:justify;">Pernah juga suatu hari saya membayar dan tidak diberi karcis oleh petugas. Sadar dengan hal itu, kontan saya menegur petugas dan minta karcis. Sejak saat itu setiap saya membayar retribusi, saya pasti meminta karcis karena saya pikir pendapatan yang diperoleh dari retribusi harusnya sama dengan habisnya karcis. Kalau sampai timpang, saya pikir petugas bisa saja melakukan korupsi.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan, kejadian baru-baru ini membuat saya sedikit tercengang. Sudah tiga kali saya mendapati karcis dengan robekan tidak sempurna. Petugas selalu menyobek karcis dengan posisi miring dan akhirnya jumlah nominal tidak tertera pada karcis. Anda bisa melihat pada gambar di bawah. Pernahkah Anda berpikir, dengan robekan yang tidak sempurna itu, petugas bisa memotong biaya retribusi jauh melebihi jumlah yang sebenarnya tanpa kita tahu karena memang tidak ada bukti.</p>
<p style="text-align:justify;">Begitulah, saya hanya memberikan sedikit wacana bagi Anda yang merasa pengguna jasa terminal supaya bijak dalam membayar jasa retribusi. Pemerintah kota Semarang harusnya juga memperhatikan hal ini. Saya menghimbau untuk memberikan ketetapan yang jelas bagi pengguna jasa. Berapapun nominalnya sebenarnya tidak menjadi masalah, asalkan bukti berupa karcis yang diterima pengguna sama dengan nominal yang dibayarkan. Barangkali sudah saatnya karcis retribusi diganti dengan yang baru, dengan nominal Rp.200,- atau Rp.500,-.</p>
<div id="attachment_849" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://catastrovaprima.files.wordpress.com/2012/01/2012-01-07-21-33-18.jpg"><img class="size-medium wp-image-849" title="karcis retribusi terminal terboyo" src="http://catastrovaprima.files.wordpress.com/2012/01/2012-01-07-21-33-18.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">karcis retribusi terminal terboyo</p></div>
<p style="text-align:justify;">Sekian, selamat berakhir pekan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/catastrovaprima.wordpress.com/848/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/catastrovaprima.wordpress.com/848/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/catastrovaprima.wordpress.com/848/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/catastrovaprima.wordpress.com/848/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/catastrovaprima.wordpress.com/848/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/catastrovaprima.wordpress.com/848/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/catastrovaprima.wordpress.com/848/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/catastrovaprima.wordpress.com/848/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/catastrovaprima.wordpress.com/848/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/catastrovaprima.wordpress.com/848/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/catastrovaprima.wordpress.com/848/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/catastrovaprima.wordpress.com/848/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/catastrovaprima.wordpress.com/848/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/catastrovaprima.wordpress.com/848/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catastrovaprima.wordpress.com&amp;blog=4807601&amp;post=848&amp;subd=catastrovaprima&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catastrovaprima.wordpress.com/2012/01/08/retribusi-terminal-terboyo-semarag/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3b4bb3fa090c5be033df6e7b6448fcad?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">catastrovaprima</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://catastrovaprima.files.wordpress.com/2012/01/2012-01-07-21-33-18.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">karcis retribusi terminal terboyo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>#Read2Share</title>
		<link>http://catastrovaprima.wordpress.com/2011/12/02/842/</link>
		<comments>http://catastrovaprima.wordpress.com/2011/12/02/842/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Dec 2011 15:53:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>catastrovaprima</dc:creator>
				<category><![CDATA[warnawarni]]></category>
		<category><![CDATA[Nulisbuku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catastrovaprima.wordpress.com/?p=842</guid>
		<description><![CDATA[Berikut ini daftar penulis yang masuk dalam buku #read2share yang telah dilaunch 26 November 2011 di Fimela Fest, level one East Mal, Grand Indonesia: 1. 9 Matahari Inspirasiku &#8211; @AyyCiiPlukz 2. Aku dan Semangatku &#8211; Adi Chandra 3. Annie’s Baby &#8211; Khusnul Khotimah, @rhuna_chan 4. Bermimpilah Wahai Sang Pemimpi &#8211; Iik Iklimah, @gueiik 5. Cacing [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catastrovaprima.wordpress.com&amp;blog=4807601&amp;post=842&amp;subd=catastrovaprima&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://catastrovaprima.files.wordpress.com/2011/12/read2share1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-843" title="read2share" src="http://catastrovaprima.files.wordpress.com/2011/12/read2share1.jpg?w=300&#038;h=300" alt="" width="300" height="300" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Berikut ini daftar penulis yang masuk dalam buku #read2share yang telah dilaunch 26 November 2011 di Fimela Fest, level one East Mal, Grand Indonesia:</p>
<p style="text-align:justify;">1. 9 Matahari Inspirasiku &#8211; @AyyCiiPlukz</p>
<p style="text-align:justify;">2. Aku dan Semangatku &#8211; Adi Chandra</p>
<p style="text-align:justify;">3. Annie’s Baby &#8211; Khusnul Khotimah, @rhuna_chan</p>
<p style="text-align:justify;">4. Bermimpilah Wahai Sang Pemimpi &#8211; Iik Iklimah, @gueiik</p>
<p style="text-align:justify;">5. Cacing dan kotorannya &#8211; Ona Machfudha, @QUEEN_OF_BEE</p>
<p style="text-align:justify;">6. Dari Toko Musik, Baju Hingga Buku &#8211; Nyi Penengah Dewanti, @ungnyi</p>
<p style="text-align:justify;">7. Hingga Detak Jantungku Berhenti &#8211; Dian Utami</p>
<p style="text-align:justify;">8. Imaji Terindah &#8211; Septianessty Sutjipto, @netkirei</p>
<p style="text-align:justify;">9. Inginku : Barbara Cartlandnya Indonesia &#8211; Juliana Wina Rome</p>
<p style="text-align:justify;">10. Jangan Bersedih &#8211; Intan Darmawan</p>
<p style="text-align:justify;">11. Jaring Laba-Laba &#8211; Aditia Yudis, @adit_adit</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>12. Jogjakarta &#8211; Catastrova Prima, @pima96</strong></p>
<p style="text-align:justify;">13. Kisah Ketulusan yang Menginspirasi -</p>
<p style="text-align:justify;">14. Mutia Rachma Rinta, @mutekute</p>
<p style="text-align:justify;">15. Magical &#8211; Hilda Nurina, @hildabika</p>
<p style="text-align:justify;">16. Memilih Bahagia &#8211; Sary Ahd , @saryahd</p>
<p style="text-align:justify;">17. Para Priyayi &#8211; Winda Oei, @w1ndoet</p>
<p style="text-align:justify;">18. Pepatah Cina Kuno, Shidney Sheldon Hingga John Grisham &#8211; Yulia Purnama Sari, @lia3x</p>
<p style="text-align:justify;">19. Sang Terpilih &#8211; Anindhita Rustiyan K, @pusbangsawan</p>
<p style="text-align:justify;">20. Sahabat atau Pacar? &#8211; Adyta Dhea Purbaya, @dheaadyta</p>
<p style="text-align:justify;">21. Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya &#8211; Juliana, @julia_ryan</p>
<p style="text-align:justify;">22. Supernova Yang Mengubah Saya &#8211; Rahma Hayati Nurdin, @rahma_hayati</p>
<p style="text-align:justify;">23. The Alchemist &#8211; Randy Lung</p>
<p style="text-align:justify;">24. The Power of Fave Books: Reading, Learning, and Parenting &#8211; Niken Tf Alimah</p>
<p style="text-align:justify;">Buat yang berminat silahkan kirim email ke admin@nulisbuku.com sertakan nama, alamat, no hp. Subject: buku #read2share.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/catastrovaprima.wordpress.com/842/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/catastrovaprima.wordpress.com/842/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/catastrovaprima.wordpress.com/842/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/catastrovaprima.wordpress.com/842/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/catastrovaprima.wordpress.com/842/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/catastrovaprima.wordpress.com/842/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/catastrovaprima.wordpress.com/842/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/catastrovaprima.wordpress.com/842/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/catastrovaprima.wordpress.com/842/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/catastrovaprima.wordpress.com/842/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/catastrovaprima.wordpress.com/842/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/catastrovaprima.wordpress.com/842/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/catastrovaprima.wordpress.com/842/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/catastrovaprima.wordpress.com/842/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catastrovaprima.wordpress.com&amp;blog=4807601&amp;post=842&amp;subd=catastrovaprima&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catastrovaprima.wordpress.com/2011/12/02/842/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3b4bb3fa090c5be033df6e7b6448fcad?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">catastrovaprima</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://catastrovaprima.files.wordpress.com/2011/12/read2share1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">read2share</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sedu Sedan</title>
		<link>http://catastrovaprima.wordpress.com/2011/10/22/sedu-sedan-2/</link>
		<comments>http://catastrovaprima.wordpress.com/2011/10/22/sedu-sedan-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Oct 2011 16:47:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>catastrovaprima</dc:creator>
				<category><![CDATA[inspirasi liar]]></category>
		<category><![CDATA[FFDadakan]]></category>
		<category><![CDATA[Nulisbuku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catastrovaprima.wordpress.com/?p=832</guid>
		<description><![CDATA[Sedu sedan yang panjang memberi intro sedih pada malam yang belum cukup tua. Pekat di luar sana hanya mampu menatapmu iba. Kamu hanya butuh pelukan dari seorang sahabat. Lebih dari itu, kamu juga butuh ibu. Kamu butuh elusan ringan di punggung juga bisikan “You’ll be fine, Dear”. Tapi kamu yang hobi patah hati rupanya sedang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catastrovaprima.wordpress.com&amp;blog=4807601&amp;post=832&amp;subd=catastrovaprima&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Sedu sedan yang panjang memberi intro sedih pada malam yang belum cukup tua. Pekat di luar sana hanya mampu menatapmu iba. Kamu hanya butuh pelukan dari seorang sahabat. Lebih dari itu, kamu juga butuh ibu. Kamu butuh elusan ringan di punggung juga bisikan <em>“You’ll be fine, Dear”</em>. Tapi kamu yang hobi patah hati rupanya sedang berdiam seorang diri di kamarmu yang dipenuhi musik-musik melankoli. Kamu sibuk mengumpulkan kenangan-kenangan indah. Kamu merindukan antusias-antusias yang telah hilang. Kamu ditikam pedih berkepanjangan. Dan itulah, kenapa sedu sedan panjang tak jua berangsur reda.</p>
<p style="text-align:justify;">Kamu sudah berusaha. Kamu terlalu keras berusaha. Bahkan mungkin kamu tak perlu memperbaiki dirimu sendiri untuk jadi lebih baik. Kamu tak perlu terlalu setia. Toh pada kenyataannya kamu tidak pernah mendapatkan cinta yang sempurna. Kamu dua kali dikecewakan oleh pria yang membawamu terbang. Kamu dijatuhkan tanpa alasan berdalih Tuhan. Sejujurnya mereka hendak berkata “Aku tidak pernah sungguh-sungguh mencintaimu, dan aku tidak bersungguh-sungguh menginginkanmu”. Kamu terluka, amat terluka. Dan kamu lelah dengan semua ini. Kamu hanya ingin bersandar pada kursi goyang yang membuatmu lelap. Kamu ingin melupakan semua ini barang sejenak karena keterbatasan kapasitas hati.</p>
<p style="text-align:justify;">Kamu mungkin tidak butuh pria yang tampan dan gemilang. Kamu tak butuh mereka yang digilai banyak perempuan sampai-sampai perempuan sepertimu yang tidak mengincar apa-apa dari mereka justru lebih mudah untuk dilukai. Kamu mungkin hanya butuh pria sederhana yang rela menjemputmu tengah malam saat kamu pulang dari luar kota. Kamu mungkin hanya butuh pria sederhana yang mau menemanimu makan nasi bungkus di pinggir jalan mengingat kamu seorang vegetarian. Kamu mungkin butuh pria yang tenggelam dalam lautan aksara dan buku-buku—yang kadang hanyut dalam pemikiran-pemikiran liarnya sendiri. Kamu mungkin butuh pria yang sama-sama sering disakiti sepertimu—biar kalian bisa saling berempati.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedu sedan panjangmu melemah, meski dadamu masih begitu sakit. Tidak ada yang salah dengan kesetiaanmu. Tidak ada yang salah dengan ketulusan hatimu. Tidak ada yang salah dengan segala macam kebaikan yang kamu tanamkan. Tidak ada yang salah dengan dirimu. Tidak ada yang salah dengannya. Tidak ada yang salah dengan keadaan. Ini hanyalah momentum kecil yang harus kamu lakoni. Hingga pada akhirnya nanti, kamu akan tahu bahwa cinta adalah prosesi <em>take and give</em> yang berbelit-belit dan <em>overdramatic</em>. Butuh banyak sekali pembuktian. Butuh waktu. Butuh di uji biar jadi tangguh. Bukan sekedar kata.</p>
<p style="text-align:justify;">“Is..!” Aku mengetuk pintu kamarmu.</p>
<p style="text-align:justify;">Kamu keluar dengan wajah merah dan basah. Inilah gayamu yang paling berantakan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kamu kenapa?” Aku tertawa kecil. Kamu tidak menjawab. “patah hati?” Lalu aku terbahak. Kamu lantas meninju perutku.</p>
<p style="text-align:justify;">Kembali kamu bersedu sedan pelan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kesini..” Kamu mendekatiku dan sebelum kamu menghambur ke pelukanku, lebih dulu kurengkuh engkau yang ringkih. “You’ll be fine, Dear”</p>
<p style="text-align:justify;">Dan tangismu meledak. Parah.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Harusnya kamu memilih aku, Is. Aku satu-satunya yang setia sejak dulu.</em></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>FFDadakan &#8211; @nulisbuku</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/catastrovaprima.wordpress.com/832/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/catastrovaprima.wordpress.com/832/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/catastrovaprima.wordpress.com/832/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/catastrovaprima.wordpress.com/832/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/catastrovaprima.wordpress.com/832/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/catastrovaprima.wordpress.com/832/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/catastrovaprima.wordpress.com/832/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/catastrovaprima.wordpress.com/832/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/catastrovaprima.wordpress.com/832/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/catastrovaprima.wordpress.com/832/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/catastrovaprima.wordpress.com/832/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/catastrovaprima.wordpress.com/832/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/catastrovaprima.wordpress.com/832/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/catastrovaprima.wordpress.com/832/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catastrovaprima.wordpress.com&amp;blog=4807601&amp;post=832&amp;subd=catastrovaprima&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catastrovaprima.wordpress.com/2011/10/22/sedu-sedan-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3b4bb3fa090c5be033df6e7b6448fcad?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">catastrovaprima</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Purnama Jelita</title>
		<link>http://catastrovaprima.wordpress.com/2011/10/13/purnama-jelita/</link>
		<comments>http://catastrovaprima.wordpress.com/2011/10/13/purnama-jelita/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Oct 2011 18:07:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>catastrovaprima</dc:creator>
				<category><![CDATA[inspirasi liar]]></category>
		<category><![CDATA[bondowoso]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>
		<category><![CDATA[rumah mungil]]></category>
		<category><![CDATA[sepupu]]></category>
		<category><![CDATA[wonosobo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catastrovaprima.wordpress.com/?p=823</guid>
		<description><![CDATA[Aku masih ingat, Lebaran bulan lalu Mbak Nunik—kakak sepupuku—berbisik padaku “Titip Habib ya, aku pengen dia banyak ngobrol sama kamu, dia anaknya tertutup. Aku pengen dia masuk Akpol”. Tapi, siapa menyangka hari itu terakhir kali aku mencium pipinya. Mbak Nunik telah berpulang pada rahim Tuhan. Menjadi kepompong. Terbungkus kain putih. Kaku. Fajar belum genap ketika [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catastrovaprima.wordpress.com&amp;blog=4807601&amp;post=823&amp;subd=catastrovaprima&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Aku masih ingat, Lebaran bulan lalu Mbak Nunik—kakak sepupuku—berbisik padaku “Titip Habib ya, aku pengen dia banyak ngobrol sama kamu, dia anaknya tertutup. Aku pengen dia masuk Akpol”. Tapi, siapa menyangka hari itu terakhir kali aku mencium pipinya. Mbak Nunik telah berpulang pada rahim Tuhan. Menjadi kepompong. Terbungkus kain putih. Kaku.<span id="more-823"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Fajar belum genap ketika ibu menelpon. Aku yang disekap kantuk tak bersuara, kudengarkan saja ibu menyapa. Tapi begitu ibu bilang Mbak Nunik meninggal karena kecelakaan, mataku spontan menyala. Hatiku mendadak sakit. Kepergian ini terlalu cepat, batinku. Pikiranku langsung tertuju pada suami dan empat anak Mbak Nunik. Tak bisa kubayangkan bagaimana empat bocah itu bertahan hidup tanpa dewa mereka di rumah. Kenapa kusebut dewa, karena Mbak Nunik adalah ibu rumah tangga yang berfungsi penuh. Tak pernah sekalipun aku melihat dia ongkang-ongkang kaki. Mbak Nunik mengelola segala masalah dengan sangat baik, meladeni suami dan anak-anak dengan keinginan mereka sendiri-sendiri, dan pengayom bagi keluarga besarnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Siap-siap ya, nanti kami jemput” kata ibu.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Nggih, Bu”<strong><a title="" href="/NOTES/Cerpen%20-%20Published%20On%20Facebook/Candikala.docx#_ftn1">[1]</a></strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Ketika kami tiba di rumah mungil yang terletak di lilitan gang itu, suasana masih sepi. Hanya beberapa gelintir orang berbaju hitam yang datang melayat. Mungkin saja para tetangga telah melayat tadi pagi, karena kami datang sekitar pukul 12. Sedang jenazah masih dalam perjalanan dari Bondowoso dan diperkirakan empat jam lagi baru sampai di rumah duka di Wonosobo. Kami menunggu dalam cemas dan haru sembari mendengar sambil lalu kronologis kecelakaan yang dialami Mbak Nunik. Wanita tua keriput yang tak lain adalah ibunda terkasih Mbak Nunik itu tak bosan menceritakan kejadian tragis pada tamu yang datang silih berganti. Tanpa airmata. Setelah itu beliau meminta maaf barangkali almarhumah punya salah dan minta didoakan.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku duduk bersila. Didepanku, selain ibu Mbak Nunik, anak tertua Mbak Nunik berlinangan airmata. Dia dikerubuti sepupu-sepupuku yang lain. Sebentar tenang, sebentar histeris sambil mencubiti punggung tangannya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Nisa pasti mimpi, Nisa pasti mimpi. Kemarin sore mama masih telpon Nisa” lalu meledak tangisnya. Kami semua tanpa sadar larut dalam prosesi kehilangan ini. Mataku kadang-kadang basah bila kutemukan momentum yang mencabik hatiku. Kata ibuku, menangis pertanda belum ikhlas dan membuat perjalanan orang yang meninggal terhambat. Jadi, kuusahakan untuk tidak mencucurkan airmata. Dan tak lama berselang, aku pun meninggalkan ruangan itu karena terlalu lelah duduk. Kakiku kesemutan dan aku bermaksud melemaskan otot-otot yang menegang.</p>
<p style="text-align:justify;">Di luar, bapak-bapak sibuk menata pembaringan terakhir untuk Mbak Nunik. Dibuat sebuah ruang bersekat dengan kain warna hijau. Di tengah-tengah ruang terdapat meja seluas tempat tidur yang telah dilapisi kain kafan dan plastik sebagai tempat persinggahan jenazah sementara sebelum dimakamkan. Beberapa ibu disebelahku berbisik-bisik, turut prihatin. Aku sendiri mengamati prosesi itu dengan pedih terselip. Kematian benar-benar seperti mimpi buruk yang datang tiba-tiba. Kepergian Mbak Nunik begitu mendadak. Tak ada yang benar-benar siap kehilangannya. Termasuk aku.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Wes jam papat, kok durung teko yo”<a title="" href="/NOTES/Cerpen%20-%20Published%20On%20Facebook/Candikala.docx#_ftn2"><strong>[2]</strong></a></em> celetuk seorang ibu di sebelah kananku. <em>“meh dikubur jam piro iki”<a title="" href="/NOTES/Cerpen%20-%20Published%20On%20Facebook/Candikala.docx#_ftn3"><strong>[3]</strong></a></em></p>
<p style="text-align:justify;">“Sekedap malih, Bu” kataku. Ibu itu menatapku sendu, mengangguk pelan, lalu menyeka airmata yang tersembul di sudut mata.</p>
<p style="text-align:justify;">Perkiraanku tidak meleset. Dari ujung gang, kulihat suami Mbak Nunik berjalan sambil menggendong anak bungsunya. Matanya sembab, wajahnya basah. Orang-orang dari dalam rumah seketika berhamburan keluar menyambut mereka dengan pelukan. Aku yang berdiri di dekat Nisa spontan melingkarkan lengan ke tubuhnya. Hanya ada gema “innalillahi” dan isak tangis di udara seiring digotongnya jenazah menuju rumah duka. Bulu kudukku meremang. Mataku panas dan ulu hatiku sakit karena menahan tangis. Aku tidak boleh ikut-ikutan menangis, janjiku dalam hati.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ikhlas, Nisa” bisikku.</p>
<p style="text-align:justify;">Nisa mengangguk sambil bergumam “Mama..”</p>
<p style="text-align:justify;">Tubuhnya benar-benar tanpa daya begitu jenazah mamanya dibaringkan. Orang-orang bergerak semakin cepat dan panik. Semua ingin menonton jenazah. Suasana sedikit kisruh seperti hiruk pikuk menonton konser Radiohead. Kubantu Nisa berdiri untuk melihat mamanya. Begitu kafan dibebaskan dari ikatan dan disibak, sendi kakinya melemas, tubuhnya ditarik gravitasi paksa, dan dia pingsan. Aku hampir terjengkang karena menahan tubuhnya yang berat. Orang-orang sesenggukan makin keras melihat Nisa pingsan. Aku memekik minta tolong dan kami menepikan tubuh Nisa. Setelahnya prosesi tetap berjalan. Kyai tetap membaca doa dengan khusyu’.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku berdiri tepat disisi pembaringan, ikut berdoa, dan kulihat darah itu merembes di bagian betis. Lagi-lagi aku merinding. Kepalaku tak berhenti merangkai-rangkai imajinasi sebab kecelakaan itu. Sungguh ingin kulihat jasad Mbak Nunik yang belum sempat kulihat karena tadi aku harus menepikan tubuh Nisa.</p>
<p style="text-align:justify;">Tak berapa lama kemudian, datanglah anak kedua Mbak Nunik. Habib—yang sempat dititipkannya padaku. Bocah yang baru menginjak remaja itu langsung menubruk kakaknya sambil meraung-raung.</p>
<p style="text-align:justify;">“Maafin Habib, Kak Nisa.. Maafin Habib.. Ampun, Kak Nisa.. Habib nggak bisa jagain mama”</p>
<p style="text-align:justify;">Kali ini airmataku terlanjur jatuh.</p>
<p style="text-align:justify;">“Udah, Bib.. Ini musibah, kamu harus kuat” ujar Nisa. Mereka berpelukan erat sekali.</p>
<p style="text-align:justify;">“Maafin Habib, Kak Nisa.. Habib nggak sengaja..”</p>
<p style="text-align:justify;">Jauh diatas sana, separuh langit memar oleh kelabu yang menyiratkan duka mendalam. Tak ada semburat merah penutup hari. Udara dingin Wonosobo menyelimuti tubuh orang-orang yang berjalan bergerombol menuju masjid. Jenazah hendak di sholati agar bisa segera dimakamkan. Dan kabutpun mulai turun, disusul rintik gerimis. Aku memikirkan Habib. Hanya bocah itu yang kupikirkan. Tiba-tiba aku teringat cerita Mbak Nunik perihal Habib yang hatinya tak sebesar ketiga saudaranya. Habib paling pemalu dan kurang percaya diri. Habib paling pendiam. Habib tertutup. Habib yang paling patuh pada kedua orangtuanya. Setelah kejadian ini, bisa jadi dia semakin jadi individu yang sengaja mengisolasi diri dengan rasa bersalah. Bisa jadi, dialah yang paling tertekan secara lahir juga batin.</p>
<p style="text-align:justify;">Kuputar kembali kronologis kecelakaan yang merenggut nyawa Mbak Nunik berdasarkan tutur ibu Mbak Nunik. Sore itu Habib menelpon Mbak Nunik dari rumah sakit. Habib diserempet becak dan jatuh dari motor. Tapi, tidak ada luka yang serius. Hanya lecet dan sisa kaget yang masih tinggal di dadanya. Habib meyakinkan ibunya bahwa dia baik-baik saja dan akan segera pulang ke rumah. Tapi, ibu mana yang tidak cemas mendengar berita kecelakaan menimpa anaknya? Mbak Nunik bergegas menuju rumah sakit dengan kekhawatiran, ditemani adiknya yang baru saja datang dari Wonosobo.</p>
<p style="text-align:justify;">Sampai di rumah sakit dan mengetahui Habib baik-baik saja Mbak Nunik bersyukur. Diperiksanya seluruh tubuh Habib yang masih dibalut seragam sekolah. Lecet di bagian siku yang tidak serius. Lalu mereka pulang. Adik Mbak Nunik membawa motor yang dipakai Habib, sedang Mbak Nunik membonceng Habib dengan motor yang mereka bawa dari rumah. Senja hampir merapat pada malam. Separuh langit telah merona dengan warna merah memukau. Habib berusaha mengatur nafasnya yang tak beraturan akibat kecelakaan tadi. Entah melamun atau apa, Habib tidak menyadari ada becak di dekatnya. Rok Mbak Nunik yang berkibar ditiup angin tersangkut pada penutup roda becak. Tubuh besar Mbak Nunik kehilangan keseimbangan seketika, dia terlepas dari motor, berguling-guling di jalan raya, dan kepalanya jadi santapan ban truk.</p>
<p style="text-align:justify;">“Mbak Nunik dimakan candikala” bisik salah satu sepupuku.</p>
<p style="text-align:justify;">Lamunanku buyar. Mendadak mitos yang selalu didengungkan orang-orang tua saat kami kecil bergema di kepalaku. Senja selalu penuh dengan raksasa jahat yang kami sebut candikala. Jangan pernah keluar di waktu senja karena raksasa membuat semua panca indera kita tertipu. Banyak sekali kecelakaan yang terjadi saat senja. Bahkan aku ingat setahun yang lalu ayahku kecelakaan juga saat raksasa candikala berkuasa. Mobil ayah menabrak pohon menjelang Maghrib.</p>
<p style="text-align:justify;">Senja. Candikala. Setelah dewasa aku tahu bahwa candikala merupakan fenomena alam yang menakjubkan. Semburat merah yang merona itu selalu menyita perhatianku. Aku lupa mitos- mitos yang ditasbihkan para orangtua. Aku bahkan sering jalan-jalan ke pantai dengan pacarku di waktu senja karena kami ingin mengabadikan kilauan sinar itu dalam bidikan kamera. Senja menjadi inspirasi dalam tulisan-tulisanku karena dia menyimpan banyak sekali rahasia. Senja yang misterius. Aku benar-benar lupa bahwa ada negeri para raksasa disana. Ah.. Mana bisa hal-hal seperti ini dipercaya?</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Lima tahun kemudian.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">“Habib tadi telpon” kata suamiku begitu aku turun dari mobil.</p>
<p style="text-align:justify;">“Telpon rumah? Kok ga telpon hp?” tanyaku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Nonaktif katanya” Suamiku mengambil anak kami dari gandonganku. “penting katanya”</p>
<p style="text-align:justify;">Selepas mengganti baju kerja dengan piyama, aku berjalan ke balkon. Kutelpon keponakanku yang sekarang tinggal di Kalimantan itu. Tak lama berselang setelah ibunya meninggal, Habib masuk Akademi Kepolisian dan dia sekarang sedang bertugas di Kalimantan. Persis seperti keinginan Mbak Nunik sebelum meninggal. Sedang Nisa baru saja jadi PNS dan tetap tinggal di Bondowoso bersama ayahnya. Dua adiknya sekarang sudah duduk di SMP dan SMA. Tahun lalu ayah mereka pensiun dan secara otomatis baik Nisa maupun Habib menjadi menopang utama keluarga. Aku benar-benar menyaksikan mereka jatuh bangun sepeninggal Mbak Nunik. Anak-anak belajar makan apa yang telah disajikan, tidak lagi santapan sesuai keinginan mereka masing-masing. Nisa belajar mengerjakan pekerjaan rumah. Ayah mereka belajar mengelola uang, tidak hanya mencari dan setor. Habib belajar menjadi pria tangguh. Dan dua adiknya belajar tidur sendirian.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Ono opo, Bib?”<a title="" href="/NOTES/Cerpen%20-%20Published%20On%20Facebook/Candikala.docx#_ftn4"><strong>[4]</strong></a></em></p>
<p style="text-align:justify;">“Tante ada waktu kapan? Habib pengen ketemu tante”</p>
<p style="text-align:justify;">“Weekend. Di rumah ya. Ada apa sih?”</p>
<p style="text-align:justify;">Bocah itu cengar-cengir di telpon. Baru kali ini dia tampak ceria.</p>
<p style="text-align:justify;">“Mau ngenalin pacar Habib sama Tante”</p>
<p style="text-align:justify;">Spontan aku tertawa sampai suamiku menengok ke arahku. Kuberi tanda dengan kedipan mata lalu kutekan <em>loudspeaker</em> biar suamiku ikut mendengar percakapan kami. Lantas suamiku tertawa kecil.</p>
<p style="text-align:justify;">“Myggi apa kabar, Tante? Udah bisa apa dia?” Habib menanyakan kabar anakku.</p>
<p style="text-align:justify;">Suamiku langsung berseloroh, “Myggi udah bisa merangkak, Bib.. Sayangnya belum bisa jatuh cinta” Dari seberang Habib tertawa riuh.</p>
<p style="text-align:justify;">Kugendong anakku dan kubiarkan suamiku mengobrol dengan Habib. Tiba-tiba aku rindu Mbak Nunik. Seminggu lagi kalau ada waktu mungkin akan kusempatkan mengunjungi makamnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Sepertinya dia sudah benar-benar sembuh dari luka itu” kata suamiku. Aku menyetujuinya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Tugasku selesai”</p>
<p style="text-align:justify;">Dari balkon ini kusaksikan langit bergradasi. Biru menjelma jadi jingga yang sahaja lalu sekumpulan bercak merah keemasan menyapa. Burung-burung berbondong-bondong pulang ke negeri mereka yang jauh dan tak terjangkau manusia. Senja masih datang dan menjadi bukti keabadian perputaran waktu.</p>
<div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div style="text-align:justify;">
<p><a title="" href="/NOTES/Cerpen%20-%20Published%20On%20Facebook/Candikala.docx#_ftnref1">[1]</a> “Ya, Bu”</p>
</div>
<div style="text-align:justify;">
<p><a title="" href="/NOTES/Cerpen%20-%20Published%20On%20Facebook/Candikala.docx#_ftnref2">[2]</a> “Sudah jam empat, kok belum datang ya”</p>
</div>
<div style="text-align:justify;">
<p><a title="" href="/NOTES/Cerpen%20-%20Published%20On%20Facebook/Candikala.docx#_ftnref3">[3]</a> “Mau dikubur jam berapa ini”</p>
</div>
<div>
<p style="text-align:justify;"><a title="" href="/NOTES/Cerpen%20-%20Published%20On%20Facebook/Candikala.docx#_ftnref4">[4]</a> “Ada apa, Bib?”</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>[Dimuat di Tabloid Cempaka Edisi 28 - XXII - 8-14 Oktober 2011].</strong></p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/catastrovaprima.wordpress.com/823/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/catastrovaprima.wordpress.com/823/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/catastrovaprima.wordpress.com/823/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/catastrovaprima.wordpress.com/823/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/catastrovaprima.wordpress.com/823/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/catastrovaprima.wordpress.com/823/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/catastrovaprima.wordpress.com/823/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/catastrovaprima.wordpress.com/823/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/catastrovaprima.wordpress.com/823/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/catastrovaprima.wordpress.com/823/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/catastrovaprima.wordpress.com/823/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/catastrovaprima.wordpress.com/823/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/catastrovaprima.wordpress.com/823/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/catastrovaprima.wordpress.com/823/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catastrovaprima.wordpress.com&amp;blog=4807601&amp;post=823&amp;subd=catastrovaprima&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catastrovaprima.wordpress.com/2011/10/13/purnama-jelita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3b4bb3fa090c5be033df6e7b6448fcad?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">catastrovaprima</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kembali Rindu</title>
		<link>http://catastrovaprima.wordpress.com/2011/10/13/kembali-rindu/</link>
		<comments>http://catastrovaprima.wordpress.com/2011/10/13/kembali-rindu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Oct 2011 05:06:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>catastrovaprima</dc:creator>
				<category><![CDATA[inspirasi liar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catastrovaprima.wordpress.com/?p=820</guid>
		<description><![CDATA[Segalanya sedang berhenti pada ujung hening yang meletup-letup dan kita terjebak dalam perenungan riuh yang panjang. Aku sakit, kamu sakit, kita berdua sama-sama sakit. Tapi, aku hanya ingin jujur. Jujur padamu, jujur pada diriku sendiri bahwa secara perlahan-lahan hatiku tak lagi bergetar. Hari demi hari, aku semakin tak mampu menatap wajahmu. Hasratku susut entah sejak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catastrovaprima.wordpress.com&amp;blog=4807601&amp;post=820&amp;subd=catastrovaprima&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Segalanya sedang berhenti pada ujung hening yang meletup-letup dan kita terjebak dalam perenungan riuh yang panjang. Aku sakit, kamu sakit, kita berdua sama-sama sakit. Tapi, aku hanya ingin jujur. Jujur padamu, jujur pada diriku sendiri bahwa secara perlahan-lahan hatiku tak lagi bergetar.<span id="more-820"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Hari demi hari, aku semakin tak mampu menatap wajahmu. Hasratku susut entah sejak kapan dan aku sadar, kamu sungguh tidak layak didera. Kamu tidak seharusnya kusakiti dengan diam panjang—yang aku sendiri bahkan tak tahu sampai kapan perasaan asing ini singgah—karena aku menyayangimu utuh sejak dulu. Kamu satu-satunya yang memahamiku karena kita sama. Namun, rupanya aku butuh kemeriahan yang berbeda.  Dan ketika kusadari aku tak lagi ‘jatuh’, aku menjadi sedemikian terluka. Tak mampu kurangkum semuanya. Sekali lagi, mengingat kamu tidak layak didera.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi, kebersamaan semu yang kupertahankan ternyata tidak mengobati apapun. Lama-lama aku takut kegelisahan itu bertumpuk seperti bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Aku tidak memaksamu untuk mengerti semua ini—bahwa cinta tidak lagi sama—karena aku pun sama denganmu. Lepaskan, lepaskan saja. Biarkan pundakmu lebih ringan dari sebelumnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tak ada yang perlu kau takutkan. Ini tentang persoalan adaptasi dengan kehidupan baru. Kita hanya perlu keberanian dan penerimaan, bukan sangkalan-sangkalan yang hanya akan berbuah lelah tak bermuara. Kita perlu ruang untuk merenung. Kita perlu waktu untuk membaur dengan wacana-wacana yang terlewat dalam hubungan kita. Kita perlu jeda untuk kembali merindu, semoga.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Untuk: Aga Petir.</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/catastrovaprima.wordpress.com/820/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/catastrovaprima.wordpress.com/820/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/catastrovaprima.wordpress.com/820/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/catastrovaprima.wordpress.com/820/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/catastrovaprima.wordpress.com/820/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/catastrovaprima.wordpress.com/820/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/catastrovaprima.wordpress.com/820/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/catastrovaprima.wordpress.com/820/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/catastrovaprima.wordpress.com/820/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/catastrovaprima.wordpress.com/820/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/catastrovaprima.wordpress.com/820/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/catastrovaprima.wordpress.com/820/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/catastrovaprima.wordpress.com/820/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/catastrovaprima.wordpress.com/820/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catastrovaprima.wordpress.com&amp;blog=4807601&amp;post=820&amp;subd=catastrovaprima&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catastrovaprima.wordpress.com/2011/10/13/kembali-rindu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3b4bb3fa090c5be033df6e7b6448fcad?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">catastrovaprima</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tongky Dimakan Televisi</title>
		<link>http://catastrovaprima.wordpress.com/2011/10/12/tongky-dimakan-televisi/</link>
		<comments>http://catastrovaprima.wordpress.com/2011/10/12/tongky-dimakan-televisi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Oct 2011 12:55:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>catastrovaprima</dc:creator>
				<category><![CDATA[inspirasi liar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catastrovaprima.wordpress.com/?p=816</guid>
		<description><![CDATA[Cempluk dan ibunya hari ini sedang malas berburu tikus. Mereka sudah kenyang. Tuan Besar yang baru saja pulang dari luar kota membawakan makan malam istimewa untuk mereka. Daging salmon kemasan yang gurih. Keduanya mendapat jatah di piring yang terpisah. Isinya sama, hanya porsinya yang berbeda. Ibunya dapat jatah lebih banyak, tentu saja. Tapi Cempluk boleh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catastrovaprima.wordpress.com&amp;blog=4807601&amp;post=816&amp;subd=catastrovaprima&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Cempluk dan ibunya hari ini sedang malas berburu tikus. Mereka sudah kenyang. Tuan Besar yang baru saja pulang dari luar kota membawakan makan malam istimewa untuk mereka. Daging salmon kemasan yang gurih. Keduanya mendapat jatah di piring yang terpisah. Isinya sama, hanya porsinya yang berbeda. Ibunya dapat jatah lebih banyak, tentu saja. Tapi Cempluk boleh mengambil milik ibunya bila ia masih lapar.<span id="more-816"></span></p>
<p style="text-align:justify;">“Kalau masih lapar, kamu boleh habiskan makanan ibu,” kata ibunya.</p>
<p style="text-align:justify;">Cempluk yang piringnya sudah kosong berjalan mendekati ibunya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ibu sudah kenyang?” tanya Cempluk.</p>
<p style="text-align:justify;">“Lumayan. Habiskan saja!”</p>
<p style="text-align:justify;">Tanpa basa-basi, Cempluk segera menghabiskan jatah ibunya. Setelah itu, mereka berjalan menuju ruang tengah. Seperti biasa, seusai makan mereka duduk di bawah sofa.  Hampir setiap malam ibunya bercerita sebelum ia tidur. Tentang banyak hal yang terjadi di rumah ini. Cempluk senang sekali.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ayo, Bu. Aku sudah siap mendengar cerita!” kata Cempluk semangat.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu ibunya pun bercerita.</p>
<p style="text-align:justify;">**</p>
<p style="text-align:justify;">Setiap malam, saat penghuni rumah terlelap, semua benda yang ada di rumah ini bisa berbicara. Mereka saling bercerita tentang pengalaman mereka setiap hari. Ada televisi, AC, sofa, telepon, sapu, lemari, karpet, meja, toples, mainan dan masih banyak lagi. Selain berbicara, benda-benda itu juga bisa merasa. Mereka dapat bersedih dan berbahagia.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada suatu hari, beberapa dari mereka berkeluh kesah. Mereka adalah robot-robotan yang tertata rapi di dalam lemari. Dibeli dengan harga mahal dan tidak pernah disentuh oleh pemiliknya. Mereka merasa tidak berguna. Padahal semua barang diciptakan untuk digunakan sebagaimana fungsinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Si Sofa yang bijak hanya bisa diam. Ia membenarkan keluh kesah para robot mainan itu. Tongky, anak tunggal pemilik rumah ini hampir tidak pernah menyentuhnya. Setiap hari, anak laki-laki itu justru berdiam di sofa sambil memegang <em>remote </em>selama berjam-jam. Bangun tidur di depan televisi, sarapan di depan televisi, pulang sekolah di depan televisi, begitu seterusnya sampai malam. Dia selalu sendirian. Ayahnya sering ke luar kota, sedangkan ibunya mengurus toko. Pembantu di rumah ini hanya satu. Perempuan yang masih berusia belasan tahun itu hanya bekerja dan sesekali menonton televisi bila ada waktu luang. Dia pun jarang mengajak Tongky bicara.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ayahnya membeli kami semua dengan harga yang mahal,” kata robot berwarna kuning.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kami diberikan sebagai oleh-oleh agar Tongky senang,” timpal robot berwarna perak.</p>
<p style="text-align:justify;">“Tapi nyatanya kami hanya dipajang dan tidak pernah dimainkan..”</p>
<p style="text-align:justify;">Si Sapu yang berdiri di pojok terharu mendengar pengakuan para robot. Si Telepon pun demikian. Semua yang ada di ruangan itu bersimpati pada para robot. Kecuali televisi.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kalian semua memang tidak berguna! Aku adalah satu-satunya barang yang berguna di rumah ini. Tongky selalu suka padaku. Dia menyalakan aku sepanjang hari. Bahkan ibunya merasa aman bila Tongky bersamaku daripada bermain di luar. Begitupun ibu dan ayahnya. Selepas bekerja, mereka selalu menontonku. Di hari libur aku berjaga penuh. Apalagi di musim hujan. Orang-orang di rumah ini lebih suka menonton aku daripada bepergian keluar rumah di kala liburan. Bisakah kalian bayangkan betapa berartinya aku untuk mereka?” kata Si Televisi seraya terbahak.</p>
<p style="text-align:justify;">“Jaga mulutmu, Televisi!” teriak Si Sofa. “Kamu terlalu sombong! Bukankah kamu yang membuat Tongky malas belajar? Bukankah kamu yang membuat Tongky tidak punya teman bermain? Apa kamu tidak kasihan pada Tongky?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ah kalian iri padaku!” dengus Si Televisi.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kami tidak iri padamu, kami justru kasihan. Bukankah dengan dinyalakan terus menerus kamu juga akan lelah?” tambah Si Toples.</p>
<p style="text-align:justify;">Tiba-tiba pintu kamar Tongky terbuka. Anak itu mengusap matanya lalu menguap lebar. Rupanya gaduh pertengkaran di ruang tengah mengusik tidurnya. Tongky terpaku melihat pertengkaran itu. Dia berjalan pelan-pelan mendekati sofa. Televisi di depannya sedang bergerak-gerak. Lalu tiba-tiba keluar sinar putih dari layar televisi. Tongky tersedot ke dalam. Semua benda yang ada di ruangan itu berusaha menolong Tongky tapi percuma.</p>
<p style="text-align:justify;">“Tongky dimakan Si Televisi,” gumam Si Sapu. “Kasihan sekali anak itu.”</p>
<p style="text-align:justify;">Tongky terperangkap di dalam kotak itu berhari-hari. Dia melihat banyak kepalsuan di sana. Pemain-pemain sinetron yang kelelahan, adegan-adegan yang direkayasa, orang-orang yang tidak pernah tidur dan dipaksa bekerja, penjual-penjual iklan yang mengantri menjajakan dagangan, dan masih banyak lainnya. Tongky bergidik. Selama ini yang dilihatnya tidak benar-benar nyata. Tayangan misteri yang sangat disukainya ternyata bukan sungguhan. Orang-orang yang memerankan tokoh menyeramkan itu justru sedang bercakap-cakap dan tertawa-tawa. Itu hanya <em>make-up</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">“Tolong aku!” teriak Tongky dari dalam.</p>
<p style="text-align:justify;">Benda-benda yang ada di ruangan itu kebingungan. Mereka tidak tahu bagaimana menyelamatkan Tongky dari kotak berwarna hitam itu. Para robot akhirnya berunding. Bagaimanapun juga Tongky harus keluar dari tubuh televisi.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kau punya usul?” tanya robot berwarna kuning.</p>
<p style="text-align:justify;">“Tidak.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Aku punya!” bisik robot perak. “Kita suruh saja Cipluk mencabut kabel”</p>
<p style="text-align:justify;">Cipluk—ibunya Cempluk—yang baru saja pulang berburu tikus dihadang oleh Si Sapu. Semua rencana yang telah disusun para robot diberitahukan. Cipluk setuju. Ia mengendap-endap keluar ruangan diikuti para robot. Mereka mencari kabel yang terhubung dengan televisi lewat atap karena televisi itu ditanam dalam tembok. Begitu ketemu, Cipluk dan para robot langsung bermain-main dengan kabel itu sampai terlepas dari stop kontak.</p>
<p style="text-align:justify;">Tongky terlempar keluar dan semua benda kecuali televisi bersorak girang. Sejak hari itu, setiap Tongky ingat apa yang terjadi di dalam kotak hitam, ia langsung mematikan televisi. Dia hanya menonton film kartun yang disukainya saja. Dalam sehari, Tongky menonton televisi tak lebih dari dua jam. Dia tahu mana yang boleh ditonton dan mana yang tidak layak ditonton.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang dia lebih suka membuka lemari dan mengeluarkan robot-robotan pemberian ayahnya untuk dimainkan bersama tetangga-tetangganya atau bermain sepak bola di tanah lapang dekat rumahnya. Dengan begitu Tongky punya banyak waktu untuk belajar juga.</p>
<p style="text-align:justify;">**</p>
<p style="text-align:justify;">Cempluk mulai mengantuk.</p>
<p style="text-align:justify;">“Wah, ibu hebat,” ujar Cempluk bangga.</p>
<p style="text-align:justify;">“Dengan begitu tugas televisi tidak berat lagi. Tongky juga punya banyak kawan baru sekarang. Dan lebih sayang pada kita.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Iya, kemarin Tongky membawaku ke kamarnya. Dia mengajakku bermain dengan robot-robotnya.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Baiklah, sekarang kau harus tidur. Ibu harus berburu tikus agar mereka tidak meninggalkan kotoran dimana-mana. Tidurlah yang pulas, Nak!”</p>
<p style="text-align:justify;">Cempluk pun lelap dengan senyum. Ia tak sabar menanti matahari terbit dan bermain bersama Tongky.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>[Antologi Dongeng/Cerita Anak bertema Media Literasi, coming soon!!!].</strong></p>
<div style="text-align:justify;"><strong><br />
</strong></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/catastrovaprima.wordpress.com/816/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/catastrovaprima.wordpress.com/816/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/catastrovaprima.wordpress.com/816/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/catastrovaprima.wordpress.com/816/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/catastrovaprima.wordpress.com/816/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/catastrovaprima.wordpress.com/816/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/catastrovaprima.wordpress.com/816/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/catastrovaprima.wordpress.com/816/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/catastrovaprima.wordpress.com/816/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/catastrovaprima.wordpress.com/816/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/catastrovaprima.wordpress.com/816/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/catastrovaprima.wordpress.com/816/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/catastrovaprima.wordpress.com/816/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/catastrovaprima.wordpress.com/816/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catastrovaprima.wordpress.com&amp;blog=4807601&amp;post=816&amp;subd=catastrovaprima&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catastrovaprima.wordpress.com/2011/10/12/tongky-dimakan-televisi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3b4bb3fa090c5be033df6e7b6448fcad?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">catastrovaprima</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Di Suatu Pesta</title>
		<link>http://catastrovaprima.wordpress.com/2011/08/02/di-suatu-pesta/</link>
		<comments>http://catastrovaprima.wordpress.com/2011/08/02/di-suatu-pesta/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Aug 2011 05:50:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>catastrovaprima</dc:creator>
				<category><![CDATA[entahlah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catastrovaprima.wordpress.com/?p=798</guid>
		<description><![CDATA[Entah kenapa segala gerak geriknya yang spontan dan menyulut tawa mengingatkanku padamu. Denganku, dia sangat berhati-hati bila berbicara, seolah-olah takut hatiku terkoyak oleh ucapannya. Padahal tidak juga. Aku justru terhibur dengan semua yang keluar dari bibirnya, baik serius atau bercanda. Ada semacam medan magnet yang terus menarikku hingga aku tersedot dalam kubangan waktu bertajuk pesona. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catastrovaprima.wordpress.com&amp;blog=4807601&amp;post=798&amp;subd=catastrovaprima&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Entah kenapa segala gerak geriknya yang spontan dan menyulut tawa mengingatkanku padamu. Denganku, dia sangat berhati-hati bila berbicara, seolah-olah takut hatiku terkoyak oleh ucapannya. Padahal tidak juga. Aku justru terhibur dengan semua yang keluar dari bibirnya, baik serius atau bercanda. Ada semacam medan magnet yang terus menarikku hingga aku tersedot dalam kubangan waktu bertajuk pesona. Entahlah, tapi itu tak penting buatku.<span id="more-798"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Aku hanya sedang merasa senang dengan kehadirannya dalam acara yang tak resmi ini. Rasanya seperti sedang bersamamu dalam sosok yang lain. Tapi, aku memilih tidak terlalu sering berinteraksi. Menuntaskan penasaran kadang-kadang membuat kita kecewa. Selain itu, menurutku, terlalu cepat mengetahui sesuatu yang lambat laun akan kita ketahui juga, agaknya kurang bijaksana karena akan memperpendek proses petualangan. Lebih baik membiarkan semua mengalir pada jalannya seperti sungai yang menemukan muara dengan sendirinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kedua mataku menerobos remang tajam yang memenuhi ruangan bergaya minimalis ini. Diiringi tiupan terompet Miles Davis, kurasa memang tak ada pencahayaan yang lebih bagus dari pendaran lampu warna kuning dan biru yang kini menyentuh kulitnya dengan lembut. Setahuku umurnya belum 30, dia bekerja di sebuah perusahaan swasta yang membuat siklus hidupnya kacau, dan dia punya kekasih. Itu saja. Aku tak tahu apa makanan kesukaannya, aku tak tahu warna yang dia suka, dan aku tak tahu apa-apa tentangnya selain tiga hal yang kusebutkan barusan. Untuk hal pertama dan kedua, aku mengetahuinya dari percakapan kami beberapa waktu lalu. Sedang untuk hal ketiga, kurasa semua orang tahu bagaimana dia memperlakukan kekasihnya seolah-olah hanya ada satu wanita di dunia ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekali lagi aku senang melihatnya dan sedikit iri pada kekasihnya yang manja. Perempuan bertubuh portable itu tiba-tiba saja sudah menempel di punggungnya seperti monyet, memeluknya sebentar, turun lalu pergi sebelum pesta usai. Wajahnya tidak terlalu cantik memang, tapi cukup atraktif dan pandai mencuri perhatian banyak orang. Perempuan itu seperti ditakdirkan menjadi pusat perhatian. Tapi, itu tidak penting. Aku hanya ingin berziarah pada harapan yang sudah kukubur. Dadaku berdesir mengingatmu sembari memandangnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Masih, desiran ini rupanya cukup mengganggu. Bahkan satu tegukan bir dingin tak mampu mengusir gugup. Sebaliknya, malahan aku tak hanya gugup tapi juga menjadi teramat sentimentil padamu. Mendadak, mataku berkaca tipis. Inilah kelemahan perempuan, mudah sekali mendramatisir sesuatu yang berhubungan dengan memanjakan hati. Entah kenapa hatiku begitu muram, bahkan lebih muram dari cardigan hitam yang membungkus tubuhku. Padahal seharusnya aku senang karena hari ini salah satu dari teman kami berulang tahun dan ini berarti perayaan asupan gizi.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi, aku kecewa sedemikian rupa karena semuanya tak lagi sama seperti tahun-tahun yang lalu. Sepanjang musim ini hatiku bahkan telah merumah padamu. Aku sudah lelah dan ingin merebah. Tapi, hening yang kamu buat menyiksaku dan aku tak tahu bagaimana mengakhirinya selain menunggu malam menua dan jatuh terkulai karena lelah.<br />
“Hei,” Dia duduk membungkuk di sebelahku seraya membuang asap rokok dari mulut dan hidung. “aku ingin dibaca” bisiknya sambil tertawa kecil.<br />
“Apa zodiakmu?”<br />
“&#8230;.” ucapnya.<br />
“Boleh aku duduk di sebelahmu selama 15 menit?”<br />
Dia menoleh dengan dahi mengkerut. Pun demikian, ada senyum tersungging dan tatapan jenaka penuh tanda tanya—maksud loh—yang membuatku puas.<br />
“Baiklah..”</p>
<p style="text-align:justify;">Sekat antara kami melebur. Jeda kosong yang hanya sejengkal itu akhirnya ditutup dengan percakapan singkat.<br />
“Kamu sedang bersedih” gumamku.<br />
“Hem..” Dia mengangguk-anggukkan kepala, menoleh ke arahku sebentar, lalu melambaikan tangan ke arah pintu karena ada teman kami yang baru saja datang.<br />
“Kamu sedang terjebak dalam jenuh” lanjutku.<br />
“Sangat.. Ya, sangat jenuh dengan banyak hal. Tapi, kutatap wajar semampuku. Bukankah itu hidup?”<br />
“Entahlah”</p>
<p style="text-align:justify;">Malam telah pekat. Musik disetel keras dan sebagian orang dalam ruangan ini menyatu dengan permainan  Nina Simone yang elegan.<br />
“Boleh kuminta bayaranku?” tanyaku.<br />
Sekali lagi keningnya ditekuk. Kulirik orang-orang yang sedang menari dengan wajah penuh tawa. Dia mengikuti kemana mataku tertambat dan dengan sigap ditariknya aku ke tengah, menyusup di antara kerumunan, lalu aku berputar. Kami berputar dan terus berputar.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Hallo happiness, tell me where you’ve been<br />
I miss the sound of your voice<br />
I miss the touch of your skin.. [Difference In Me]</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/catastrovaprima.wordpress.com/798/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/catastrovaprima.wordpress.com/798/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/catastrovaprima.wordpress.com/798/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/catastrovaprima.wordpress.com/798/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/catastrovaprima.wordpress.com/798/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/catastrovaprima.wordpress.com/798/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/catastrovaprima.wordpress.com/798/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/catastrovaprima.wordpress.com/798/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/catastrovaprima.wordpress.com/798/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/catastrovaprima.wordpress.com/798/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/catastrovaprima.wordpress.com/798/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/catastrovaprima.wordpress.com/798/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/catastrovaprima.wordpress.com/798/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/catastrovaprima.wordpress.com/798/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catastrovaprima.wordpress.com&amp;blog=4807601&amp;post=798&amp;subd=catastrovaprima&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catastrovaprima.wordpress.com/2011/08/02/di-suatu-pesta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3b4bb3fa090c5be033df6e7b6448fcad?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">catastrovaprima</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pulang Selepas Hujan</title>
		<link>http://catastrovaprima.wordpress.com/2011/06/28/pulang-selepas-hujan/</link>
		<comments>http://catastrovaprima.wordpress.com/2011/06/28/pulang-selepas-hujan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Jun 2011 10:51:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>catastrovaprima</dc:creator>
				<category><![CDATA[inspirasi liar]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[rumah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catastrovaprima.wordpress.com/?p=790</guid>
		<description><![CDATA[If everything has been written, so why worry.. Damar. Pesanmu selalu datang tiba-tiba dan nostalgia yang kamu bawa dalam tiap kata selalu saja berujung sedih. Kadang aku benci denganmu yang tak pernah mau beranjak dari dilema. Tapi itu kadang, bila pikiranku sedang semrawut. Seringnya, aku membiarkan semua yang kita pilih berjalan pada alurnya masing-masing. Bagaimanapun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catastrovaprima.wordpress.com&amp;blog=4807601&amp;post=790&amp;subd=catastrovaprima&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><em>If everything has been written, so why worry..</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Damar.</strong><br />
Pesanmu selalu datang tiba-tiba dan nostalgia yang kamu bawa dalam tiap kata selalu saja berujung sedih. Kadang aku benci denganmu yang tak pernah mau beranjak dari dilema. Tapi itu kadang, bila pikiranku sedang semrawut. Seringnya, aku membiarkan semua yang kita pilih berjalan pada alurnya masing-masing. Bagaimanapun juga konsisten terhadap pilihan itu penting buatku. Itulah kenapa kadang aku membencimu, karena kamu tidak pernah konsisten dengan pilihanmu. Kamu selalu mengajakku menepi di batas ketidakmungkinan lalu melarung sedih begitu saja. Asal kau tahu, aku tidak terbiasa bersedih dan kamu terlalu sering mengajariku bersedih. Ironisnya, aku mau bersedih demi kamu.<span id="more-790"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Kenyataan nyaris membuatku menyerah. Aku tidak punya banyak pilihan kecuali menunggu meski akulah yang sebenarnya kamu inginkan. Akulah yang kamu butuhkan. Tapi, pada kenyataannya aku tidak berarti apa-apa untukmu. Kamu tidak pernah memilih aku. Kamu memilih yang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan, lagi-lagi kamu hanya datang ketika hatimu membiru tergores sepi. Kamu mengajakku untuk mengenang mimpi-mimpi kita yang rapuh. Tapi rasa itu selalu menyambutmu dengan hangat layaknya tempat berteduh. Sepimu akan bermuara di sana hingga birunya pudar. Lalu kau akan pulang ke hati yang lain. Ya, kau akan pulang ke hati yang lain.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Damar, </em><br />
<em>Semalam aku mimpi. Disana, aku melihatmu. Hanya melihatmu dari tempat yang begitu jauh. Kakiku tak bisa bergerak, padahal aku ingin sekali menghampirimu. Kamu benar-benar tak bisa kujangkau. Sungguh, aku tidak ingin kehilangan kamu.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Aku tak bisa berkata apa-apa. Ini seperti pertanda bahwa semua harus diakhiri. Mungkin kita telah sampai pada pemberhentian. Seperti yang selalu kamu bilang padaku; takdir.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Noi.</strong><br />
Aku terbangun tengah malam dengan perasaan sedih. Mimpi itu seperti nyata ketika kusadari ada sebutir air mata meleleh dari sudut mataku. Kenapa ada kamu disana, Damar? Kenapa kamu begitu jauh? Kenapa tanganku ini tak mampu meraihmu?</p>
<p style="text-align:justify;">Kujejak lantai kamarku yang dingin, mengambil segelas air di meja, duduk di tepi kasur, lalu meraih ponsel di meja. Ada satu pesan dari Damar.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Aku tiba-tiba rindu kamu <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Tidak kubalas. Lamat-lamat kudengar di luar hujan merintik pedih.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Damar.</strong><br />
Aku tidak pernah takut perpisahan, Noi. Sekalipun itu denganmu karena keyakinan akan menemukan jalannya sendiri. Begitu pula dengan keyakinanku. Semoga selalu bahagia, hanya itu yang bisa kutasbihkan untukmu.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Noi.</strong><br />
<strong>Beberapa tahun kemudian.</strong><br />
Sore itu, kutuntun langkah ke tempat dimana kamu sering menyepi. Kata ibumu, hampir setiap sore kamu pergi kesana dan baru pulang menjelang maghrib. Aku yang baru saja datang akhirnya memilih mengabaikan lelah demi melihatmu. Untung adikmu memberiku tumpangan menuju tempat yang letaknya agak jauh dari perkotaan itu.<br />
“Mas Damar nggak dikabari kalau Mbak Noi mau kesini?” tanya adikmu.<br />
“Tidak” Aku tersenyum.<br />
“Dia pasti kaget” Adikmu menyetir sambil senyum-senyum sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Perjalanan memakan waktu 15 menit. Kami berhenti di halaman sebuah rumah yang terbuat dari kayu. Adikmu bilang bahwa ini rumah nenek kalian yang ditempati beberapa sanak keluarga. Sejak nenekmu meninggal otomatis rumah ini sepi. Daripada tak berpenghuni, ibumu akhirnya meminta sanak keluarganya menempati bangunan yang teduh ini.<br />
“Mas Damar mana, Om?” tanya adikmu pada pria bercaping yang sedang memberi makan sapi.<br />
“Damar di kebun” ujar pria itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Adikmu memintaku tinggal. Katanya, jarak rumah dan kebun cukup jauh meski warga setempat sering bilang jaraknya dekat. Jadi, kami sepakat dia yang akan memanggilmu pulang. Sedang aku duduk di teras rumah nenekmu yang nyaman. Sepupumu yang kebetulan ada di rumah menjamuku dengan secangkir teh dan mengajakku bercakap-cakap sampai akhirnya kamu keluar dari balik pintu.<br />
“Halo, Nona” sapamu dengan senyum mengembang.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Damar.</strong><br />
“Aku kesini untuk pulang, bukan datang” kata Noi dengan senyuman dan mata berkaca-kaca. “huaaa, Damarrr, aku mau dipelukkk.. Dipeluk sajaa”<br />
Aku tertawa kecil dan untuk pertama kalinya kupeluk tubuh Noi. Semoga kamu tak pernah lagi datang ke hati yang lain, doaku.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/catastrovaprima.wordpress.com/790/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/catastrovaprima.wordpress.com/790/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/catastrovaprima.wordpress.com/790/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/catastrovaprima.wordpress.com/790/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/catastrovaprima.wordpress.com/790/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/catastrovaprima.wordpress.com/790/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/catastrovaprima.wordpress.com/790/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/catastrovaprima.wordpress.com/790/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/catastrovaprima.wordpress.com/790/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/catastrovaprima.wordpress.com/790/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/catastrovaprima.wordpress.com/790/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/catastrovaprima.wordpress.com/790/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/catastrovaprima.wordpress.com/790/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/catastrovaprima.wordpress.com/790/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catastrovaprima.wordpress.com&amp;blog=4807601&amp;post=790&amp;subd=catastrovaprima&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catastrovaprima.wordpress.com/2011/06/28/pulang-selepas-hujan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3b4bb3fa090c5be033df6e7b6448fcad?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">catastrovaprima</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Suburban Love</title>
		<link>http://catastrovaprima.wordpress.com/2011/06/09/suburban-love/</link>
		<comments>http://catastrovaprima.wordpress.com/2011/06/09/suburban-love/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Jun 2011 08:51:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>catastrovaprima</dc:creator>
				<category><![CDATA[inspirasi liar]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[lipstik lipsing]]></category>
		<category><![CDATA[suburban love]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catastrovaprima.wordpress.com/?p=783</guid>
		<description><![CDATA[Listen to me just this one, you should know It won’t take much time, it’s all in my mind I’ve got so many things to say Langit-langit kamarku lama-lama kian redup. Bisa jadi ini efek dari obat flu yang membikin aku mengantuk. Ah, malas sekali aku bersinggungan dengan flu. Dan mendadak, aku melihat wajahmu ada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catastrovaprima.wordpress.com&amp;blog=4807601&amp;post=783&amp;subd=catastrovaprima&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://catastrovaprima.files.wordpress.com/2011/06/pcb00296.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-788" title="PCB00296" src="http://catastrovaprima.files.wordpress.com/2011/06/pcb00296.jpg?w=450" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Listen to me just this one, you should know</em><br />
<em>It won’t take much time, it’s all in my mind</em><br />
<em>I’ve got so many things to say</em></p>
<p style="text-align:justify;">Langit-langit kamarku lama-lama kian redup. Bisa jadi ini efek dari obat flu yang membikin aku mengantuk. Ah, malas sekali aku bersinggungan dengan flu. Dan mendadak, aku melihat wajahmu ada dimana-mana dengan senyum merekah. Aduh, ada apa ini? Aku menutup wajahku dengan bantal berharap setelah ini wajahmu tak lagi memenuhi kamarku. Terlalu banyak yang kupikirkan dan ingin kukatakan padamu, tapi aku tidak tahu dimana aku bisa menemukanmu. Kamu tak pernah beralamat. Sama sekali. Bahkan ketika kuminta alamat rumahmu, kamu bilang “Rumahku ada di balik awan, Darling.. Kamu harus naik karpet milik Aladin kalau ingin ke rumahku”<span id="more-783"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><em>I don’t know where you come from, what you made from</em><br />
<em>Something whisper me so good, how could you</em><br />
<em>Send me a pack of lies</em></p>
<p style="text-align:justify;">Paginya, saat aku pergi ke klinik yang letaknya tak jauh dari kontrakanku, kamu datang. Membawa rantang berisi makanan-makanan kesukaanku lengkap dengan buah-buahan dan secarik surat yang kamu selipkan di sisi rantang. Sepulang dari klinik, aku kaget, kamarku penuh bau parfummu. Kudapati rantangmu berdiri tegak di dekat komputer, tapi tidak kudapatii tubuhmu yang ingin sekali kupeluk biar flu ini cepat pergi dari tubuhku karena cemburu.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Sayang, cepat sembuh ya. Aku tidak suka kamu sakit.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Inilah yang tidak kumengerti, darimana dia tahu aku sedang sakit. Selalu begitu. Kadang-kadang, kupikir dia bukan manusia karena dia selalu tahu apa yang kukerjakan. Tapi, aku bisa memeluknya, aku bisa mengecup bibirnya yang basah dan selalu berbau stroberi. Jadi asumsiku salah besar. Dia manusia. Perempuan paling cantik yang pernah ada dalam hidupku. Perempuan asing yang membuatku tergila-gila. Senja namanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dia membuatku hidup kembali disela keterpurukan yang sempat kucicipi sekilas. Ada banyak yang berubah dalam hidupku sejak kedatangannya. Karena kupikir cinta adalah energi terdahsyat yang ada di muka bumi ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>We could make it simple</em><br />
<em>Why you always set me in trouble</em><br />
<em>I’ve never been so sure, my feeling lack to show</em><br />
<em>But you don’t even care I know</em></p>
<p style="text-align:justify;">Setelah aku sembuh dari flu keparat itu, dia tiba-tiba datang. Aku sedang memetik gitar di kamar ketika dia berdiri di pintu dengan jeans dan kaos stripnya. Kakinya yang jenjang berdiri sejajar. Senyumnya lagi-lagi merekah seperti anak kecil. Dinda-nya Kla Poject tak kulanjutkan.<br />
“Sudah sembuh, Darling?” Dia bertanya sambil menurunkan tasnya dari bahu. Masih belum beranjak dari pintu.<br />
“Sudah” jawabku. “masuklah, tidak ada virus disini”<br />
Dia tergelak lalu menghujaniku dengan ciuman. Ah, sudah lama aku tidak mencium aroma stroberi dari bibirnya yang basah. Tubuhnya makin kurus saja. Rasanya pelukanku dulu penuh, tapi kali ini seperti ada rongga tersisa.<br />
“Kamu kurusan”<br />
“Aku harus diet”<br />
“Kenapa harus?”<br />
“Biar pakaianku muat”<br />
Tanpa kusadari, seseorang telah berdiri di pintu saat kami sibuk melepas rindu. Sesuatu terjatuh, dan kami menoleh bersamaan. Miranda berdiri dengan air mata mengalir lalu berlari ketika kami menoleh bersamaan. Aku meninggalkan kamar, mengejar Miranda tapi perempuan itu lebih dulu kabur dengan mobilnya sebelum kucegah.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika aku kembali, Senja sedang berbicara dengan ponselku.<br />
“Iya, aku pacarnya Gema. Memangnya kenapa? Nggak suka?”<br />
Langsung kurebut ponselku.<br />
“Senja, kumohon jangan membuat masalah”<br />
“Habis cewek itu rese sih”<br />
Senja cemberut.<br />
“Tapi, kamu kan tidak harus bohong. Kita tidak pernah pacaran”<br />
Senja menatapku marah. Matanya berkaca-kaca, siap-siap dia mengambil tasnya, dan hendak pergi. Aduh, kenapa perempuan selalu bertindak tanpa berpikir? Kalau sudah begini, pasti air mata jadi senjata paling ampuh. Sebelum dia meninggalkan kamarku, kuraih tangannya.<br />
“Maaf, maaf.. Maafkan aku, Senja” ucapku penuh sesal.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>You can fill your eyes with tears</em><br />
<em>Wreath your face with smile</em><br />
<em>Somehow I can’t deny</em><br />
<em>But, I’m trying to let you go</em></p>
<p style="text-align:justify;">Lama dia tidak pernah datang lagi sejak pertengkaran itu. Pun tak ada pesan yang mendarat di ponselku. Aku sekarat karena menahan rindu dan aku tak tahu kemana harus mencarinya. Pesan-pesanku tak pernah berbalas. Panggilanku tak pernah dia terima, terkadang langsung dialihkan ke nomor lain. Aku benar-benar tak tahu bagaimana memperbaiki semuanya. Senja seperti sedang menghukumku.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>If this is your game</em><br />
<em>You’re the only one who makes the rules</em><br />
<em>I’ve tried to play this one</em><br />
<em>If this is your game</em><br />
<em>But you never let me find the rules</em><br />
<em>I’m tired to play this one</em><br />
<em>And I loose myself for nothing</em></p>
<p style="text-align:justify;">“Sudah dapat undangan? Senja menikah hari Minggu besok, dengan tunangannya” Temanku tiba-tiba masuk kamar. “salut sama mereka, dijodohkan sejak Senja SMA lho, sampai sekarang, awet banget ya”<br />
Aku lemas.</p>
<p style="text-align:justify;">Keesokan harinya, sepulang kerja, kudapati kamarku penuh dengan bau parfum yang kukenal. Senja datang. Sebuah undangan tergeletak di kasurku. Dan sebuah surat bersampul ungu muda.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Aku tidak pernah jatuh cinta sebelum ini.</em><br />
<em>Seumur hidup, aku jatuh cinta sekali</em><br />
<em>Padamu..</em><br />
<em>Tapi, ternyata hidup tak sebebas yang kukira.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Senja</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>I wonder if you know</em><br />
<em>Suddenly you changed my mind</em><br />
<em>I wonder why you go</em><br />
<em>I can’t believe what we’ve become now</em><br />
<em>I wonder if you know</em><br />
<em>Suddenly you make me drown</em><br />
<em>I wonder why you go</em><br />
<em>I’ve only got myself to blame</em></p>
<p style="text-align:justify;">Dia benar-benar perempuan tercantik yang pernah kulihat. Mungkin benar dia tinggal di balik awan, karena perempuan yang tinggal di bumi tak pernah ada yang seperti dia. Gaun putih itu membalut tubuhnya yang kurus dengan sempurna. Senyumnya merekah setiap menjabat tamu-tamu yang sudah berbaris dengan rapi. Sedang aku hanya berdiri di dekat meja soft drink, meneguk minuman warna-warni itu sambil memandangi Senja yang tak sadar dengan kehadiranku.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>*Suburban Love &#8211; Lipstik Lipsing</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/catastrovaprima.wordpress.com/783/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/catastrovaprima.wordpress.com/783/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/catastrovaprima.wordpress.com/783/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/catastrovaprima.wordpress.com/783/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/catastrovaprima.wordpress.com/783/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/catastrovaprima.wordpress.com/783/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/catastrovaprima.wordpress.com/783/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/catastrovaprima.wordpress.com/783/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/catastrovaprima.wordpress.com/783/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/catastrovaprima.wordpress.com/783/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/catastrovaprima.wordpress.com/783/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/catastrovaprima.wordpress.com/783/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/catastrovaprima.wordpress.com/783/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/catastrovaprima.wordpress.com/783/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catastrovaprima.wordpress.com&amp;blog=4807601&amp;post=783&amp;subd=catastrovaprima&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catastrovaprima.wordpress.com/2011/06/09/suburban-love/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3b4bb3fa090c5be033df6e7b6448fcad?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">catastrovaprima</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://catastrovaprima.files.wordpress.com/2011/06/pcb00296.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">PCB00296</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sofis</title>
		<link>http://catastrovaprima.wordpress.com/2011/02/19/sofis/</link>
		<comments>http://catastrovaprima.wordpress.com/2011/02/19/sofis/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Feb 2011 03:15:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>catastrovaprima</dc:creator>
				<category><![CDATA[inspirasi liar]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catastrovaprima.wordpress.com/?p=770</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah taksi berhenti tepat di depan sebuah rumah yang diapit sebuah bistro dan persewaan sepeda. Dua orang perempuan turun dengan terhuyung-huyung. Yang satu membuka gerbang dengan tangan tremor, yang satu lagi membanting pintu taksi dengan sedikit kasar sembari bergumam tidak jelas lalu keduanya tertawa sambil berangkulan masuk rumah. Taksi pun berlalu menjemput penumpang yang lain. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catastrovaprima.wordpress.com&amp;blog=4807601&amp;post=770&amp;subd=catastrovaprima&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://catastrovaprima.files.wordpress.com/2011/02/pca00538.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-771" src="http://catastrovaprima.files.wordpress.com/2011/02/pca00538.jpg?w=300&#038;h=240" alt="" width="300" height="240" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Sebuah taksi berhenti tepat di depan sebuah rumah yang diapit sebuah bistro dan persewaan sepeda. Dua orang perempuan turun dengan terhuyung-huyung. Yang satu membuka gerbang dengan tangan tremor, yang satu lagi membanting pintu taksi dengan sedikit kasar sembari bergumam tidak jelas lalu keduanya tertawa sambil berangkulan masuk rumah. Taksi pun berlalu menjemput penumpang yang lain. Sedang pintu rumah dibiarkan terbuka hingga suara berisik dari dalam menarik perhatian pria tengah baya yang sedang menggembala anjing. Pria itu sempat berhenti, menoleh ke arah pintu, lalu geleng-geleng kepala, dan melanjutkan perjalanannya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-770"></span><br />
“Oh, begitu susahnya berbahagia ala Kaum Sofis” Si Perempuan tremor menggapai-gapai botol saus tomat di rak dapur.<br />
Perempuan jangkung yang masih mengenakan <em>wig</em> warna pirang menggapainya lebih dulu dan meletakkan botol saus tomat di meja makan. Setelah itu dia duduk di sisi meja makan, menyulut rokoknya, menuangkan saus tomat diatas kentang gorengnya yang masih panas, dan menyeruput kopinya.<br />
“Karena kita tidak terlalu pandai dan tidak terlalu bodoh” ujarnya lalu tertawa.<br />
“Masa’ sih?” Perempuan tremor mengambil sisa kentang goreng di wajan dengan tangan gemetaran lalu membawanya ke meja. Dia sama sekali tidak menuang saos tomat tapi memarut keju di atas kentangnya.<br />
“Ya ampun, Nicholas sombong sekali semalam, dia pamer rekening dan dua istrinya yang rukun” Si Perempuan Jangkung melepas <em>wig</em>-nya. “bisnisnya menghasilkan milyaran dalam waktu beberapa bulan saja”<br />
“Ah.. Ya, ya, ya.. Aku juga dengar, sayangnya aku sudah terlalu mabuk, jadi tidak bisa beradu mulut” Perempuan tremor tertawa, lalu ke berjalan menuju wastafel untuk mencuci wajahnya “lihat saja, sebentar lagi dia akan meniru jejak Tolstoy, bertanya pada dirinya sendiri mengapa dia melakukan itu semua, untuk apa semua itu menghabiskan semua waktunya, mengapa dan untuk apa, lalu dia akan bunuh diri karena depresi”<br />
“Sayang sekali, dia gagal memperistri kita ya” Si Jangkung memberesi piring kotor di meja makan.<br />
“Ah, mana sudi aku” teriak perempuan tremor dari wastafel.</p>
<p style="text-align:justify;">Perempuan jangkung meninggalkan ruang makan sambil tertawa. Dia masuk kamarnya, menuju kamar mandi, menghidupkan kran, mandi, dan keluar dengan handuk membelit rambutnya yang panjang sepunggung.<br />
“Hari ini aku pulang agak malam, harus home visit ke rumah klien baru. <em>Asperger Syndrome</em>” kata Si Jangkung. “jangan lupa beri makan ikan-ikanku”<br />
“Tentu. Hari ini aku ke pasar, memberi makan ikan-ikanmu lalu ke pasar lagi. Menulis tentang pasar tidak mudah ternyata” ujar Si Perempuan Tremor.<br />
“Ah, aku tahu kamu lebih ahli dari penulis-penulis yang bukunya di obral lima ribuan di toko buku” Si Jangkung meraih tas cangklongnya setelah mengikat rambut sekenanya, lalu berangkat ke pusat terapi anak-anak berkebutuhan khusus.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Dua bulan kemudian,</strong><br />
“..Nicholas Danujaya, ditemukan Minggu sore (15/12) dalam kondisi tergeletak dengan tubuh yang hancur di lapangan tenis apartemen. Dia diduga kuat baru saja bunuh diri dengan cara terjun dari lantai tujuh apartemen Bukit Merpati..” Si Jangkung membaca isi berita utama surat kabar pagi ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Si Tremor yang sedang mengetik di dekat jendela meninggalkan pekerjaannya. Dia merampas koran dari tangan Si Jangkung lalu dibacanya dengan seksama. Setelah itu keduanya berpandangan.<br />
“Kamu indigo!” tuding Si Jangkung lalau tertawa.<br />
Si Tremor kembali ke menekuni pekerjaannya. Dia kembali mengetik.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>..Kami sedang duduk berdua di loteng, menyaksikan sore tanggal sambil menggenggam gelas kopi kami masing-masing. Ada sebuah kebahagiaan kecil yang patut kami rayakan. Sebuah kematian. Ya, pria yang pernah menghina kami itu akhirnya menjemput mautnya sendiri dengan gagah berani. Tamat..</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Published.</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/catastrovaprima.wordpress.com/770/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/catastrovaprima.wordpress.com/770/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/catastrovaprima.wordpress.com/770/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/catastrovaprima.wordpress.com/770/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/catastrovaprima.wordpress.com/770/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/catastrovaprima.wordpress.com/770/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/catastrovaprima.wordpress.com/770/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/catastrovaprima.wordpress.com/770/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/catastrovaprima.wordpress.com/770/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/catastrovaprima.wordpress.com/770/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/catastrovaprima.wordpress.com/770/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/catastrovaprima.wordpress.com/770/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/catastrovaprima.wordpress.com/770/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/catastrovaprima.wordpress.com/770/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catastrovaprima.wordpress.com&amp;blog=4807601&amp;post=770&amp;subd=catastrovaprima&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catastrovaprima.wordpress.com/2011/02/19/sofis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3b4bb3fa090c5be033df6e7b6448fcad?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">catastrovaprima</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://catastrovaprima.files.wordpress.com/2011/02/pca00538.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
